Bukan Bau Tangan, Perawat Sebut Janin Lebih Suka Digendong karen Bisa Dengar Detak Jantung Ibu

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Bukan Bau Tangan, Perawat Sebut Janin Lebih Suka Digendong karen Bisa Dengar Detak Jantung Ibu
Ilustrasi bukan bau tangan, ini alasan bayi lebih senang digendong. (Unsplash.com/Kyle Nieber)

Terungkap alasan mengapa bayi lebih senang digendong, Bukan bau tangan, perawat mengatakan alasannya karena bayi ingin dengar detak jantung ibu.

Suara.com - Perawat Kesehatan Jiwa dari Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa (IPKJ), Evin Novianti tidak setuju dengan istilah bayi bau tangan, sebutan untuk bayi yang lebih suka digendong daripada diletakan di tempat tidur.

Menurut Evin, alasan bayi merasa nyaman saat digendong atau didekap orang tuanya, karena ia mengenang saat masih menjadi janin dan selalu bisa mendengar detak jantung ibu.

"Kenapa bayi digendong diam, karena mengulang kembali di masa di dalam kandungan dengar detak jantung ibunya," ujar Evin dalam acara perayaan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2022 di Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/10/2022).

Perawat Kesehatan Jiwa dari Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa (IPKJ), Evin Novianti. (Dini/Suara.com)
Perawat Kesehatan Jiwa dari Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa (IPKJ), Evin Novianti. (Dini/Suara.com)

Evin meminta orangtua tidak mudah melabeli anak dengan istilah cengeng atau rewel karena tidak digendong, karena digendong adalah hak bayi yang harus dipenuhi.

Baca Juga: HEBOH! Plus-Plus Perawat di Jakarta Timur, Layani Dokter di Ruang Praktek

"Karena hak bayi untuk digendong," tegas Evin.

Lebih lanjut, Evin mengatakan bayi memiliki beragam perkembangan dan cara berbeda untuk mengenal dunia luar sesuai usianya, dari mulai mengenal dengan pendengaran, penglihatan, hingga indra peraba melalui kulitnya.

"Jadi biasanya toddler usia 1 hingga 3 tahun itu suka ngacak-ngacak, karena eksplorasi mencoba berbagai hal. Tapi jika tanpa ilmu lalu anak dimarahi akhirnya bisa memberikan stres ringan pada anak," jelas Evin.

Stresor adalah pengalaman atau situasi yang penuh dengan tekanan. Stres meningkatkan risiko penyakit saat hal-hal tersebut benar-benar mengganggu kehidupan seseorang, bahkan bisa menyebabkan gangguan mental kronis jika berlangsung terus menerus.

"Anak-anak itu sudah 60 persen dalam kondisi stres tapi tidak disampaikan, yang hasilnya keluar dalam bentuk perilaku, saya harus memulai dari awal buka kembali hubungan dengan anak," tutupnya.

Baca Juga: Viral Video Perawat Seksi Panti Jompo Dipecat Gegara Ketahuan Bikin Konten OnlyFans