Pil Antivirus Paxlovid Diklaim Turunkan Risiko Kematian Akibat Covid-19

Vania Rossa | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Sabtu, 06 November 2021 | 13:28 WIB
Pil Antivirus Paxlovid Diklaim Turunkan Risiko Kematian Akibat Covid-19
Ilustrasi Obat Covid-19. (istockphoto.com)

Suara.com - Pil antivirus Paxlovid buatan Pfizer diklaim bisa menurunkan risiko rawat inap dan kematian sebesar 89 persen, saat diminum tiga hari usai timbulnya gejala.

Mengutip Live Science, Sabtu (6/11/2021), klaim ini disampaikan berdasarkan hasil uji klinis terkontrol dengan plasebo, pada orang yang terinfeksi Covid-19 dan berisiko mengalami gejala yang lebih berat.

Dalam penelitian tersebut, lebih dari 1.200 orang dewasa di AS dan luar negeri yang dites positif Covid-19 bergejala ringan dan sedang, terdaftar uji klinis.

Peserta yang terdaftar dalam uji klinis ini, setidaknya memiliki salah satu gejala yang membuat mereka berisiko mengalami tingkat gejala berat bahkan kritis, akibat Covid-19.

Namun tidak ada satupun peserta penelitian yang sudah menerima vaksinasi Covid-19.

Hasilnya, 389 peserta yang menerima Paxlovid yang dikombinasikan dengan obat HIV, ritonavir, mereka hanya perlu dirawat tiga hari di rumah sakit dan tidak ada yang meninggal.

Sedangkan dari 385 orang yang menerima pil plasebo dalam tiga hari setelah bergejala, 37 dirawat di rumah sakit dan 7 orang meninggal dunia.

Namun, 607 peserta yang menggunakan Paxlovid, dalam waktu lima hari, hanya 6 orang yang dirawat dan tidak ada satupun yang meninggal dunia.

Di sisi lain, 612 orang yang mendapatkan pil plasebo dalam waktu lima hari setelah timbulnya gejala, ada 41 orang yang dirawat di rumah sakit dan 10 orang meninggal.

Adapun Paxlovid bekerja dengan menghambat enzim yang disebut protease, yang diperlukan virus SARS CoV 2 untuk bereplikasi di dalam tubuh.

Obat itu disebut sangat efektif hingga membuat komite menghentikan uji coba, dan segera meminta subjek yang menerima pil plasebo atau obat kosong, untuk mendapatkan pil yang sebenarnya.

Bahkan Pfizer akan segera mengirimkan data hasil uji klinis ke BPOM Amerika Serikat, yakni Food and Drug Administration (FDA), agar segera mendapat izin penggunaan darurat sesegera mungkin.

Sementara itu, Paxlovid bukan obat antivirus Covid-19 pertama di dunia. Sebelumnya ada molnupiravir, obat antivirus Covid-19 pertama buatan Merck yang bisa menurunkan risiko rawat inap dan kematian akibat Covid-19 hingga 50 persen.

Sayangnya, molnupiravir masih dalam tinjauan FDA dan belum disetujui atau direkomendasikan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Selandia Baru Izinkan Penggunaan Baricitinib untuk Obati COVID-19

Selandia Baru Izinkan Penggunaan Baricitinib untuk Obati COVID-19

Health | Sabtu, 06 November 2021 | 08:50 WIB

Inggris Jadi Negara Pertama di Dunia yang Izinkan Penggunaan Obat Covid-19 Ini

Inggris Jadi Negara Pertama di Dunia yang Izinkan Penggunaan Obat Covid-19 Ini

News | Jum'at, 05 November 2021 | 22:03 WIB

Pertama di Dunia, Inggris Izinkan Molnupiravir Sebagai Obat Covid-19

Pertama di Dunia, Inggris Izinkan Molnupiravir Sebagai Obat Covid-19

Health | Jum'at, 05 November 2021 | 12:09 WIB

Terkini

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 20:29 WIB

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 14:00 WIB

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 19:16 WIB

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:15 WIB

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:13 WIB

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Health | Rabu, 08 April 2026 | 19:55 WIB

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Health | Rabu, 08 April 2026 | 14:11 WIB

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Health | Rabu, 08 April 2026 | 11:58 WIB

Solusi Membasmi Polusi Kekinian  ala Panasonic

Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic

Health | Selasa, 07 April 2026 | 19:00 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Health | Selasa, 07 April 2026 | 11:00 WIB