Penelitian: Berbasis mRNA, Pfizer dan Moderna Berpotensi Berikan Kekebalan Menahun

Yasinta Rahmawati, Fita Nofiana

Selasa, 29 Juni 2021 | 16:13 WIB
Penelitian: Berbasis mRNA, Pfizer dan Moderna Berpotensi Berikan Kekebalan Menahun
Vaksin Pfizer. (Anadolu Agency/Tayfun Coşkun)

Suara.com - Vaksin Covid-19 yang dibuat oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna menghasilkan reaksi kekebalan yang kuat dalam tubuh. Kedua vaksin ini bahkan dinyatakan dapat melindungi dari virus selama bertahun-tahun.

Melansir dari Independent, temuan terbaru menambah bukti yang berkembang bahwa orang yang telah menerima vaksin messenger RNA (mRNA) mungkin tidak memerlukan dosis vaksin selama satu tahun. Modena dan Pfizer adalah dua vaksin yang menggunakan mRNA. 

Studi yang diterbitkan pada jurnal Nature tersebut menemukan bahwa kedua vaksin tersebut cenderung menawarkan perlindungan jangka panjang terhadap Covid-19.

"Ini pertanda baik untuk seberapa tahan lama kekebalan kita dari vaksin ini," ujar Dr Ali Ellebedy, seorang ahli imunologi di Universitas Washington di St. Louis dan penulis utama studi tersebut.

Studi tersebut tidak mempertimbangkan vaksin yang dibuat oleh Johnson & Johnson, tetapi Dr Ellebedy mengatakan kepada New York Times bahwa ia memperkirakan respons imun akan kurang tahan lama.

Vaksin moderna (VOA Indonesia)
Vaksin moderna (VOA Indonesia)


Studi sebelumnya oleh Dr Ellebedy dan timnya menemukan bahwa orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin juga tidak memerlukan vaksin. Berdasarkan temuan tersebut, para ilmuwan mengatakan kekebalan dari Covid-19 dapat bertahan selama bertahun-tahun bahkan mungkin seumur hidup pada orang yang telah terinfeksi dan kemudian divaksinasi.

Mereka juga menemukan bahwa hampir empat bulan setelah dosis pertama vaksin Pfizer atau Moderna, kelenjar getah bening tubuh masih menunjukkan tingkat sel B pusat germinal yang tinggi yang menunjukkan perlindungan jangka panjang dari virus.

"Biasanya dalam empat hingga enam minggu, tidak banyak yang tersisa (sel B)," kata Deepta Bhattacharya, seorang ahli imunologi di University of Arizona. Tetapi pusat germinal yang dirangsang oleh vaksin mRNA masih berjalan, berbulan-bulan dan tidak banyak penurunan pada kebanyakan orang.

Tetapi untuk orang yang lebih rentan, seperti orang dewasa yang lebih tua, orang dengan sistem kekebalan yang lebih lemah dan orang yang menggunakan obat imunosupresan mungkin memerlukan vaksin. 

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Divaksin AstraZeneca, Begini Efek Samping yang Dialami Anies Baswedan

Divaksin AstraZeneca, Begini Efek Samping yang Dialami Anies Baswedan

Jakarta | Selasa, 29 Juni 2021 | 15:27 WIB

Banyak Nakes yang Gugur, IDI Usul Vaksin Ketiga untuk Paramedis yang Tangani Covid-19

Banyak Nakes yang Gugur, IDI Usul Vaksin Ketiga untuk Paramedis yang Tangani Covid-19

Kaltim | Selasa, 29 Juni 2021 | 15:18 WIB

Singapura Ragukan Vaksin Sinovac untuk Virus Corona Covid-19, Ini Alasannya!

Singapura Ragukan Vaksin Sinovac untuk Virus Corona Covid-19, Ini Alasannya!

Health | Selasa, 29 Juni 2021 | 15:30 WIB

Terkini

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:50 WIB

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:49 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:11 WIB

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

×