Psikiater: Kabar Buruk Selama Pandemi Bikin Pasien Gangguan Kecemasan Makin Banyak

M. Reza Sulaiman | Suara.com

Senin, 29 November 2021 | 17:27 WIB
Psikiater: Kabar Buruk Selama Pandemi Bikin Pasien Gangguan Kecemasan Makin Banyak
Ilustrasi gangguan kecemasan karean pandemi Covid-19. (elemen envato)

Suara.com - Pandemi Covid-19 yang sudah berjalan lebih dari 1,5 tahun berdampak pada semua sisi kehidupan. Salah satunya, meningkatkan risiko gangguan jiwa yang diakibatkan oleh kabar buruk di sekitar kita.

Psikiater dari RS EMC Alam Sutera, dr Andri Sp.KJ, FAPM, mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman praktiknya, hampir 80 persen pasien yang berobat mengalami gangguan cemas, dengan gejala utama psikosomatik.

"Mereka datang biasanya dengan keluhan lambung, nyeri otot, jantung berdebar-debar atau pernah mengalami beberapa kali serangan panik," kata dr. Andri dalam keterangannya kepada wartawan, baru-baru ini.

Serangan panik merupakan serangan emas tiba-tiba yang membuat sistem saraf otonom mengalami peningkatan kinerja. Pada manusia, hal ini menyebabkan efek jantung berdebar-debar, rasa tercekik seperti kehabisan oksingan, kesemutan, dan banyak gejala fisik lainnya.

Ilustrasi cemas atau khawatir [Shutterstock]
Ilustrasi cemas atau khawatir [Shutterstock]

Menurut dr. Andri, gangguan cemas yang dirasakan oleh pasiennya berhubungan erat dengan kondisi pandemi. Pada pasien berusia di atas 40 tahun 50 tahun, ketakutan akan pandemi bisa menyebabkan gangguan cemas, yang membuat pasien sulit tidur hingga membutuhkan bantuan obat untuk meredakan kecemasan.

Lalu, apa penyebab gangguan cemas semakin sering terjadi di masa pandemi? Menurut dr. Andri, salah satu sebabnya adalah berita buruk yang tak kunjung berhenti disiarkan di media massa. Apalagi pada Juli lalu, Indonesia sempat mengalami lonjakan kasus dan kematian akibat merebaknya varian Delta.

Kabar buruk, yang datang dari berita televisi hingga pengumuman kematian di masjid dan mushola, membuat pasien gangguan cemas rentan kambung. Karena itu menurut dr. Andri, penting bagi pasien gangguan cemas untuk memilah, mengurangi, bahkan menghentikan informasi yang diterima.

"Bahkan pengumuman kematian yang sering dari corong mesjid di saat Juli 2021 itu pun membuat rasa takut yang tidak terkira buat orang yang memiliki bakat untuk mengalami gangguan cemas. Itulah mengapa saya menyarankan mereka untuk memotong jalur informasi yang berlebihan yang mereka punya, sehingga paparan berita buruk itu bisa dikurangi atau bahkan dihentikan," kata dr. Andri.

Lalu, bagaimana mengatasi kecemasan yang datang di masa pandemi? Menurut dr. Andri, secara pribadi ia memiliki tiga sikap yang selalu diterapkan di masa pandemi, yakni ikhlas, sabar, dan sadar.

Ketiga sikap ini, yang disebut dr. Andri sebagai mantranya sehari-hari, membantu membuat dirinya lebih tenang. Sebab, kemampuan menerima keadaan seperti apa adanya dan sabar menjalani masalah dalam kehidupan adalh kunci mencapai batin yang seimbang, dan mengurangi kecmasan.

"Hal ini ditambah kesadaran untuk mencoba membawa pikiran selalu ke saat ini dan sekarang (here and now), agar kita tidak terjebak dengan masa lalu dan tidak takut menghadapi masa depan," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Di Balik Centang Biru: Kecemasan Baru dalam Komunikasi

Di Balik Centang Biru: Kecemasan Baru dalam Komunikasi

Your Say | Sabtu, 02 Mei 2026 | 19:11 WIB

Eco-Anxiety di Kalangan Gen Z Meningkat, Ancaman atau Justru Pemicu Aksi Lingkungan?

Eco-Anxiety di Kalangan Gen Z Meningkat, Ancaman atau Justru Pemicu Aksi Lingkungan?

Lifestyle | Selasa, 21 April 2026 | 14:15 WIB

27 Psikiater Analisis Kondisi Mental Donald Trump, Apa Hasilnya?

27 Psikiater Analisis Kondisi Mental Donald Trump, Apa Hasilnya?

News | Kamis, 16 April 2026 | 14:48 WIB

Viral Banner Aku Harus Mati, Psikiater Ingatkan Risiko Trigger Bunuh Diri di Ruang Publik

Viral Banner Aku Harus Mati, Psikiater Ingatkan Risiko Trigger Bunuh Diri di Ruang Publik

News | Selasa, 07 April 2026 | 13:23 WIB

Anxiety Tidak Berbahaya, Itu Tandanya Sistem Tubuhmu Sedang Update

Anxiety Tidak Berbahaya, Itu Tandanya Sistem Tubuhmu Sedang Update

Your Say | Kamis, 02 April 2026 | 12:41 WIB

Dilema Generasi Muda Masa Kini: Antara Gaya Hidup dan Kecemasan Finansial

Dilema Generasi Muda Masa Kini: Antara Gaya Hidup dan Kecemasan Finansial

Your Say | Kamis, 02 April 2026 | 13:00 WIB

Pria Punya Hak untuk Menangis: Belajar Mengolah Duka dari Mencuci Piring

Pria Punya Hak untuk Menangis: Belajar Mengolah Duka dari Mencuci Piring

Your Say | Minggu, 22 Maret 2026 | 12:49 WIB

Ketika Kecemasan Sosial Datang Bersamaan dengan Hari Raya

Ketika Kecemasan Sosial Datang Bersamaan dengan Hari Raya

Your Say | Selasa, 17 Maret 2026 | 19:00 WIB

Hampir 1 dari 10 Anak Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental, Apa Penyebabnya?

Hampir 1 dari 10 Anak Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental, Apa Penyebabnya?

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 21:31 WIB

Tabungan Tipis, Anxiety Berlapis: Realitas Kecemasan Finansial Generasi Muda

Tabungan Tipis, Anxiety Berlapis: Realitas Kecemasan Finansial Generasi Muda

Your Say | Kamis, 05 Maret 2026 | 14:18 WIB

Terkini

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:30 WIB

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:24 WIB

Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 11:17 WIB

Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh

Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:54 WIB

Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya

Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya

Health | Rabu, 06 Mei 2026 | 22:21 WIB

Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat

Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat

Health | Rabu, 06 Mei 2026 | 17:05 WIB

Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?

Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?

Health | Selasa, 05 Mei 2026 | 21:35 WIB

Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat

Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat

Health | Selasa, 05 Mei 2026 | 08:24 WIB

Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik

Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik

Health | Senin, 04 Mei 2026 | 22:10 WIB

Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien

Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien

Health | Senin, 04 Mei 2026 | 15:07 WIB