Ada 4 Faktor Penyebab Skoliosis, Begini Cara Mengatasinya

Fabiola Febrinastri

Sabtu, 26 Juni 2021 | 10:23 WIB
Ada 4 Faktor Penyebab Skoliosis, Begini Cara Mengatasinya
dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine dari Eka Hospital BSD. (Dok: Eka Hospital)

Suara.com - Setiap tahun, Juni diperingati sebagai Scoliosis Awareness Month atau Bulan Kepedulian Skoliosis. Mungkin bagi sebagian orang, istilah Skoliosis masih terdengar awam.

Lalu sebenarnya apakah skoliosis itu?

Menurut dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine dari Eka Hospital BSD, skoliosis merupakan kondisi tulang belakang yang tidak normal karena berbentuk melengkung seperti huruf C atau S.

“Biasanya skoliosis ditemukan pada usia pubertas, yaitu usia 10 sampai 18 tahun dan secara umum, wanita lebih rentan mengidap skoliosis dibandingkan pria”, Dr. Phedy menjelaskan lebih lanjut.

Apa penyebab skoliosis?
Ada 4 faktor yang dapat menyebabkan skoliosis, salah satunya faktor yang disebabkan oleh genetik yang disebut Skoliosis Idiopatik.

Menurut dr Phedy, jenis skoliosis ini paling banyak diderita. Selain itu, disebabkan karena kerusakan bantalan dan tulang belakang yang aus, seiring pertambahan usia yang disebut Skoliosis Degeneratif.

Kondisi rusaknya jaringan saraf dan otot yang menyebabkan kelengkungan tulang belakang disebut dengan Skoliosis Neuromuscular. Sedangkan Skoliosis Congenital terjadi karena pertumbuhan tulang belakang yang tidak normal ketika masih di dalam kandungan.

Lalu mengapa seseorang bisa mengidap skoliosis?

“Tentunya ada beberapa gejala yang dapat dilihat, sehingga seseorang dapat didiagnosa mengidap skoliosis. Misalnya, apakah tubuh penderita condong ke satu sisi, salah satu bahu lebih tinggi, salah satu tulang belikat lebih menonjol, atau tinggi pinggang yang tidak rata,” tutur dr. Phedy.

baca juga

Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dengan sendirinya tanpa bantuan dokter spesialis tulang, karena dokter akan melakukan pengecekan lebih detail dan rinci dari gejala yang dialami oleh pasien serta pemeriksaan secara fisik seperti meminta pasien berdiri, membungkuk dan melihat seberapa tingkat keparahan postur tubuh yang tidak simetris.

Selain itu, dokter akan memeriksa apakah ada otot dan saraf yang lemah, kaku, atau adanya refleks yang tidak normal. Melalui pemeriksaan fisik yang didukung oleh foto rontgen dan CT scan akan terlihat secara jelas lengkungan tulang belakang yang diderita.

dr. Phedy menjelaskan bahwa seseorang yang mengidap skoliosis dapat diobati dengan beberapa cara seperti Observasi yang dilakukan pada skoliosis ringan karena tidak memerlukan pengobatan khusus. Pasien dianjurkan melakukan exercise untuk melenturkan dan menguatkan otot punggung.

Berikutnya dengan melalui metode Orthosis (brace) yang diindikasikan pada skoliosis dengan kelengkungan antara 35 – 45 derajat dan tulang yang belum matang pertumbuhannya. Pada kondisi tulang yang sudah matang, atau kelengkungan lebih 45 derajat, brace tidak banyak berguna. Terakhir adalah melalui tindakan Operasi yang dilakukan bila kelengkungan skoliosis lebih dari 45 derajat.

Apakah operasi pada pengidap skoliosis berbahaya?
Operasi skoliosis adalah operasi besar pada tulang belakang dengan risiko kematian dan kelumpuhan. Namun, dengan perkembangan teknologi saat ini, risiko kematian dan kelumpuhan tersebut dapat ditekan bahkan hingga mendekati 0 persen.

Saat ini telah tersedia alat navigasi dan robotic spine yang berfungsi memandu dokter bedah dalam memasukkan screw pada saat operasi. Akurasi navigasi dan robotik dalam memasukkan screw diklaim mencapai 99.9 persen.

Selain itu, alat navigasi dan robotik ini memungkinkan operasi skoliosis dengan teknik minimal invasif atau operasi dengan luka sayatan yang lebih kecil dan risiko pendarahan yang lebih sedikit sehingga dapat mengurangi kebutuhan transfusi darah.

Saat ini juga telah tersedia alat monitoring saraf yang dapat memantau kondisi saraf selama operasi berlangsung. dr. Phedy menjelaskan lebih lanjut bahwa penyakit skoliosis dapat disembuhkan tergantung tingkat keparahan dan gejala yang dirasakan oleh penderita, sehingga penting untuk melakukan pengecekan sedari dini sehingga tindakan akan dilakukan secara cepat dan tepat. Hubungi dokter spesialis tulang bila Anda merasakan gejala skoliosis

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Eka Hospital Hadirkan Layanan Terpadu Batu Ginjal

Eka Hospital Hadirkan Layanan Terpadu Batu Ginjal

Health | Kamis, 17 Juni 2021 | 12:58 WIB

Mayoritas Penderita Skoliosis adalah Perempuan

Mayoritas Penderita Skoliosis adalah Perempuan

Health | Minggu, 06 Juni 2021 | 20:05 WIB

Ketahui Jenis-jenis Skoliosis atau Kelainan Tulang Belakang

Ketahui Jenis-jenis Skoliosis atau Kelainan Tulang Belakang

Health | Minggu, 06 Juni 2021 | 15:39 WIB

Daftar Rumah Sakit Tangerang Selatan Banten Layani Rapid Test Antigen

Daftar Rumah Sakit Tangerang Selatan Banten Layani Rapid Test Antigen

Banten | Jum'at, 21 Mei 2021 | 10:35 WIB

Bayi Prematur Membutuhkan Perawatan Khusus, Ini Alasannya

Bayi Prematur Membutuhkan Perawatan Khusus, Ini Alasannya

Health | Sabtu, 01 Mei 2021 | 16:49 WIB

Eka Hospital Gunakan Metode Tanos untuk Lawan Batu Ginjal

Eka Hospital Gunakan Metode Tanos untuk Lawan Batu Ginjal

Press Release | Jum'at, 16 April 2021 | 09:08 WIB

Terkini

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Sport | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:27 WIB

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:23 WIB

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:15 WIB

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:00 WIB

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:55 WIB

×