Dokter Jiwa Paparkan Beda Keluarga Sehat dengan Keluarga Toksik

Senin, 05 Juli 2021 | 10:32 WIB
Dokter Jiwa Paparkan Beda Keluarga Sehat dengan Keluarga Toksik
Ilustrasi anak dari keluarga toksik (Unsplash/Lucas)

Suara.com - Memiliki keluarga toksik atau beracun bisa berdampak bagi kesehatan mental anak di kemudian hari. Anak berisiko akan mengalami rasa percaya diri yang kurang, perasaan insecure, dan rendah diri.

Pada akhirnya, memiliki hubungan keluarga yang beracun dapat membentuk anak kesulitan menjalani kehidupannya di masa depan.

Dikatakan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Almee Nugroho, ada perbedaan mendasar memiliki keluarga yang sehat dengan keluarga yang toksik.

Saat memiliki keluarga yang sehat secara mental, anak akan memiliki komunikasi dua arah dan terbuka.

"Bisa dari orangtua ke anak, suami bisa ke istri, dan sebaliknya. Tapi kalau keluarga yang tidak sehat memiliki komunikasi yang satu arah. Jadi bisa dari pelaku kekerasan ke korban, di mana ayahnya yang keras kepada anak, sehingga tidak memiliki kesempatan berbicara tentang pilihan hidupnya,” ungkapnya pada acara The Rise of Toxic Family During Pandemic, Jumat (2/7/2021).

Saat anak berada di keluarga beracun, anak akan cenderung mendapat hinaan saat mereka mencoba melakukan sesuatu.

Hal itu berbeda dengan anak yang muncul dari keluarga sehat, yang umumnya akan mendapat dukungan, support, dan keluarga akan lebih bersikap fleksibel daat anak mencoba sesuatu yang baik.

Keluarga yang tidak sehat juga cenderung lebih kaku, sehingga umumnya apa yang diinginkan sang anak tidak diperbolehkan oleh orangtuanya.

“Ada pasien saya yang ingin les menari, di mana kegiatan ini positif tapi dilarang oleh orang tuanya. Katanya tidak sesuai ajaran agama, sehingga sang anak seolah-olah salah. Padahal kalau dilihat, menari itu tidak negatif. Justru itu positif," ungkapnya lebih lanjut.

Baca Juga: Jaga Mentalnya, Ini 7 Tanda Anak Alami Stres Karena Pandemi Covid-19

Selain tidak mendukung anak, keluarga yang toksik juga umumnya lebih banyak menuntut anak. Ia membagikan cerita tentang pasiennya yang baru bekerja dengan penghasilan UMR namun semua gajinya, harus diberikan kepada keluarga.

“Setiap bulan sang anak harus menyerahkan gajinya, padahal anaknya ini punya kebutuhan pribadi. Tapi dituntut oleh orang tuanya untuk selalu kasih uang bulanan. Jadi ini termasuk keluarga yang demanding,” pungkasnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI