alexametrics

Menkes Budi Gunadi Ungkap Biaya yang Dikeluarkan untuk Belanja Vaksin COVID-19, Berapa?

M. Reza Sulaiman
Menkes Budi Gunadi Ungkap Biaya yang Dikeluarkan untuk Belanja Vaksin COVID-19, Berapa?
Seorang pencari suaka mendapatkan vaksinasi COVID-19 Sinopharm di GOR Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/10/2021). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Kebutuhan vaksin COVID-19 Indonesia bisa terpenuhi tidak hanya dari bantuan negara-negara sahabat dan WHO, tapi juga vaksin yang dibeli sendiri oleh negara.

Suara.com - Kebutuhan vaksin COVID-19 Indonesia bisa terpenuhi tidak hanya dari bantuan negara-negara sahabat dan WHO, tapi juga vaksin yang dibeli sendiri oleh negara.

Diungkapkan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, pengeluaran pemerintah untuk belanja vaksin COVID-19 bagi kebutuhan dalam negeri mencapai Rp 28,2 triliun.

"Kalau untuk vaksin itu sekitar Rp50 triliunan, kita sudah pakai Rp28,2 triliun," kata Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers, dikutip dari ANTARA.

Menurut Budi ada kemungkinan penghematan biaya karena pemerintah berhasil mendapatkan cukup banyak vaksin yang gratis dari sejumlah produsen dan negara sahabat.

Baca Juga: Kolaborasi Bersama PT AHM dan PT ADM, Astra Hibahkan Dua Mobil Vaksinasi

Dalam kesempatan itu Budi juga menginformasikan serapan dana pemerintah yang dikeluarkan untuk obat-obatan dan perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit.

Siswa Sekolah Dasar (SD) mendapatkan Vaksinasi Covid-19 Pfizer di SDN Karawaci 5, Kota Tangerang, Banten, Senin 18/10.  ( Suara.com/ Hilal Rauda Fiqry)
Siswa Sekolah Dasar (SD) mendapatkan Vaksinasi Covid-19 Pfizer di SDN Karawaci 5, Kota Tangerang, Banten, Senin 18/10. ( Suara.com/ Hilal Rauda Fiqry)

"Kalau untuk obat-obatan kita sebenarnya jadi satu sebagai klaim rumah sakit, karena yang diklaim ke pemerintah kan obat-obatan dan pelayanan kesehatan di rumah sakit," katanya.

Budi mengatakan besaran dana yang terserap untuk kebutuhan tersebut sekitar Rp36 triliun. "Tapi mungkin itu masih akan bertambah lagi sampai akhir tahun karena itu baru sampai bulan April-Mei 2021," katanya.

Menurut Budi perawatan pasien saat terjadi lonjakan kasus di periode Juni-Agustus 2021 masih dalam proses penghitungan.

"Kita kan kemarin ada lonjakan di bulan Juni-Agustus nah itu belum kita hitung mungkin ada tambahan dari angka Rp36 triliun yang pernah kita sampaikan tadi," katanya.

Baca Juga: Menkes Budi Gunadi Ungkap Pasien Gangguan Imunitas Jadi Prioritas Penerima Vaksin Booster

Komentar