Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker

Dinda Rachmawati

Senin, 20 April 2026 | 09:10 WIB
Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker
Ilustrasi Neuropati Perifer pada Pasien Diabetes (Freepik)
baca 10 detik
  • Pakar farmasi Asia Pasifik dan P&G Health meluncurkan pedoman deteksi dini neuropati perifer bagi apoteker komunitas.
  • Pedoman ini bertujuan mengatasi rendahnya diagnosis neuropati perifer pada pasien diabetes melalui skrining praktis metode MEDIC.
  • Apoteker berperan sebagai garda terdepan untuk melakukan identifikasi risiko, pemberian konseling, serta kolaborasi medis bagi pasien.

Suara.com - Neuropati perifer (NP) menjadi salah satu komplikasi diabetes yang sering luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa sangat mengganggu kualitas hidup pasien. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan saraf, terutama di tangan dan kaki, yang memicu gejala seperti kesemutan, mati rasa, sensasi terbakar, hingga nyeri seperti tertusuk jarum. 

Di kawasan Asia Pasifik, masalah ini bahkan tergolong masif, diperkirakan satu dari dua pasien diabetes mengalami neuropati perifer, dan hingga 80% kasusnya belum terdiagnosis.

Situasi ini mendorong para pakar farmasi di kawasan Asia Pasifik bersama P&G Health meluncurkan pedoman khusus bagi apoteker komunitas untuk membantu mendeteksi dan menangani neuropati perifer secara lebih dini. 

Pedoman ini dirancang agar praktis digunakan dalam keseharian apotek, sekaligus menjembatani kesenjangan antara gejala awal dan penanganan medis yang tepat.

Menurut Ketua Penulis pedoman, yang juga Profesor di Fakultas Farmasi University of the Philippines, Yolanda R. Robles, neuropati perifer merupakan masalah kesehatan yang sangat umum namun sering kali tidak tertangani dengan optimal. 

NP kata dia merupakan gangguan kesehatan yang banyak ditemui di berbagai wilayah, dan kerap kali memperparah kondisi pasien. Prevalensi NP sangat tinggi pada pasien diabetes di Asia Pasifik, Filipina (58%), Indonesia (58%), Malaysia (54%), Thailand (34%), Singapura (28%), dan Australia (21%). 

"Sebagai tenaga kesehatan yang paling mudah diakses, apoteker diharapkan dapat mengenali gejala NP secara lebih dini, memberikan arahan yang tepat bagi pasien, serta bekerja sama dengan dokter guna meningkatkan kondisi pasien dalam jangka panjang,” jelasnya.

Gejala neuropati perifer sering kali dianggap sepele oleh pasien. Banyak yang mengira kesemutan atau kebas hanyalah keluhan biasa akibat kelelahan. Padahal, menurut Shraddha Vohra, P&G HealthVice President, Personal Health Care Asia Pacific di P&G Health Singapore gejala tersebut bisa menjadi tanda awal kerusakan saraf. 

“Apotek komunitas menjadi titik awal bagi masyarakat yang mengalami gejala seperti mati rasa, kesemutan, sensasi terbakar, atau rasa tertusuk jarum di tangan dan kaki. Dengan demikian, apoteker sangat berperan dalam mengenali gejala NP sejak dini, memandu pasien untuk menjalani perawatan yang tepat, serta mencegah gejala penyakit memburuk,” ujarnya.

baca juga

Peran apoteker kini tidak lagi sekadar memberikan obat, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam skrining awal. Hal ini sangat relevan di negara seperti Indonesia, di mana akses terhadap dokter masih terbatas di beberapa wilayah. Lusy Noviani, Perwakilan Ikatan Apoteker Indonesia sekaligus penulis kontributor) dalam pedoman menegaskan perubahan peran tersebut. 

“Apoteker di Asia-Pasifik kini tidak hanya menangani pemberian obat, namun juga berperan sebagai garda terdepan dalam deteksi dini dan perawatan proaktif. Peran ini menjadi sangat penting dalam skrining awal dan mengurangi keterlambatan penanganan NP,” ungkapnya.

Pedoman terbaru ini juga memperkenalkan pendekatan praktis melalui mnemonik sederhana bernama MEDIC, yang membantu apoteker mengenali pasien berisiko tinggi. MEDIC mencakup faktor Medication, Elderly, Diabetes, Infection, dan Chronic. Dengan pendekatan ini, proses identifikasi risiko menjadi lebih cepat tanpa mengganggu alur kerja di apotek. 

Dr. Navin Kumar Loganadan menjelaskan, “MEDIC merupakan alat bantu yang mudah diingat untuk mengidentifikasi pasien berisiko mengalami kerusakan saraf sejak dini, bukan untuk mendiagnosis penyakit, namun menentukan penanganan selanjutnya.”

Selain itu, apoteker juga didorong untuk menggunakan alat skrining sederhana seperti kuesioner tervalidasi, membedakan jenis nyeri saraf dan nyeri otot, hingga memberikan konseling yang tepat. 

Dalam beberapa kasus, terapi seperti vitamin B neurotropik (B1, B6, dan B12) dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari penanganan, tentunya dengan dosis yang tepat dan pemantauan berkala.

