Tak Hanya Jadi Masalah Wanita, Banyak Pria Tertekan dengan Standar Citra Tubuh Maskulin

Kamis, 24 Maret 2022 | 15:11 WIB
Tak Hanya Jadi Masalah Wanita, Banyak Pria Tertekan dengan Standar Citra Tubuh Maskulin
Ilustrasi tubuh pria berotot (Shutterstock)

Suara.com - Selama ini, isu citra tubuh selalu dikaitkan dengan masalah perempuan saja. Padahal, masalah ini juga memengaruhi laki-laki.

Permasalahan itulah yang diungkap oleh gitaris utama band The Vamps, James Brittain-McVey, baru-baru ini.

James mengaku telah mengalami tekanan akan citra tubuh sejak remaja, membuatnya harus melakukan sedot lemak di usia 20 tahun.

Tekanan ini membuatnya menderita anoreksia, dan itupun dirinya masih merasakan tuntutan agar terlihat seperti yang diinginkan publik.

Berdasarkan The Conversation, diperkirakan 30% hingga 40% pria cemas tentang berat badan dan 85% tidak puas dengan penampilan otot mereka.

Banyak pria yang menginginkan bentuk tubuh ramping dan berotot, bentuk tubuh yang dianggap identik dengan maskulinitas.

"Namun, tekanan citra tubuh dapat berdampak besar pada kesehatan fisik dan mental jika tidak mendapat bantuan yang tepat," jelas Profesor Psikologi Sosial Viren Swami dari Universitas Anglia Ruskin, East of England, Inggris.

Ilustrasi tubuh berotot (Pixabay/Pexels)
Ilustrasi tubuh berotot (Pixabay/Pexels)

Masalah citra tubuh terhadap kesehatan mental

Penelitian menunjukkan masalah citra tubuh pada pria berkaitan dengan harga diri dan kepuasan hidup yang lebih rendah, serta kurangnya percaya diri.

Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Masalah kesehatan mental akibat standar citra tubuh bisa berupa kecemasan parah dan depresi. Diperkirakan sekitar satu dari 10 pria pernah berpikir dan merasa ingin bunuh diri. Sementara 4% pria sengaja melukai diri mereka sendiri.

Masalah citra tubuh juga dapat menyebabkan gangguan makan dan dismorfia otot, suatu kecanduan untuk membentuk otot.

Dampak lainnya dalah kecanduan olahraga, membuat pria selalu merasa tidak puas dengan hasil fisik mereka. Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan ekstrem dan cedera.

"Ini juga berdampak parah pada kehidupan sosial dan pekerjaan seseorang, dan dapat menyebabkan perilaku tidak sehat lainnya, seperti penyalahgunaan steroid anabolik," tandas Swami.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apa Merk HP yang Sesuai Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jika Hidupmu adalah Film, Kamu si Tokoh Antagonis, Protagonis atau Cuman Figuran?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mie Apa yang Kamu Banget? Temukan Karakter Aslimu
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Benar-benar Asli Orang Jogja atau Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Warna Helm Motor Favorit Ungkap Karakter Pasangan Ideal, Tipe Mana Idamanmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kim Seon-ho atau Cha Eun-woo? Cari Tahu Aktor Korea yang Paling Cocok Jadi Pasanganmu!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI