alexametrics

Studi: Antibodi dari Vaksin Johnson & Johnson Bisa Tahan 8 Bulan

Cesar Uji Tawakal | Shevinna Putti Anggraeni
Studi: Antibodi dari Vaksin Johnson & Johnson Bisa Tahan 8 Bulan
Ilustrasi Vaksin. (Pixabay/PhotoLizM)

Studi mengungkapkan bahwa antibodi yang terbentuk setelah suntik vaksin Johnson & Johnson bisa bertahan 8 bulan.

Suara.com - Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson bisa memberikan kekebalan yang bertahan setidaknya 8 bulan. Vaksin Johnson & Johnson ini juga nampaknya bisa memberikan perlindungan yang memadai terhadap virus corona varian Delta yang mengkhawatirkan.

Sejauh ini, data yang telah diselidiki selama 8 bulan menunjukkan vaksin Johnson & Johnson bisa menghasilkan antibodi penetralisir yang kuat.

Perusahaan Johnson & Johnson mengatakan satu kali suntikan vaksin Covid-19 buatannya bisa memberikan respons antibodi yang bertahan lama dan menghasilkan sel-sel kekebalan yang disebut sel T selama 8 bulan.

Dr. Dan Barouch dari Beth Israel Deaconess Medical Center dan Harvard Medical School dan rekan-rekannya menguji darah yang diambil dari 20 sukarelawan pada tahap awal.

Baca Juga: Wabah Covid-19 Kian Meninggi, Dinkes Batam: Batam Memasuki Darurat Vaksin

Data menunjukkan bahwa respons sel T, termasuk sel T CD8+ yang mencari dan menghancurkan sel yang terinfeksi bertahan selama jangka waktu 8 bulan.

Ilustrasi vaksin Covid-19 (unsplash/@hakannural)
Ilustrasi vaksin Covid-19 (unsplash/@hakannural)

Sementara itu dilansir dari CNN, Pfizer/BioNTech dan Moderna sama-sama mengatakan vaksin Covid-19 buatannya bisa memberikan perlindungan yang bertahan setidaknya 6 bulan.

Para peneliti di Universitas Washington di St. Louis melaporkan bahwa studi mereka terhadap sukarelawan yang sudah suntik vaksin Covid-19 menunjukkan perlindungan yang bertahan lebih lama dari 8 bulan, bahkan bertahan selama bertahun-tahun.

Tim Barouch juga menguji darah dari sukarelawan yang divaksinasi dan sejumlah varian virus corona, termasuk varian Delta atau B.1.617.2 yang pertama kali terlihat di India, varian B.1.351 atau Beta yang pertama kali terlihat di Afrika Selatan, dan P. 1 atau varian Gamma menyebar di Brazil.

"Kami melihat cakupan antibodi penetralisir yang kuat dari varian tersebut,” kata Barouch.

Baca Juga: Akhir Juli, Prancis Waspada Hadapi Gelombang Keempat Covid-19

Antibodi penetralisir adalah protein sistem kekebalan yang menonaktifkan virus corona Covid-19 sebelum dapat bereplikasi.

Komentar