Permasalahan lain yang sering terjadi adalah praktik swamedikasi yang tidak tepat. Banyak pasien mengonsumsi vitamin B tanpa dosis yang sesuai, sehingga tidak memberikan manfaat optimal, bahkan berisiko memperburuk kondisi. 

Dr. Kenny James P. Merin, Akademisi di Lyceum of the Philippines University Davao (Filipina) sekaligus penulis kontributor menekankan pentingnya peran apoteker dalam hal ini. 

“Langkahnya jelas: identifikasi risiko, skrining, memberikan konseling, mempertimbangkan vitamin B dosis terapeutik bila perlu, lalu melakukan tindak lanjut secara konsisten. Dengan algoritma yang ada, apoteker dapat melakukan standardisasi layanan tanpa mengganggu alur kerja,” jelasnya.

Pendekatan yang tepat tidak berhenti pada pemberian terapi, tetapi juga pemantauan jangka panjang. Dr. Kitiyot Yotsombut, Dosen di Fakultas Farmasi Chulalongkorn University, Thailand, serta penulis kontributor menegaskan bahwa evaluasi berkala menjadi kunci keberhasilan penanganan. 

“Vitamin B neurotropik dengan dosis terapeutik ikut berperan dalam penanganan NP secara komprehensif jika diberikan dengan dosis dan durasi yang tepat. Pedoman ini menekankan pentingnya evaluasi ulang dalam 3–6 bulan, kewaspadaan terhadap tanda-tanda berbahaya, serta kolaborasi erat dengan dokter,” ujarnya.

Dengan adanya pedoman ini, diharapkan deteksi neuropati perifer pada pasien diabetes dapat dilakukan lebih cepat dan merata, terutama melalui apotek sebagai fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. 

Perubahan pendekatan dari reaktif menjadi proaktif menjadi kunci penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, sekaligus membantu pasien mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik di tengah perjalanan penyakit diabetes.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Health | Minggu, 12 April 2026 | 22:48 WIB

5 Varian Nastar Rendah Gula untuk Penderita Diabetes, Cemilan Aman untuk Lebaran

5 Varian Nastar Rendah Gula untuk Penderita Diabetes, Cemilan Aman untuk Lebaran

Lifestyle | Minggu, 15 Maret 2026 | 08:00 WIB

Jaga Gula Darah Seharian, Penderita Diabetes Wajib Atur Pola Makan

Jaga Gula Darah Seharian, Penderita Diabetes Wajib Atur Pola Makan

Health | Rabu, 11 Maret 2026 | 11:00 WIB

Terkini

Buku Tuhan Maha Asyik: Menikmati Perjalanan Spiritual Bersama Sujiwo Tejo

Buku Tuhan Maha Asyik: Menikmati Perjalanan Spiritual Bersama Sujiwo Tejo

Your Say | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:15 WIB

4 Rekomendasi HP Mid Range Kamera Mirip iPhone, Hasil Foto Tak Kalah Jernih dan Estetik

4 Rekomendasi HP Mid Range Kamera Mirip iPhone, Hasil Foto Tak Kalah Jernih dan Estetik

Tekno | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:05 WIB

Wisata Candi Plaosan Kian Bergeliat, UMKM Desa Bugisan Raup Kenaikan Pendapatan 31 Persen

Wisata Candi Plaosan Kian Bergeliat, UMKM Desa Bugisan Raup Kenaikan Pendapatan 31 Persen

Surakarta | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:03 WIB

Panda Bond Perdana dari Purbaya Laris Manis, Dipesan Investor China hingga Rp 45 Triliun

Panda Bond Perdana dari Purbaya Laris Manis, Dipesan Investor China hingga Rp 45 Triliun

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:02 WIB

BCA Bidik Pertumbuhan Transaksi Digital di Ultah Blok M, Tebar Banyak Promo

BCA Bidik Pertumbuhan Transaksi Digital di Ultah Blok M, Tebar Banyak Promo

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 20:00 WIB

Hunian Sehat Makin Dilirik, Industri Kini Terapkan Formula Material Ramah Lingkungan

Hunian Sehat Makin Dilirik, Industri Kini Terapkan Formula Material Ramah Lingkungan

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:56 WIB

Konten Video Pendek dan Live Streaming Bikin Bisnis UMKM Melejit hingga 135%

Konten Video Pendek dan Live Streaming Bikin Bisnis UMKM Melejit hingga 135%

Bisnis | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:52 WIB

BNI Jelaskan Inisiatif Orang Tua Percepat Aktivasi PIP

BNI Jelaskan Inisiatif Orang Tua Percepat Aktivasi PIP

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:51 WIB

Anak-Anak Bambu: Ketika Rumah Beralas Bambu Mengajarkan Arti Keluarga

Anak-Anak Bambu: Ketika Rumah Beralas Bambu Mengajarkan Arti Keluarga

Your Say | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:40 WIB

Sebelum Jadi Deputi BGN, Ini Warisan Penanganan Kasus Ketut Sumedana di Kejati Sumsel

Sebelum Jadi Deputi BGN, Ini Warisan Penanganan Kasus Ketut Sumedana di Kejati Sumsel

Sumsel | Jum'at, 24 Juli 2026 | 19:38 WIB

×