Bukan Cuma Soal Teknologi Canggih, Ini yang Harus Disiapkan Dokter Sebelum Operasi Robotik

Vania Rossa

Senin, 10 Agustus 2026 | 17:09 WIB
Bukan Cuma Soal Teknologi Canggih, Ini yang Harus Disiapkan Dokter Sebelum Operasi Robotik
Ilustrasi operasi robotik. (Magnific)
baca 10 detik
  • Prof Kenneth Chen dari Singapore General Hospital menyatakan bahwa keberhasilan operasi robotik sangat bergantung pada sistem pelatihan dan kompetensi tenaga medis.
  • Singapore General Hospital menerapkan pembelajaran berbasis kompetensi, simulasi darurat, serta fasilitas robot khusus untuk melatih seluruh tim medis secara komprehensif.
  • Negara-negara di Asia Tenggara memerlukan standar pelatihan bersama serta penelitian lokal guna mengoptimalkan pemanfaatan teknologi operasi robotik.

Suara.com - Bayangkan seorang dokter tengah melakukan operasi dengan bantuan robot. Gerakan tangannya sangat presisi, instrumen berukuran kecil bergerak di dalam tubuh pasien, sementara layar di depannya menampilkan area operasi secara detail.

Teknologi seperti ini mungkin terdengar seperti gambaran masa depan. Namun, operasi robotik sudah menjadi bagian dari praktik medis modern dan penggunaannya terus berkembang di berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara.

Persoalannya, kecanggihan robot ternyata bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan operasi.

Ada satu hal yang tidak kalah penting: seberapa siap dokter dan seluruh tim medis yang mengoperasikannya?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu perhatian Prof Kenneth Chen, uro-onkolog sekaligus Chair SGH Robotic Surgery Committee di Singapore General Hospital (SGH), Singapura.

Menurutnya, perkembangan teknologi robotik harus berjalan beriringan dengan sistem pelatihan, penilaian kompetensi, dan standar kredensial yang jelas bagi dokter.

"Ketika kita berbicara mengenai operasi, kita sebenarnya sedang mengoperasikan kehidupan pasien. Jadi, apa yang memastikan seorang dokter bedah sudah benar-benar terlatih?" ujar Prof Kenneth Chen dalam pemaparannya mengenai collaborative urology research dan holistic robotic surgery.

Robot Operasi Terus Berkembang

Operasi robotik mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya dunia medis sangat identik dengan satu platform robotik yang dominan, kini semakin banyak teknologi dan platform yang tersedia.

baca juga

Bahkan, jenis robot yang digunakan pun semakin beragam.

Ada robot dengan sistem multi-port, yakni menggunakan beberapa lengan robot untuk membantu dokter melakukan operasi. Di sisi lain, mulai berkembang pula sistem single-port, yang menggunakan satu akses dengan karakteristik dan teknik pengoperasian yang berbeda.

Perbedaan tersebut bukan sekadar soal bentuk mesin.

Menurut Prof Kenneth, setiap robot dapat memiliki perbedaan pada konsol dokter, sistem instrumen, tampilan visual, hingga cara dokter mengendalikan perangkat.

Karena itu, pengalaman menggunakan satu jenis robot tidak selalu otomatis membuat seorang dokter siap menggunakan platform robotik yang sama sekali berbeda.

"Kalau robotnya merupakan multi-port, penelitian menunjukkan keterampilan dari satu robot dapat ditransfer dengan relatif aman ke robot lainnya. Tetapi ketika kita berbicara mengenai robot yang sangat berbeda, misalnya multi-port dibandingkan single-port, dokter membutuhkan keterampilan dan pelatihan yang berbeda," jelasnya.

Artinya, perpindahan dari satu teknologi robotik ke teknologi lain tidak sesederhana berpindah dari mobil dengan setir kiri ke setir kanan. Ada keterampilan baru yang harus dipelajari.

Dokter Tak Bisa Belajar Hanya dari Pasien

Selama bertahun-tahun, pendidikan dokter menggunakan pola yang dikenal sebagai see one, do one, teach one.

Dokter junior mengamati dokter senior melakukan sebuah tindakan, kemudian mencoba melakukannya, dan setelah cukup menguasai keterampilan tersebut, mengajarkannya kepada dokter berikutnya.

Model ini pada dasarnya merupakan sistem apprenticeship atau magang.

Namun, menurut Prof Kenneth, model tersebut memiliki persoalan ketika diterapkan pada teknologi operasi yang semakin kompleks.

Salah satunya adalah dokter belajar langsung menggunakan pasien. Padahal, setiap prosedur memiliki kurva pembelajaran dan terdapat risiko keselamatan selama proses tersebut.

Karena itu, ia mendorong pendekatan competency-based learning, atau pembelajaran berbasis kompetensi.

Dalam pendekatan ini, dokter tidak sekadar dinilai berdasarkan berapa lama menjalani pelatihan atau berapa banyak operasi yang telah dilakukan.

Yang lebih penting adalah apakah dokter tersebut benar-benar mampu melakukan keterampilan tertentu dengan standar yang telah ditetapkan.

"Pembelajaran berbasis kompetensi sangat praktis dan spesifik. Kita tidak hanya bertanya berapa lama seseorang mengamati atau berlatih, tetapi kita meminta mereka menunjukkan: apakah kamu bisa melakukan ini? Apakah kamu bisa melakukan itu?" kata Prof Kenneth.

Pendekatan ini juga mempertimbangkan bahwa setiap dokter memiliki kecepatan belajar, kekuatan, dan kelemahan yang berbeda.

Bukan Hanya Tangan yang Harus Terampil

Ada anggapan bahwa dokter bedah yang baik cukup memiliki keterampilan teknis. Padahal, operasi adalah pekerjaan tim.

Prof Kenneth mengatakan kompetensi dalam operasi robotik juga harus mencakup non-technical skills, seperti komunikasi, kerja sama tim, kemampuan mengambil keputusan, hingga menghadapi kondisi darurat.

Contohnya, apa yang terjadi jika kondisi pasien tiba-tiba memburuk ketika operasi sedang berlangsung?

Dokter harus mampu berkomunikasi dengan dokter anestesi dan perawat, menentukan langkah yang harus dilakukan, serta memastikan seluruh anggota tim memahami perannya.

"Kalau seorang dokter bedah tidak dapat berkomunikasi dengan dokter anestesi, operasi bisa berjalan sangat buruk," ujarnya.

Karena itu, pelatihan operasi robotik idealnya tidak hanya diikuti dokter bedah.

Perawat dan tenaga medis lain yang terlibat dalam operasi juga perlu dilibatkan.

Di SGH, misalnya, pelatihan dilakukan sebagai bagian dari pendekatan tim.

"Kami sangat percaya bahwa operasi adalah olahraga tim, bukan olahraga individu," kata Prof Kenneth.

Bahkan Gempa Pun Bisa Jadi Skenario Latihan

Salah satu bagian menarik dari sistem pelatihan yang dikembangkan adalah emergency drill atau simulasi kondisi darurat.

Bukan sekadar simulasi kebakaran atau keadaan darurat umum, tetapi skenario yang secara khusus dirancang untuk menguji respons tim ketika sesuatu terjadi di tengah operasi.

Prof Kenneth menceritakan pengalaman seorang koleganya di Thailand yang sedang melakukan operasi robotik ketika terjadi gempa bumi di Bangkok.

Situasi seperti itu menimbulkan pertanyaan yang tidak selalu ditemukan dalam buku teks.

Apakah operasi harus segera dihentikan? Apakah pasien harus segera ditutup? Apa instruksi yang harus diberikan kepada dokter anestesi? Bagaimana memastikan pasien tetap aman?

"Hal-hal seperti itu perlu dilatih. Kita tidak ingin pertama kali belajar menghadapi kondisi seperti ini ketika sedang berhadapan dengan pasien sungguhan," jelasnya.

Karena itu, simulasi menjadi bagian penting dari pelatihan di SGH.

Tim dapat berlatih dalam lingkungan yang relatif aman, kemudian merekam prosesnya untuk dievaluasi bersama.

Setelah simulasi selesai, anggota tim membahas apa yang sudah dilakukan dengan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Dengan cara tersebut, kesalahan menjadi bahan pembelajaran sebelum dokter menghadapi situasi serupa pada pasien sebenarnya.

SGH Siapkan Robot Khusus untuk Pelatihan

Pelatihan yang komprehensif tentu membutuhkan fasilitas yang memadai.

Prof Kenneth menjelaskan, SGH memiliki infrastruktur yang mendukung pelatihan operasi robotik, termasuk simulator, fasilitas latihan, materi pembelajaran daring, serta robot yang dapat digunakan secara khusus untuk kebutuhan pelatihan.

