facebook

Disinfektan Berisiko Membuat Bakteri Superbug Mengembangkan Resistensi terhadap Antiobitik

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah
Disinfektan Berisiko Membuat Bakteri Superbug Mengembangkan Resistensi terhadap Antiobitik
Cairan disinfektan untuk melindungi diri dari virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Resistensi antibiotik merupakan tantangan besar yang terus berkembang dalam perawatan kesehatan global.

Suara.com - Selama masa pandemi virus corona Covid-19, disinfektan menjadi salah satu senjata dalam pencegahan infeksi. Tetapi, penelitian terbaru mengungkap pembersih kuman ini memiliki efek samping merugikan.

Sebuah riset baru dari Universitas Macquarie menemukan disinfektan dinilai memiliki agen ganda, yakni menghalangi antibiotik bekerja dan meningkatkan resistensi terhadap antibiotik, lapor Medical Xpress.

Resistensi antibiotik merupakan tantangan besar yang terus berkembang dalam perawatan kesehatan global. Di antara semua patogen, yang paling resisten antibiotik dikenal sebagai ESKAPE.

ESKAPE merupakan akronim untuk enam bakteri yang resisten antibiotik, yakni Enterococcus faecium, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter baumannii, Pseudomonas aeruginosa, dan spesies Enterobacter.

Baca Juga: Penggunaan Antibiotik Tak Sesuai, Penyebab Angka Resistensi Antimikroba Meningkat

Keenam bakteri tersebut tidak cukup berbahaya dalam habitat alami, seperti usus, tanah, atau air. Tetapi jika seorang pasien sudah sakit kritis atau immunocompromised (orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan) terinfeksi bekteri tersebut, maka dapat mengakibatkan penyakit fatal seperti pneumonia, sepsis, dan infeksi luka.

Ilustrasi Ngidam Sabun Disinfektan (Unsplash/Kelly Sikkema)
Ilustrasi Disinfektan (Unsplash/Kelly Sikkema)

Salah satu garis pertahanan terakhir melawan patogen ESKAPE adalah antibiotik aminoglikosida.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Francesca Short dan Profesor Ian Paulsen, dari Departemen Ilmu Molekuler Universitas Macquarie, menguji efek desinfektan benzalkonium klorida (BAC) pada aminoglikosida terhadap patogen ESKAPE.

"BAC adalah disinfektan biosida yang dinilai tidak beracun, dan banyak digunakan dalam perawatan kesehatan, keamanan pangan dan pertanian, serta dalam produk rumah tangga biasa, seperti tisu antibakteri, disinfektan luka, obat tetes mata dan obat tetes telinga," jelas Short.

Tetapi, penggunaan BAC ini dapat mencegah antibiotik aminoglikosida bekerja serta mendorong evolusi bakteri resisten, yang sangat memprihatinkan mengingat seberapa luas penggunaan BAC.

Baca Juga: Sumber Masalah, Ahli Ingin Penggunaan Antibiotik Diawasi Laiknya Obat Terlarang

"Hasil kami menunjukkan bahwa ada tindakan yang perlu diambil untuk mencegah paparan bakteri ke tingkat BAC yang lebih rendah," sambungnya.

Sebab, penggunaan tingkat BAC yang lebih rendah pun dapat memblokir efektivitas aminoglikosida karena mencegah antibiotik memasuki sel bakteri.

"Ini juga meningkatkan jumlah munculnya mutan baru yang berpotensi resisten," imbuhnya.

Menurutnya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membantu memandu kita dalam penggunaan produk disinfektan agar mendapat efek terbaik, sekaligus mengurangi risiko resistensi.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar