- Dr. Luigi Gratton dari Herbalife menyatakan bahwa performa atlet elite didukung oleh rutinitas kebiasaan kecil harian.
- Kebiasaan tersebut mencakup pembagian asupan protein secara berkala, penyesuaian karbohidrat, serta pencegahan dehidrasi tubuh secara rutin.
- Pemulihan optimal juga didukung melalui tidur cukup, konsumsi buah berwarna gelap, dan aktivitas fisik ringan harian.
Suara.com - Apa yang membuat seorang atlet mampu tampil konsisten di level tertinggi? Banyak orang mungkin langsung menjawab latihan keras, disiplin, atau program kebugaran yang ketat.
Namun, menurut Dr. Luigi Gratton, Vice President of Health and Wellness Herbalife, performa seorang atlet elite sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan saat bertanding.
Justru, rutinitas sederhana yang dilakukan berulang kali di luar arena memiliki peran besar dalam membangun fondasi performa.
“Yang membedakan mereka adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bahkan pada hari-hari ketika tidak ada yang memperhatikan,” ujar Dr. Luigi.
Kabar baiknya, kebiasaan tersebut tidak hanya bisa diterapkan oleh atlet profesional. Masyarakat umum juga dapat mengadaptasinya untuk mendukung gaya hidup yang lebih sehat dan penuh energi.
1. Protein Tidak Hanya untuk Setelah Olahraga
Banyak orang menganggap protein hanya penting setelah berolahraga. Padahal, atlet elite cenderung membagi asupan protein sepanjang hari.
Menurut Dr. Luigi, atlet yang didampinginya biasanya mengonsumsi sekitar 20–40 gram protein setiap tiga hingga empat jam. Sumbernya dapat berasal dari telur, yogurt Yunani, ayam, ikan, protein shake, protein bar, maupun makanan lainnya.
“Protein bukan hanya berfungsi membangun massa otot, tetapi juga membantu mempertahankan massa otot seiring bertambahnya usia, mendukung sistem kekebalan tubuh, serta membantu pembentukan enzim dan hormon,” jelasnya.
Pola konsumsi protein yang teratur juga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
2. Karbohidrat Disesuaikan dengan Aktivitas
Atlet elite tidak selalu menghindari karbohidrat. Mereka justru memahami bahwa kebutuhan karbohidrat dapat berbeda setiap hari.
Setelah latihan berat, tubuh membutuhkan energi untuk mengisi kembali cadangan yang terkuras. Karena itu, konsumsi sekitar 50–75 gram karbohidrat dalam satu jam setelah latihan dapat membantu proses pemulihan.
Sementara itu, pada hari dengan aktivitas lebih ringan, asupan karbohidrat dapat disesuaikan. Prinsipnya, semakin tinggi aktivitas fisik, semakin besar pula kebutuhan energi tubuh.
3. Jangan Menunggu Haus untuk Minum
Hidrasi menjadi salah satu kebiasaan yang dilakukan secara teratur oleh atlet. Mereka tidak menunggu rasa haus muncul karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda tubuh mulai kekurangan cairan.
Dr. Luigi menyarankan asupan cairan harian disesuaikan dengan berat badan dan tingkat aktivitas. Ketika seseorang banyak berkeringat akibat olahraga atau cuaca panas, kebutuhan cairan juga meningkat.
Dalam kondisi tertentu, terutama olahraga intensitas tinggi, air putih saja mungkin belum cukup. Tubuh juga membutuhkan elektrolit, termasuk natrium dan kalium, untuk membantu menjaga keseimbangan cairan.
4. Tidur Merupakan Bagian dari Latihan
Bagi atlet elite, tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan.
Selama tidur, tubuh memperbaiki jaringan otot, memulihkan sistem saraf, serta mendukung proses pembelajaran dan daya ingat. Karena itu, tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam menjadi salah satu kebiasaan yang perlu dijaga.
Mengurangi waktu tidur secara terus-menerus demi pekerjaan atau aktivitas lain justru dapat berdampak pada performa, daya tahan tubuh, dan kecepatan pemulihan.
5. Konsumsi Buah dan Sayuran Berwarna Gelap
Buah dan sayuran berwarna gelap juga menjadi bagian penting dalam pola makan atlet. Buah beri, ceri, bit, anggur merah, sayuran hijau, kubis ungu, hingga paprika dapat menjadi pilihan.
Makanan tersebut mengandung berbagai vitamin, mineral, dan antioksidan yang membantu mendukung sistem kekebalan tubuh serta proses pemulihan.
Kuncinya bukan mengonsumsi makanan tertentu hanya sesekali, melainkan menjadikannya bagian dari menu harian.
6. Hari Istirahat Tetap Diisi Aktivitas Ringan
Hari istirahat bukan berarti tubuh harus sepenuhnya berhenti bergerak. Atlet elite biasanya tetap melakukan pemulihan aktif, seperti berjalan kaki, yoga, peregangan, bersepeda santai, atau foam rolling.
Aktivitas ringan membantu menjaga sirkulasi darah dan memberi kesempatan tubuh untuk pulih tanpa membebani otot secara berlebihan.
“Tidak ada rahasia khusus. Tidak rumit. Tidak pula mahal. Yang dibutuhkan hanyalah mengonsumsi protein pada setiap waktu makan, menyesuaikan asupan karbohidrat dengan aktivitas, menjaga hidrasi, tidur sekitar delapan jam, mengonsumsi buah dan sayuran berwarna gelap, serta melakukan pemulihan aktif secara konsisten,” kata Dr. Luigi.
Pada akhirnya, performa terbaik tidak dibangun hanya saat pertandingan berlangsung. Justru, hasil besar sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang terus dilakukan ketika tidak ada yang melihat.