Makan Malam Berat Berisiko Picu Diabetes? Ini Hasil Studi Terbaru

Riki Chandra Suara.Com
Kamis, 21 November 2024 | 16:15 WIB
Makan Malam Berat Berisiko Picu Diabetes? Ini Hasil Studi Terbaru
Ilustrasi makan mie instant (pexels/PonyWang)

Suara.com - Makan berat pada malam hari bisa berdampak buruk pada kesehatan, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki masalah berat badan. Fakta itu terungkap dari hasil penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Nutrition & Diabetes.

Temuan ini menyoroti pentingnya waktu makan dalam menjaga kadar glukosa darah tetap stabil. Tim peneliti dari Oberta de Catalunya di Spanyol dan Universitas Columbia di Amerika Serikat menemukan bahwa mengonsumsi lebih dari 45 persen asupan kalori setelah pukul 17.00 secara signifikan memengaruhi kadar glukosa darah.

Hal ini berlaku tanpa memandang berat badan atau tingkat lemak tubuh seseorang. Kadar glukosa yang tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

Pemimpin penelitian, Diana Díaz Rizzolo menjelaskan, makan berat pada malam hari dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah akibat tingginya kadar glukosa.

“Peningkatan peradangan kronis yang disebabkan oleh kadar gula tinggi ini dapat memperburuk risiko kardiovaskular dan metabolik,” ujar Rizzolo, Kamis (21/11/2024).

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa makan larut malam sering kali membuat orang cenderung memilih makanan olahan dan makan berlebihan. Kondisi ini dipicu oleh terganggunya hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, terutama ketika jadwal makan terlambat dari jam ideal.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa waktu makan saja dapat memengaruhi metabolisme glukosa, terlepas dari total kalori yang dikonsumsi sepanjang hari.

Pemakan larut malam memiliki toleransi glukosa yang lebih buruk dibandingkan pemakan awal, yang mengonsumsi sebagian besar kalori sebelum malam hari.

“Tubuh memiliki keterbatasan untuk memetabolisme glukosa di malam hari karena sekresi insulin berkurang dan sensitivitas sel terhadap hormon ini menurun,” jelas Rizzolo.

Ritme sirkadian tubuh yang diatur oleh jam internal berperan besar dalam hal ini. Peneliti menyarankan agar asupan kalori lebih banyak dikonsumsi saat sarapan dan makan siang.

Langkah ini diyakini dapat membantu menjaga kadar glukosa tetap stabil dan mengurangi risiko penyakit jangka panjang.

Uji coba dilakukan pada 26 peserta berusia 50–70 tahun yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, serta memiliki pradiabetes atau diabetes tipe 2. Hasil menunjukkan bahwa makan berat pada malam hari berdampak negatif pada metabolisme glukosa, terlepas dari kondisi fisik peserta. (antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI