Indonesia Jadi Negara Minuman Berpemanis Tertinggi di Asia Pasifik, Kata Kemenkes

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 02 Juli 2024 | 10:53 WIB
Indonesia Jadi Negara Minuman Berpemanis Tertinggi di Asia Pasifik, Kata Kemenkes
Pengunjung memilih produk minuman berpemanis di salah satu ritel di Jakarta, Senin (18/12/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Indonesia menjadi negara dengan tingkat konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) tertinggi di Asia Pasifik, menurut Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Yudhi Pramono. Data ini berasal dari GlobalData Q2 2021 Consumer Survey pada Juni 2021.

Yudhi menekankan pentingnya intervensi untuk mengendalikan konsumsi gula di Indonesia. Dia juga mengutip Survei Konsumsi Makanan Individu dari Litbangkes pada 2014 yang menunjukkan rata-rata konsumsi garam penduduk Indonesia adalah 2764 mg per orang per hari.

Selain itu, Survei Konsumsi Makanan Individu pada 2015 menunjukkan 27 persen penduduk Indonesia mengonsumsi lemak total melebihi batas rekomendasi harian, yaitu lebih dari 67 gram per hari.

Pengunjung memilih produk minuman berpemanis di salah satu ritel di Jakarta, Senin (18/12/2023).  [Suara.com/Alfian Winanto]
Pengunjung memilih produk minuman berpemanis di salah satu ritel di Jakarta, Senin (18/12/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

"Kami mendorong industri pangan untuk melakukan reformulasi, yaitu menurunkan kandungan gula, garam, lemak dalam pangan sesuai batas yang telah ditetapkan," ujar Yudhi seperti dikutip dari ANTARA. 

Yudhi menggarisbawahi pentingnya reformulasi produk pangan untuk menurunkan kandungan GGL. Kemenkes juga mengedukasi masyarakat tentang risiko kesehatan dari konsumsi gula lebih dari 50 gram, natrium lebih dari 200 mg, dan lemak lebih dari 67 gram per orang per hari, yang dapat menyebabkan hipertensi, diabetes, dan serangan jantung.

Kemenkes juga mendorong industri pangan untuk menyediakan lebih banyak makanan dan minuman rendah GGL di sekolah, tempat kerja, supermarket, restoran, dan ruang publik lainnya. Selain itu, Kemenkes mengkampanyekan diet sehat melalui media massa dan mendorong penerapan label pada produk yang mengandung GGL.

"Kami juga mendorong pembatasan waktu tayang, lokasi, dan sasaran iklan pangan yang mengandung tinggi gula, garam, lemak," ucapnya.

Strategi lainnya termasuk menetapkan regulasi untuk mengatur kandungan GGL dalam pangan, menetapkan batas maksimum kandungan GGL, serta kebijakan fiskal untuk mengurangi konsumsi berlebihan. Kemenkes juga mendorong pembatasan iklan pangan tinggi GGL.

baca juga
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Korupsi APD Covid-19 di Kemenkes, Dokter hingga Orang Berinisial ET Dicekal KPK ke Luar Negeri

Korupsi APD Covid-19 di Kemenkes, Dokter hingga Orang Berinisial ET Dicekal KPK ke Luar Negeri

News | Selasa, 25 Juni 2024 | 18:46 WIB

Anak di India Positif Flu Burung, Apakah Bakal Terjadi Juga di Indonesia?

Anak di India Positif Flu Burung, Apakah Bakal Terjadi Juga di Indonesia?

Health | Sabtu, 22 Juni 2024 | 13:19 WIB

HOAKS! Isu Kemenkes Diduga Ancam Dokter yang Kritik Menteri Budi Gunadi dalam Webinar

HOAKS! Isu Kemenkes Diduga Ancam Dokter yang Kritik Menteri Budi Gunadi dalam Webinar

Lifestyle | Senin, 17 Juni 2024 | 18:38 WIB

Terkini

Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja

Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja

Jogja | Selasa, 29 September 2026 | 17:37 WIB

AI Bikin Produk Digital Makin Cepat, Tapi Berguna bagi Bisnis?

AI Bikin Produk Digital Makin Cepat, Tapi Berguna bagi Bisnis?

Bisnis | Selasa, 29 September 2026 | 17:37 WIB

BRIN Ungkap Dampak Buruk Vape: Masalah Diabetes sampai Celah Penyebaran Narkoba

BRIN Ungkap Dampak Buruk Vape: Masalah Diabetes sampai Celah Penyebaran Narkoba

News | Selasa, 29 September 2026 | 17:36 WIB

Sempat Tembus Rp18.000, Rupiah Ditutup di Rp17.981 per Dolar AS

Sempat Tembus Rp18.000, Rupiah Ditutup di Rp17.981 per Dolar AS

Foto | Selasa, 29 September 2026 | 17:34 WIB

Diumumkan Meninggal Lewat Pengeras Suara Masjid, Pria di Sampang Tiba-tiba Pulang Segar Bugar

Diumumkan Meninggal Lewat Pengeras Suara Masjid, Pria di Sampang Tiba-tiba Pulang Segar Bugar

Jatim | Selasa, 29 September 2026 | 17:34 WIB

Tak Hanya Fasilitas Mewah, Ombudsman Juga Temukan Indikasi Pungli di Lapas Cibinong

Tak Hanya Fasilitas Mewah, Ombudsman Juga Temukan Indikasi Pungli di Lapas Cibinong

News | Selasa, 29 September 2026 | 17:32 WIB

Kuota LPG 3Kg Dikurangi, Pemerintah Harus Hati-hati

Kuota LPG 3Kg Dikurangi, Pemerintah Harus Hati-hati

Bisnis | Selasa, 29 September 2026 | 17:31 WIB

ASN Gugur di Latsarmil, Masih Perlukah Bela Negara Gaya Militeristik?

ASN Gugur di Latsarmil, Masih Perlukah Bela Negara Gaya Militeristik?

News | Selasa, 29 September 2026 | 17:31 WIB

IHSG Masih Tertekan, Saham Teknologi Masih Jadi Beban

IHSG Masih Tertekan, Saham Teknologi Masih Jadi Beban

Bisnis | Selasa, 29 September 2026 | 17:30 WIB

Ruang Penguatan Sempit, Rupiah Berpotensi Permanen di Level Rp18.000

Ruang Penguatan Sempit, Rupiah Berpotensi Permanen di Level Rp18.000

Bisnis | Selasa, 29 September 2026 | 17:30 WIB

×