Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan

Husna Rahmayunita | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Sabtu, 07 Februari 2026 | 17:15 WIB
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Eka Ginanjar, Sp.PD, K-KV, FINASIM. [Suara.com/Dini Afrianti].
    • Perubahan iklim mempercepat siklus DBD dari lima tahun menjadi dua tahun.
    • Nyamuk Aedes aegypti menggigit lebih sering karena suhu bumi yang meningkat.
    • Vaksin dengue sangat efektif mencegah gejala berat dan mengurangi beban finansial.

Suara.com - Dokter spesialis penyakit dalam mengatakan perubahan iklim dan peningkatan suhu bumi dapat membuat nyamuk pembawa virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD) berkembang biak lebih cepat.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Eka Ginanjar, Sp.PD, K-KV, FINASIM, mengatakan kasus DBD tertinggi di Indonesia terjadi pada 2016 saat El Nino, yaitu fenomena pemanasan suhu permukaan laut, melanda.

Meski tidak setinggi 2016, kasus DBD juga meningkat pada 2024 ketika El Nino kembali melanda Tanah Air.

"Ini menunjukkan bahwa pengaruh iklim terhadap peningkatan kasus DBD sangat berpengaruh. Oceanic Nino Index (ONI) lebih dari 0,5 menunjukkan bahwa pada 2016 ONI cukup tinggi dan kasus DBD kita juga tinggi. Begitu juga pada 2024," ungkap Dr. Eka dalam acara edukasi media bersama PT Takeda Innovative Medicines, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, perubahan iklim yang menyebabkan El Nino semakin sering terjadi membuat anggapan DBD sebagai penyakit lima tahunan tidak lagi relevan. Bahkan, DBD kini bisa memiliki siklus dua tahunan.

"Ini membuat siklus yang tadinya disebut lima tahunan sekarang makin dekat, menjadi dua tahunan karena pola ini ikut memengaruhi," papar Dr. Eka.

Akibatnya, kasus DBD kini semakin sering ditemukan di Indonesia. Perubahan iklim juga membuat nyamuk Aedes aegypti mengisap darah manusia lebih sering karena membutuhkan lebih banyak makanan untuk berkembang biak.

"Nyamuk itu senang perubahan iklim. Dia membutuhkan makanan lebih banyak untuk berkembang. Karena itu dia menggigit dua sampai tiga kali lipat dari biasanya," jelasnya.

"Biasanya dia menggigit cuma dua sampai tiga kali, kini bisa lebih banyak. Sehingga risiko orang tertular juga meningkat," sambung Dr. Eka.

Nyamuk pembawa virus dengue yang lebih sering mengisap darah ini kemudian menularkan virus melalui gigitan. Akibatnya, tubuh dapat terinfeksi dan memicu gejala DBD yang hingga kini belum memiliki obat spesifik.

Seseorang yang tertular dengue juga berisiko tidak produktif selama beberapa hari. Anak-anak lebih rentan mengalami gejala berat, sementara orang dewasa bisa kehilangan waktu kerja yang pada akhirnya memengaruhi stabilitas keluarga.

Karena itu, pencegahan melalui vaksin dengue dinilai lebih efektif dibandingkan harus menjalani pengobatan selama berhari-hari. Vaksin juga dapat menurunkan risiko gejala berat sehingga pasien tidak perlu menjalani perawatan intensif atau rawat inap hingga satu pekan.

"Negara sebenarnya tidak mengabaikan DBD. Data 2025 menunjukkan BPJS meng-cover hampir Rp3 triliun untuk pembiayaan. Tapi beban ini harus kita turunkan dengan pencegahan yang kuat," pungkas Dr. Eka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Waspada! Kasus DBD di Jakarta Mulai Merayap Naik di Awal 2026

Waspada! Kasus DBD di Jakarta Mulai Merayap Naik di Awal 2026

News | Selasa, 20 Januari 2026 | 19:05 WIB

Data BPJS Ungkap Kasus DBD 4 Kali Lebih Tinggi dari Laporan Kemenkes, Ada Apa?

Data BPJS Ungkap Kasus DBD 4 Kali Lebih Tinggi dari Laporan Kemenkes, Ada Apa?

Health | Sabtu, 08 November 2025 | 07:54 WIB

Anak Rentan DBD Sepanjang Tahun! Ini Jurus Ampuh Melindungi Keluarga

Anak Rentan DBD Sepanjang Tahun! Ini Jurus Ampuh Melindungi Keluarga

Health | Sabtu, 20 September 2025 | 06:42 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:05 WIB

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:29 WIB

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:22 WIB

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 11:49 WIB

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:17 WIB

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:01 WIB

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:30 WIB

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:24 WIB

Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 11:17 WIB

Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh

Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:54 WIB