Tidak Sarapan Bikin Anak Lemot di Sekolah: Ini Penjelasan Dokter Gizi

Kamis, 16 Februari 2023 | 11:10 WIB
Tidak Sarapan Bikin Anak Lemot di Sekolah: Ini Penjelasan Dokter Gizi
Ilustrasi sarapan (Pixabay.com/Pexels)

Suara.com - Masih banyak keluarga Indonesia pilih tidak sarapan sebelum beraktivitas dengan alasan sibuk. Bahkan kebiasaan tidak sarapan ini diterapkan kepada anak sebelum berangkat sekolah, padahal menurut dokter gizi kebiasan buruk ini bisa membuat otak anak lemot alias sulit berpikir.

Menurut Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Cindiawaty Pudjiadi, MARS, MS, SpGK, otak anak masih di tahap perkembangan. Sedangkan agar otak bisa berkembang maka dibutuhkan asupan protein yang mencukupi. Tapi jika anak tidak sarapan, maka kemampuan berpikir anak jadi terhambat.

"Kita membutuhkan sarapan dari anak-anak sampai dewasa. Tidak sarapan bisa susah berpikir. Kebayang nggak kalau anak-anak nggak dikasih sarapan disuruh berpikir, belajar, otaknya nggak dikasih makan, maka lemot," jelas dr. Cindiawaty dalam acara Program Sarapan Berisi Blueband di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/2/2023).

Ilustrasi sarapan (Pixabay.com/Pexels)
Ilustrasi sarapan (Pixabay.com/Pexels)

Dibanding tidak sarapan pada orang dewasa, kondisi terbiasa tidak sarapan pada anak bisa berdampak jangka panjang, karena masa pertumbuhan anak tidak bisa diulang kembali, terlebih jika umurnya sudah bertambah tapi tidak bisa berkembang maksimal.

Fakta yang sama juga diungkap Ketua Pergizi Pangan Prof. Hardinsyah yang menemukan fakta 7 dari 10 anak Indonesia tidak mengonsumsi makanan sehat. Bahkan ada anggapan pagi hari sudah konsumsi teh manis dan biskuit maka dianggap sudah sarapan, padahal itu bukanlah sarapan sehat.

"Karena sarapan sehat itu kegiatan makan minum yang aman dan bergizi, paling tidak memenuhi 15 hingga 35 persen dari kebutuhan gizi harian yang dilakukan setiap hari," paparnya.

Sementara itu, dr. Cindiawaty menjelaskan jika tolok ukur sarapan sehat adalah makan minum yang mengandung gizi seimbang, dari mulai karbohidrat, protein, serat hingga lemak tak jenuh.

"Isinya nggak hanya karbohidrat. Apalagi anak-anak butuh juga sumber protein. Kalau tidak sarapan, bagaiaman dia memenuhi kebutuhan tubuh sehari-hari. Oke karbohidrat kita penuhi, protein bisa apa saja, misal telur. Jangan lupa, kita tetap butuh lemak. Lemak tidak jenuh itu bisa lemak omega 3 dan 6, makanya disebut lemak esensial," jelas dr. Cindiawaty.

Baca Juga: Pulang dari Jakarta! Gibran Sempat Keceplosan Selesai Mengurus Pekerjaan untuk Masa Depan, Soal Pilgub DKI Kah?

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, atau Plankton?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI