Mantan Menkes Nila Moeloek Angkat Bicara Soal Susu Ikan: Perlu Biaya dan Teknologi Tinggi!

Senin, 23 September 2024 | 15:13 WIB
Mantan Menkes Nila Moeloek Angkat Bicara Soal Susu Ikan: Perlu Biaya dan Teknologi Tinggi!
Ilustrasi susu ikan (freepik)

Suara.com - Mantan Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, angkat bicara soal rencana menjadikan susu ikan sebagai pengganti susu sapi untuk program makan siang gratis yang diinisiasi presiden terpilih 2024, Prabowo Subianto.

Nila mengatakan pembuatan susu ikan berarti dilakukan dengan cara mengubah ikan utuh dalam bentuk bubuk. Proses inilah yang dinilai harus ada bahan lain yang ditambahkan, agar ikan bisa tahan lama.

"Saya mencoba melihat, memang ikan itu kaya protein. Tapi kalau dibuat jadi bubuk, itu jadi susu, tentu ada mineral lagi atau vitamin yang ditambahkan, itu yang saya tahu. Jadi mungkin lebih mudah anak-anak memakannya," jelas Prof. Nila dalam acara diskusi kajian Fokus Kesehatan Indonesia (FKI) di Jakarta Selatan, Kamis, 19 September 2024.

Alih-alih membuat susu ikan, Prof. Nila mengakui konsumsi ikan segar dalam bentuk utuh lebih baik. Meskpun ia mengakui, tidak semua orang menyukai ikan karena aromanya yang cenderung amis.

"Tapi di Indonesia ini, memang ikan banyak sekali. Cuma alasannya kalau makan ikan katanya amis, padahal cara masaknya, jangan cuma goreng ikan doang, saya rasa banyak sih (cara makannya)," papar Direktur FKI itu.

Menteri Kesehatan periode 2014-2019 itu juga mengatakan dibanding ikan segar, pembuatan susu ikan juga akan membuat tambahan biaya yang tidak sedikit. Ini karena bukan hanya proses membuat susu ikan yang perlu teknologi tinggi, tapi juga kemasan hingga distribusi ke seluruh Indonesia.

"Mungkin bervariasi, kalau daerah gampang dapat ikan, kenapa nggak ikannya saja. Karena ini akan ada cost juga kan, dibuat lalu di-packaging, kan ada harga. Jadi ada biaya lagi," jelasnya.

"Padahal ikan setahu saya di daerah pasti punya kolam ikan, ikannya itu bagus-bagus," sambung Prof. Nila.

Asal usul susu ikan

Baca Juga: Susu Ikan Diklaim Lebih Kaya Omega 3 Alami Dibandingkan Susu Sapi: Bagus Untuk Jantung Dan Otak

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membeberkan asal-usul inovasi susu ikan yang kini menjadi alternatif susu sapi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Produk susu ikan berasal dari Hidrolisat Protein Ikan (HPI), yang merupakan hasil riset Pusat Riset Bioindustri Laut dan Darat sejak 2017.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Budi Sulistyo mengatakan, inovasi susu ikan ini telah dikenalkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bersama Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, tahun 2023 lalu.

Produk ini dihasilkan melalui proses panjang riset hingga akhirnya diperkenalkan sebagai bagian dari program Makan Bergizi Gratis.

Dalam program MBG, susu ikan berperan sebagai sumber alternatif protein bagi masyarakat. Produk ini difortifikasi ke berbagai bahan pangan pokok, seperti tepung dan sagu, untuk meningkatkan kandungan protein.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI