Ternyata Tidak Disarankan Makanan Berlemak Sebelum Donor Plasma Konvalesen, Kenapa?

Bimo Aria Fundrika | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Jum'at, 17 September 2021 | 14:10 WIB
Ternyata Tidak Disarankan Makanan Berlemak Sebelum Donor Plasma Konvalesen, Kenapa?
Seorang warga menunggu petugas saat mendonorkan plasma konvalesen di Kantor PMI Kota Jogja, Kotagede, Sabtu (11/9/2021). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

Suara.com - Plasma konvelesen menjadi salah satu terapi yang banyak dicari oleh pasein Covid-19. Tapi, ternyata tidak semua orang bisa untuk melakukan donor plasma konvalesen.

Penting bagi para pendonor tahu tips sehat sebelum mendonorkan plasma konvalesen. Salah satunya menghindari makanan berlemak.

Hal ini diungkap Ketua Bidang Unit Donor Darah atau UDD PMI Pusat dr. Linda Lukitari Waseso, yang mengatakan lemak bisa mempengaruhi kualitas plasma konvalesen yang didonorkan.

Plasma konvalesen adalah sel darah putih yang terkandung antibodi dari tubuh penyintas Covid-19, karena berhasil melawan virus corona penyebab sakit Covid-19.

Plasma Konvalesen yang didonorkan warga ditaruh di kotak khusus untuk selanjutnya dipergunakan di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (23/7/2021). [Suara.com/Alfian Winanto]
Plasma Konvalesen yang didonorkan warga ditaruh di kotak khusus untuk selanjutnya dipergunakan di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (23/7/2021). [Suara.com/Alfian Winanto]

"Yang pasti sebelum donor darah, diharapkan tidak makan makanan yang banyak mengandung lemak, karena itu akan mempengaruhi dari darah yang akan diambil," ujar dr. Linda dalam acara diskusi dengan awak media beberapa waktu lalu.

dr. Linda mencontohkan beberapa plasma darah yang tinggi kadar lemaknya, akan terlihat dari sel darah putih yang berwarna kekuningan.

"Itu biasanya lemak-lemak yang terdampak dari yang kita makan," ungkapnya.

Salah satu makanan berlemak yang sebaiknya dihindari adalah makanan tinggi minyak seperti gorengan, kuah makanan tinggi santan dan minyak di sajian rumah makan Padang, dan lain sebagainya

Sehingga ia menyarankan, ada baiknya pendonor reguler atau plasma konvalesen menjalani pola hidup sehat sehari sebelum menjalani prosedur donor darah.

Di antaranya makan makanan bergizi guna menjaga kadar hemoglobin atau Hb (kadar oksigen dalam darah) memenuhi syarat 12 gr/dL untuk perempuan dan 13 gr/dL untuk lelaki, serta banyak mengonsumsi air putih.

Ditambah calon pendonor harus cukup istirahat, untuk mencegah tekanan darah tinggi yang melonjak dari batas normal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PMI Sulsel Siapkan Plasma Konvalesen Gratis untuk Pasien Covid-19

PMI Sulsel Siapkan Plasma Konvalesen Gratis untuk Pasien Covid-19

Sulsel | Jum'at, 17 September 2021 | 07:21 WIB

Pendonor Plasma Konvalesen Menurun Drastis, PMI DIY Akui Kesulitan Pasca PPKM

Pendonor Plasma Konvalesen Menurun Drastis, PMI DIY Akui Kesulitan Pasca PPKM

Bisnis | Senin, 13 September 2021 | 18:00 WIB

Usai Ledakan Covid-19 Juli 2021, PMI Jogja Sebut Pendonor Plasma Konvalesen Turun

Usai Ledakan Covid-19 Juli 2021, PMI Jogja Sebut Pendonor Plasma Konvalesen Turun

Jogja | Sabtu, 11 September 2021 | 20:23 WIB

Terkini

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Health | Selasa, 14 April 2026 | 08:37 WIB

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Health | Senin, 13 April 2026 | 06:15 WIB

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Health | Minggu, 12 April 2026 | 22:48 WIB

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 20:29 WIB

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 14:00 WIB

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 19:16 WIB

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:15 WIB

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:13 WIB

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Health | Rabu, 08 April 2026 | 19:55 WIB

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Health | Rabu, 08 April 2026 | 14:11 WIB