Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin

Dinda Rachmawati Suara.Com
Jum'at, 09 Januari 2026 | 08:28 WIB
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
Ilustrasi suntik insulin. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Bencana banjir dan longsor akhir 2025 di Sumatra memicu krisis insulin bagi ribuan pasien diabetes akibat kerusakan fasilitas dan distribusi obat.
  • Kementerian Kesehatan dan ahli menekankan bahwa terhentinya terapi insulin dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama bagi penderita diabetes tipe 1.
  • Novo Nordisk bersama mitra menyalurkan 13.700 pen insulin kepada sekitar 500 pasien di daerah terdampak bencana Sumatra.

Suara.com - Banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025 bukan hanya merenggut ribuan nyawa dan menghancurkan ratusan ribu rumah, tetapi juga memicu krisis kesehatan yang senyap bagi para penyandang penyakit kronis, khususnya diabetes

Di tengah rusaknya fasilitas kesehatan dan terputusnya jalur distribusi obat, ribuan pasien diabetes menghadapi ancaman serius: terhentinya terapi insulin yang menjadi penopang hidup mereka.

Data BNPB mencatat lebih dari 147 ribu rumah dan 219 fasilitas kesehatan rusak di wilayah Sumatera akibat bencana tersebut. Kondisi ini membuat akses terhadap layanan kesehatan dan obat-obatan, termasuk insulin, menjadi sangat terbatas. 

Padahal bagi penyandang diabetes, terutama diabetes tipe 1, insulin bukan sekadar obat, melainkan kebutuhan vital yang menentukan hidup dan mati.

Direktur Pengelolaan dan Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan RI, Dr. Dra. Agusdini Banun Saptaningsih, Apt., MARS, menegaskan bahwa situasi darurat seperti bencana alam dapat mengancam keberlangsungan terapi pasien dengan penyakit kronis. 

“Bencana alam sangat berdampak pada keberlangsungan pengobatan pasien dengan penyakit kronis, termasuk diabetes. Dalam situasi darurat seperti ini, ketersediaan obat esensial seperti insulin menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa terputusnya terapi berisiko memicu komplikasi serius, sehingga kolaborasi berbagai pihak menjadi sangat penting untuk menjaga pasien tetap mendapatkan pengobatan.

Dari perspektif penanganan pasien anak, tantangan ini terasa jauh lebih mendesak. Prof. Dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, (K), FAAP, FRCPI (Hon.), Project Lead CDiC, mengungkapkan bahwa lebih dari 50 anak dengan diabetes tipe 1 tercatat berada di wilayah terdampak bencana dan membutuhkan insulin secara terus-menerus. 

“Bagi anak dan remaja dengan diabetes tipe 1, terapi insulin merupakan kebutuhan vital yang tidak boleh terputus dalam kondisi apa pun. Terputusnya akses insulin, bahkan dalam waktu singkat, dapat berakibat fatal dan membahayakan keselamatan mereka,” tegasnya.

Baca Juga: Banjir Sumatera: Air yang Mengajarkan Ketangguhan Hati

¹Menurutnya, inisiatif donasi insulin ini memberikan harapan nyata agar anak-anak tersebut tetap dapat melanjutkan terapi mereka secara aman di tengah situasi darurat.

Ketua PB PERSADIA, Dr. dr. K. Heri Nugroho, SpPD, KEMD, FINASIM, juga menyoroti tingginya kerentanan pasien diabetes saat bencana melanda. Banjir dan longsor, katanya, tidak hanya merusak rumah dan jalan, tetapi juga memutus rantai distribusi obat. 

“Banjir yang melanda beberapa daerah di Sumatra menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan, terputusnya jalur distribusi obat, serta keterbatasan akses pasien terhadap insulin—obat esensial yang tidak boleh terhenti,” ujarnya.

Di tengah kondisi yang penuh keterbatasan itu, Novo Nordisk Indonesia bersama Kementerian Kesehatan RI, Changing Diabetes in Children (CDiC), dan Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) menyalurkan donasi sebanyak 13.700 pen insulin untuk mendukung keberlanjutan terapi pasien diabetes di wilayah terdampak. 

Donasi ini ditujukan untuk menjangkau sekitar 500 pasien diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2, di kabupaten dan kota terdampak di tiga provinsi tersebut.

Sementara itu, General Manager Novo Nordisk Indonesia, Sreerekha Sreenivasan, menegaskan bahwa bencana alam tidak boleh menjadi alasan terputusnya pengobatan bagi pasien diabetes. 

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI