alexametrics

Beda dengan Rusia, WHO Sebut Izin Vaksin COVID-19 Sputnik V Masih Tertahan

M. Reza Sulaiman
Beda dengan Rusia, WHO Sebut Izin Vaksin COVID-19 Sputnik V Masih Tertahan
ilustrasi WHO. (PlusONE / Shutterstock.com)

Vaksin COVID-19 buatan Rusia Sputnik V hingga kini masih belum juga mendapatkan izin penggunaan darurat dari WHO.

Suara.com - Vaksin COVID-19 buatan Rusia Sputnik V hingga kini masih belum juga mendapatkan izin penggunaan darurat alias Emergency Use Authorization (EUA) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Padahal sebelumnya, Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko mengatakan, segala rintangan untuk mendaftarkan vaksin COVID-19 buatan Rusia ke WHO telah teratasi.

Vaksin Sputnik V, yang banyak digunakan di Rusia dan disetujui penggunaannya di lebih dari 70 negara, sedang berada dalam peninjauan WHO dan Badan Pengawas Obat Eropa (EMA).

Persetujuan dari kedua lembaga itu dapat membuka pasar baru bagi vaksin Sputnik V, terutama di Eropa.

Baca Juga: Riset Soal Kaitan Vaksin Covid-19 dan Penyakit Langka Ternyata Keliru

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]
Vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]

Namun menurut keterangan terbaru dari WHO pada Rabu (13/10) mengatakan proses Daftar Penggunaan Darurat (EUL) untuk vaksin COVID-19 Sputnik V Rusia masih tertahan sambil menunggu kelengkapan data dan prosedur hukum, yang diharapkan WHO akan "segera rampung".

"Kami bekerja hampir setiap hari bersama Kementerian Kesehatan Rusia untuk menyelesaikan masalah yang tersisa, yang mesti dipenuhi oleh Russian Direct Investment Fund," kata Mariangela Simao, asisten dirjen WHO untuk akses ke obat-obatan dan produk kesehatan.

Simon mengatakan bahwa begitu ada kesepakatan yang dicapai, WHO akan membuka kembali pengajuan tersebut dan mengevaluasi datanya, kendati "masih belum lengkap" dan melanjutkan inspeksi lokasi manufaktur di Rusia.

"Semua pengajuan yang kami terima, dibahas dengan cara yang sama," katanya tanpa menyebutkan waktu pastinya kapan proses EUL rampung.

Baca Juga: Sebanyak 601 Ribu Dosis Vaksin Pfizer Tiba di Indonesia

Komentar