- Dr. Krissy Ladner menyatakan air putih saja tidak cukup untuk mengganti elektrolit yang hilang saat berolahraga intensitas tinggi.
- Kehilangan cairan tubuh lebih dari 2% akibat keringat dapat menurunkan performa fisik, kecepatan, serta konsentrasi secara signifikan.
- Untuk menjaga performa, atlet dan pegiat olahraga perlu mengonsumsi minuman elektrolit serta karbohidrat selama beraktivitas lebih dari satu jam.
Artinya, seseorang yang rutin berlari jarak jauh, bersepeda, bermain futsal, mendaki, atau mengikuti kelas olahraga intensitas tinggi perlu lebih memperhatikan asupan cairan dan elektrolit, bukan sekadar minum saat merasa haus.
Untuk mengetahui apakah tubuh mengalami dehidrasi, ada dua cara sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, timbang berat badan sebelum dan sesudah olahraga. Jika berat badan turun hingga 2% atau lebih, itu bisa menjadi tanda dehidrasi. Kedua, perhatikan warna urine.
Warna kuning muda seperti limun menandakan hidrasi yang baik, sedangkan warna lebih gelap menunjukkan tubuh membutuhkan lebih banyak cairan.
Pesan utama dari para ahli pun sederhana: dehidrasi dapat memengaruhi performa fisik, konsentrasi, hingga keselamatan saat beraktivitas.
Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi ketika tubuh kehilangan banyak keringat selama olahraga intens, tambahan elektrolit dan karbohidrat mungkin dibutuhkan agar tubuh dapat bekerja secara optimal.
"Jadi, lain kali ketika Anda menyaksikan pertandingan dan peluit tanda waktu istirahat dibunyikan, jangan menganggapnya sebagai jeda semata. Anggaplah itu sebagai momen ketika hasil babak kedua mulai ditentukan, seteguk demi seteguk," tutup Dr. Ladner.