Perbedaan Empty Sella Syndrome dan Meningitis, Penyakit yang Diderita Ruben Onsu dan Olga Syahputra

Kamis, 23 Mei 2024 | 14:19 WIB
Perbedaan Empty Sella Syndrome dan Meningitis, Penyakit yang Diderita Ruben Onsu dan Olga Syahputra
Ruben Onsu dan Olga Syahputra [Instagram]

Suara.com - Di tengah kabar sakit yang diderita Ruben Onsu, tak sedikit warganet yang teringat dengan mendiang Olga Syahputra. Pasalnya, penyakit yang dialami kedua presenter tersebut memiliki kemiripan.

Tak sekadar penyakit, bahkan banyak yang berspekulasi kalau penyakit yang diderita Ruben dan Olga sama-sama terkait dengan guna-guna.

Faktanya, Ruben dan Olga menderita penyakit yang berbeda. Ruben disebut mengidap empty sella sydrome, sementara Olga mengidap meningitis yang menyebabkannya meninggal dunia. Berikut perbedaannya:

Empty Sella Syndrome

Melansir laman WebMD, empty sella syndrome (ESS) merupakan kondisi penumpukan cairan tulang belakang yang menekan kelenjar pituitari. Kelenjar pituitari sendiri merupakan penghasil hormon yang membantu mengendalikan banyak proses dan fungsi organ pada tubuh

Penyakit ini biasanya lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan lelaki. Selain itu, penyakit ini sering dialami pada orang-orang yang mengalami obesitas atau memiliki tekanan darah tinggi.

Beberapa gejala umum di antaranya adalah sakit kepala, tekanan darah tinggi, kelelahan, impotensi (pada lelaki), gairah seks rendah, menstruasi tidak teratur (pada perempuan), hingga infertilitas

Bahkan untuk beberapa kasus, gejala yang timbul meliputi perasaan tertekan di dalam tengkorak, cairan tulang belakang bocor dari hidung, pembengkakan di mata, hingga penglihatan kabur.

Penyakit ini bukanlah kondisi yang mengancam jiwa. Penderitanya dapat melakukan beberapa pengobatan seperti melalui konsumsi obat-obatan hingga operasi.

Baca Juga: Riwayat Hidup Ruben Onsu Terima Honor Cuma Goceng hingga Beli Nasi Padang Sebungkus untuk Sekeluarga

Meningitis

Mengutip Halodoc, penyakit meningitis yang diderita Olga merupakan peradangan pada meningen, yaitu lapisan pelindung otak dan saraf tulang belakang.

Kondisi meningitis ini disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit. Seseorang dengan daya tahan tubuh lemah dapat memicu terjadinya meningitis.

Gejala yang muncul antara lain kejang, gangguan sensorik, dan gangguan perilaku pada pengidap. Bukan hanya itu, meningitis juga bisa membuat penurunan kesadaran dan edema otak yang membahayakan.

Pengobatan meningitis tergantung dengan jenis yang dialaminya, apakah penyakit tersebut disebabkan karena infeksi, virus, jamur, atau parasit.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI