Benarkah Masyarakat Masih Kurang Edukasi Soal Covid-19? Ini Kata Pakar

Bimo Aria Fundrika | Lilis Varwati | Suara.com

Rabu, 23 Juni 2021 | 13:09 WIB
Benarkah Masyarakat Masih Kurang Edukasi Soal Covid-19? Ini Kata Pakar
Ilustrasi Covid-19. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Suara.com - Berbagai kampanye mengenai cara pencegahan paparan Covid-19 hingga proses pengobatannya jika terinfeksi telah dilakukan pemerintah lewat berbagai media dan platform.

Akan tetapi, upaya itu akan percuma jika tidak diikuti dengan perilaku masyarakat. Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Hermawan Saputra mengatakan, masyarakat belum seluruhnya satu paham dalam pelaksanaan protokol kesehatan yang telah digaungkan sejak awal pandemi. 

"Sebagian besar dari kita belum satu pemahaman kalau cara terbaik untuk memutus mata rantai virus ini adalah mencegah penularan. Cara terbaik mencegah penularan adalah mencegah agar tidak terjadi kerumunan. Caranya membatasi mobilitas, menjaga jarak, dan kalau terpaksa harus ke ruang publik maka menggunakan masker adalah cara perlindungan," papar Hermawan dalam dialog produktif Satgas Covid-19, Selasa (22/6/2021).

Ilustrasi Covid-19. (Elements Envato)
Ilustrasi Covid-19. (Elements Envato)

Sejak awal kampanye pencegahan Covid-19 yang digalakkan pemerintah merupakan gerakan 3M berupa memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Menurut Hermawan, jika pemerintah mau lebih sistematis seharusnya yang lebih dulu digabungkan ke masyarakat merupakan imbauan untuk menjauhi kerumunan.

"Karena bagaimanapun menghindari kerumunan otomatis menjauhkan transmisi. Cara menghindari kerumunan adalah menjaga jarak. Kalau terpaksa harus ada di ruang publik sebenarnya dengan menjaga jarak sudah relatif pada level keamanan," ucapnya.

Jika masyarakat tidak bisa membatasi mobilitas aktivitasnya dan terpaksa ada di ruang publik, barulah prokes 3M harus dijalankan sebagai tindakan personal awareness, lanjut Hermawan. 

Belajar dari peristiwa tsunami Covid yang terjadi di India dua bulan lalu, menurut Hermawan, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki kemiripan dengan India. Kerumunan yang sempat terjadi di India akibat aktivitas keagamaan, sosial, dan politik jadi salah satu pemicu tsunami Covid ketika itu. 

Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Lonjakan kasus positif Covid yang terjadi pada periode Januari lalu disebut akibat peegerakan masyarakat yang meningkat selama perayaan Natal dan Tahun Baru. Begitu pula dengan yang terjadi hari ini.

"Karena kita juga ada suasana lebaran dan setelahnya. Oleh karena itu peristiwa ini memang seharusnya menjadi konsen kita, ada kejenuhan, di satu sisi tapi ada peristiwa sosial budaya dan keagamaan yang memicu," imbuh Hermawan.

Karenanya, ia mengingatkan agar pemerintah juga masyarakat sama-sama belajar dari tsunami Covid yang terjadi di India. Hermawan menyampaikan bahwa perlu konsistensi dari penerapan kebijakan dan imbauan perilaku.

Peran pemerintah yang terpenting juga untuk mengoptimalkan testing, tracing, dan treatment. Secara paralel juga, masyarakat bertugas diaiplin terapkan prokes 5M. 

"Kalau ini berpadu dan kita lakukan sejak awal secara disiplin, sebetulnya bisa mengendalikan virus itu secara cepat. Vaksin sebenarnya solusi tambahan. Vaksin adalah harapan tetapi dalam pengendalian covid, bukanlah segala-galanya. Jadi perilaku yang menjadi andalan kita, karena negara kita bukan produsen utama vaksin," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Benarkah Work From Bali Biang Kerok Lonjakan Kasus COVID-19 di Bali?

Benarkah Work From Bali Biang Kerok Lonjakan Kasus COVID-19 di Bali?

Bali | Rabu, 23 Juni 2021 | 12:57 WIB

COVID-19 Menggila, 23 Kelurahan di Kota tangerang Lockdown

COVID-19 Menggila, 23 Kelurahan di Kota tangerang Lockdown

Banten | Rabu, 23 Juni 2021 | 12:51 WIB

Obat Herbal China untuk Covid-19 Belum Bisa Dipakai di Indonesia

Obat Herbal China untuk Covid-19 Belum Bisa Dipakai di Indonesia

Lampung | Rabu, 23 Juni 2021 | 12:45 WIB

Terkini

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 12:21 WIB

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 11:28 WIB

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 17:38 WIB

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 13:30 WIB

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 11:58 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 08:43 WIB

Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak

Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak

Health | Kamis, 23 April 2026 | 18:14 WIB

Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami

Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami

Health | Kamis, 23 April 2026 | 16:09 WIB

Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter

Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter

Health | Rabu, 22 April 2026 | 09:00 WIB

Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran

Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran

Health | Rabu, 22 April 2026 | 09:00 WIB