- Orang tua masa kini perlu mendampingi anak dalam game online, bukan hanya sekadar mengontrol aktivitas mereka.
- Pendampingan ideal mencakup pembuatan batasan bermain yang disepakati, pemahaman jenis game, dan edukasi keamanan digital.
- Orang tua juga harus mengajarkan pengelolaan uang dan pentingnya keamanan transaksi saat melakukan pembelian dalam game (top up).
Suara.com - Di era serba digital seperti sekarang, peran orang tua tak lagi sebatas mengawasi jam belajar atau memastikan anak makan tepat waktu. Ketika anak mulai akrab dengan dunia game online, orang tua juga dituntut hadir sebagai pendamping—bukan sekadar pengontrol. Gaming sudah menjadi bagian dari keseharian generasi muda, dan pendekatan yang bijak jauh lebih efektif dibanding larangan sepihak.
Lalu, seperti apa pendampingan yang ideal?
1. Membuat Batasan yang Jelas dan Disepakati Bersama
Durasi bermain tetap perlu diatur. Bukan dengan ancaman, tetapi lewat kesepakatan yang dipahami anak. Misalnya, game hanya dimainkan setelah tugas sekolah selesai atau maksimal beberapa jam di akhir pekan. Aturan yang dibicarakan bersama cenderung lebih dihargai daripada aturan yang dipaksakan.
2. Memahami Dunia yang Anak Mainkan
Orang tua tidak harus jago bermain game, tetapi memahami jenis game yang dimainkan anak adalah langkah penting. Apakah game tersebut kompetitif? Apakah ada fitur komunikasi dengan orang asing? Dari sini, orang tua bisa mengantisipasi risiko seperti cyberbullying atau interaksi yang tidak sehat.
3. Mengajarkan Etika dan Keamanan Digital
Game online sering terhubung dengan media sosial dan fitur chat. Anak perlu diberi pemahaman tentang pentingnya menjaga data pribadi, tidak membagikan password, dan berhati-hati terhadap tautan mencurigakan. Literasi digital menjadi bekal utama agar mereka tidak mudah tertipu.
4. Mengajarkan Pengelolaan Uang, Termasuk Saat Top Up
Baca Juga: Anatomi Hoaks: Cara Mengenali Berita Palsu Hanya dari Judul dan Format
Salah satu aspek yang sering luput dari perhatian adalah kebiasaan top up untuk membeli diamond, UC, atau item dalam game. Di sinilah orang tua bisa masuk sebagai mentor finansial. Anak perlu belajar bahwa uang memiliki batas dan prioritas. Top up bisa dijadikan momen edukasi tentang budgeting: berapa alokasi hiburan, bagaimana cara memilih layanan yang aman, dan kenapa tidak semua promo harus diambil.
Keamanan transaksi juga menjadi perhatian penting. Tidak sedikit kasus akun game terkena banned atau saldo hilang karena menggunakan layanan ilegal atau tidak resmi. Padahal bagi anak, akun game adalah “aset” yang dibangun dari waktu dan usaha mereka.
Karena itu, memilih platform top up yang terintegrasi langsung dengan penyedia game resmi menjadi pertimbangan banyak orang tua. Selain meminimalkan risiko banned, transaksi yang transparan dan metode pembayaran yang jelas juga membantu anak belajar bertransaksi secara bertanggung jawab.
Country Director topup.id, Agung Dwi Sandi, menegaskan pentingnya aspek keamanan dalam transaksi digital untuk gamer. “Kami memahami bahwa bagi seorang gamer, akun adalah aset yang sangat berharga. Itulah mengapa sistem kami terintegrasi langsung dengan penyedia layanan game resmi agar transaksi lebih aman,” ujarnya.
Pada akhirnya, mendampingi anak gamer bukan soal membatasi kesenangan mereka, melainkan memastikan hobi tersebut berjalan sehat, aman, dan tetap dalam koridor nilai keluarga. Dengan batasan yang jelas, literasi digital yang kuat, serta pilihan transaksi yang aman, orang tua bisa hadir sebagai mitra—bukan lawan—di dunia digital anak.