Tak Cuma Genetik, Berikut Faktor Lain Penentu Keragaman Tinggi Badan

Yasinta Rahmawati, Rosiana Chozanah

Senin, 24 Mei 2021 | 13:48 WIB
Tak Cuma Genetik, Berikut Faktor Lain Penentu Keragaman Tinggi Badan
Ilustrasi tinggi badan anak ( Shutterstock)

Suara.com - Orang-orang memiliki tinggi badan yang beragam. Beberapa dari mereka bertubuh pendek, sedangkan yang lain bisa lebih tinggi dari 180 cm.

Selama ini, peneliti hanya menemukan faktor utama dalam keberagaman tinggi badan ini adalah genetik. Tetapi, peneliti menemukan faktor lainnya, yakni kecukupan gizi dan penyakit parah yang diderita selama masa kanak-kanak.

Berdasarkan studi baru, dilansir Live Science, kekurangan gizi dan penyakit parah yang diderita selama masa kanak-anak dapat mencegah anak tersebut mencapai potensi tinggi badan secara genetik. Masalah ini juga dapat memengaruhi perubahan rata-rata tinggi badan masyarakat di seluruh negara.

Misalnya, peningkatan gizi di Korea Selatan membuat negara tersebut naik ke posisi 60 pada 2019 (dari peringkat ke-133 pada 1985) dalam hal rata-rata tinggi badan masyarakatnya.

"Di Korea Selatan dan Republik Rakyat China, secara luas dipahami peningkatan tinggi badan selama satu hingga dua generasi terakhir sebagian besar disebabkan oleh peningkatan gizi," kata Stephen Hsu, profesor matematika komputasi, sains dan teknik di Michigan State University.

Ilustrasi tinggi badan seseorang. [Shutterstock]
Ilustrasi tinggi badan seseorang. [Shutterstock]

Hsu mengatakan, asupan nutrisi yang banyak dikonsumsi masyarakat selama waktu tersebut adalah protein, kalsium, dan kalori total.

Ada hipotesis lain bahwa kualitas gizi sesecorang menurun akibat meningkatkan konsumsi makanan cepat saji (fast food) serta minuman bersoda.

Gizi buruk bukan satu-satunya faktor, penyakit serius tertentu selama masa kanak-kanak juga bisa menghambat pertumbuhan. Misalnya penyakit celiac, penyakit tulang seperti rakhitis dan osteoporosis remaja, dan anemia.

Dalam studi 2018 yang terbit dalam jurnal Genetics, mutasi genetik dan ketidakseimbangan hormon juga dikaitkan dengan perawakan pendek, termasuk dwarfisme, suatu kondisi di mana seseorang memiliki tinggi 147 cm atau kurang.

baca juga

Meski pola makan tidak sehat dan penyakit serius di masa kanak-kanak dapat menyebabkan perawakan yang lebih pendek, penelitian menunjukkan bahwa kode genetik jauh lebih berpengaruh.

"Tampaknya genetika sangat menentukan tinggi badan orang dewasa," pungkas Hsu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bagikan Potret Bareng Pacarnya, Tinggi Badan Elkan Baggott Jadi Sorotan

Bagikan Potret Bareng Pacarnya, Tinggi Badan Elkan Baggott Jadi Sorotan

Bola | Jum'at, 21 Mei 2021 | 21:19 WIB

Jangan Pesimis, Ini 5 Tips Menambah Tinggi Badan setelah Usia 18 Tahun

Jangan Pesimis, Ini 5 Tips Menambah Tinggi Badan setelah Usia 18 Tahun

Kalbar | Minggu, 28 Maret 2021 | 11:29 WIB

Bisakah Menambah Tinggi Badan setelah Usia 18 Tahun? Begini 5 Caranya!

Bisakah Menambah Tinggi Badan setelah Usia 18 Tahun? Begini 5 Caranya!

Health | Kamis, 25 Maret 2021 | 08:00 WIB

Terkini

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:35 WIB

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:10 WIB

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:54 WIB

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:06 WIB

Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:00 WIB

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 15:05 WIB

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:18 WIB

×