alexametrics

Cerita Influencer Dengan Gangguan Bipolar, Dianggaap Kurang Ibadah dan Caper

Bimo Aria Fundrika | Aflaha Rizal Bahtiar
Cerita Influencer Dengan Gangguan Bipolar, Dianggaap Kurang Ibadah dan Caper
Cerita Influencer Dengan Gangguan Bipolar, Sering Dianggaap Kurang Ibadah dan Caper. (Dok: Istimewa)

Dalam situasi yang demikian, ia juga kerap merasa bahwa orang sekitar juga tidak menyayanginya. Ia merasa semua membencinya.

Suara.com - Isu kesehatan mental masih menjadi bahasan yang tabu dan enggan dibicarakan oleh masyarakat luas. Tidak heran jika sulit bagi seorang yang mengalami masalah kesehatan mental seperti bipolar terbuka tentang yang dialaminya. 

Situasi itu sempat dirasakan oleh influncer dan penyintas Bipolar Disorder Afina Syifa Biladina, dalam acara Bersama Mencegah Bunuh Diri, Sabtu (18/9/2021). Ia mengaku bahwa telah mengalami kondisi bipolar itu sejak kecil. 

“Ternyata aku dari kecil sudah ada ketidakseimbangan antara emosi, pendewasaan diri, dan juga fisik. Dan dari kecil kalau sudah sekali nangis, itu berlebihan. Tapi sekalinya senang, aku kayak over banget,” ungkapnya.

Dalam situasi yang demikian, ia juga kerap merasa bahwa orang sekitar juga tidak menyayanginya. Ia merasa semua membencinya. 

Baca Juga: Idap Bipolar, Marshanda Nekat Minum Obat Pelangsing Gegara Ini

Cerita Influencer Dengan Gangguan Bipolar, Sering Dianggaap Kurang Ibadah dan Caper. (Dok: Istimewa)
Cerita Influencer Dengan Gangguan Bipolar, Sering Dianggaap Kurang Ibadah dan Caper. (Dok: Istimewa)

“Pas SD aku udah ada indikasi dibenci sama semua orang, padahal itu asumsi aku. Aslinya padahal enggak. Tapi aku merasakan itu, bahkan aku merasa orangtua juga nggak sayang sama aku. Dan akhirnya punya pikiran mau kabur dari rumah,” lanjutnya.

Kondisi masalah kesehatan mental yang dialaminya makin memburuk ketika ia masuk di bangku kuliah. Ia bahkan sempat memiliki pemirikan bunuh diri. 

“Paling besar itu pas lagi kuliah. Jadi aku berantem sama salah satu anggota keluarga, dan setelahnya aku ada pikiran mau bunuh diri. Karena sama keluarga aja berantem apalagi sama yang lain. Tiba-tiba kepikiran begitu,” ungkap Afina.

Dari situ, ia mulai memberanikan diri untuk pergi ke psikolog dan mencari tahu yang dialaminya. 

“Akhirnya aku ke psikolog dan ditanya-tanya, kayak kalau lagi bahagia gimana? Aku bilang suka traktir sama temen-temen, bahagia sampai deg-degan, dan banyak bicara,” ungkapnya.

Baca Juga: Penelitian: Paparan Polusi sejak Kecil Tingkatkan Risiko Menyakiti Diri Sendiri

“Nah setelah itu aku lanjut ke Psikiater dan dirujuk, dan aku didiagnosa bipolar. Mulai dari bahagia, sedih yang terus menerus, sampai ada indikasi bunuh diri. Bahkan sedihnya itu bisa seminggu dan satu bulan,” pungkasnya. 

Tidak hanya itu, selain mesti harus berjuang dengan penyakit yang dialaminya, ia juga kerap mendapat stigma buruk dari lingkungan. Bahkan, keluarganya menganggapnya kurang iman dan ibadah. Tidak jarang ia juga dianggap cari perhatian.

"Katanya caper karena aku speak up di Instagram. Bahkan dianggap buat konten. Memang aku buat konten, tapi aku buatnya untuk tujuan edukasi," ceritanya.  

"Cara menghadapinya kita perlu validasi perasaan kita. Dan kita harus kontrol diri sendiri, karena kita tidak bisa kontrol pikiran orang lain," pungkasnya.

Komentar