Hal ini penting karena robot yang digunakan untuk operasi pasien tidak seharusnya selalu menjadi satu-satunya tempat dokter belajar.

"Memiliki robot yang didedikasikan untuk pelatihan merupakan langkah pertama yang penting," katanya.

Dengan adanya robot khusus pelatihan, dokter dapat berlatih tanpa mengganggu layanan klinis.

Pelatihan juga dapat dilakukan bersama anggota tim lainnya, termasuk perawat dan dokter anestesi.

SGH juga menggunakan model anatomi dan simulasi untuk membantu dokter memperoleh pengalaman sebelum melakukan prosedur pada pasien.

Bagaimana Menentukan Dokter Sudah Siap?

Pertanyaan berikutnya adalah: setelah mengikuti pelatihan, kapan seorang dokter boleh dianggap kompeten?

Menurut Prof Kenneth, inilah salah satu tantangan yang masih dihadapi dalam perkembangan operasi robotik.

Tidak semua rumah sakit memiliki sistem formal untuk menilai dan memberikan kredensial kepada dokter yang akan melakukan operasi robotik.

Padahal, sekadar mengatakan seorang dokter sudah berpengalaman belum tentu cukup.

Penilaian dapat dilakukan dengan melihat berbagai indikator, termasuk kemampuan teknis, konsistensi performa, hingga perkembangan dokter dalam melewati kurva pembelajaran.

Penelitian yang dilakukan timnya juga menggunakan pendekatan statistik untuk melihat perkembangan keterampilan dokter dan menentukan kapan seseorang mencapai tingkat kompetensi tertentu.

"Setelah kita mengetahui kurva pembelajarannya, kita bahkan dapat mengidentifikasi kapan seorang dokter sudah kompeten," jelas Prof Kenneth.

Namun, proses tersebut tidak berhenti setelah dokter dinyatakan kompeten.

Ada pula persoalan yang disebut skills decay, yaitu menurunnya keterampilan ketika seseorang terlalu lama tidak melakukan suatu prosedur.

Dengan kata lain, dokter tetap membutuhkan latihan dan pengalaman yang cukup agar keterampilannya terjaga.

AI Bisa Membantu Dokter Belajar dari Operasinya Sendiri

Di tengah perkembangan robotik, kecerdasan buatan atau AI juga mulai memainkan peran.

Menurut Prof Kenneth, sejumlah perusahaan robotik telah mulai mengintegrasikan kemampuan AI ke dalam sistem mereka.

AI dapat menganalisis berbagai data selama operasi, termasuk pergerakan dokter dan pola tindakan yang dilakukan.

Hal yang menarik, data tersebut dapat digunakan untuk memberikan evaluasi kepada dokter setelah operasi.

"Setelah operasi selesai, kita biasanya hanya merasa lega karena operasi sudah selesai dan pasien dalam kondisi baik. Tetapi dengan AI, kita bisa mendapatkan laporan yang menunjukkan hal-hal yang mungkin tidak kita sadari," kata Prof Kenneth.

Misalnya, sistem dapat menunjukkan berapa kali dokter melakukan koreksi terhadap gerakan tertentu atau berapa kali sebuah instrumen perlu disesuaikan.

Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk membantu dokter memperbaiki keterampilannya.

Dengan begitu, AI tidak hanya berfungsi sebagai teknologi yang membantu proses operasi, tetapi juga dapat menjadi alat pembelajaran.

Asia Tenggara Perlu Punya Standar Bersama

Perkembangan operasi robotik juga menghadirkan tantangan khusus bagi Asia Tenggara.

Menurut Prof Kenneth, persoalannya bukan hanya teknologi, tetapi juga biaya, keterbatasan sumber daya, kebutuhan pelatihan, serta bukti ilmiah yang relevan dengan kondisi masyarakat di kawasan ini.

Tidak semua rumah sakit mampu memiliki banyak robot.

Karena itu, jika sebuah rumah sakit hanya mampu menyediakan satu robot, penggunaannya harus benar-benar optimal. Dokter harus terlatih dan akses pasien terhadap teknologi tersebut juga perlu diperhatikan.

"Bagaimana kita melakukan yang terbaik dengan apa yang kita miliki?" ujarnya.

Di sisi lain, Prof Kenneth menilai Asia Tenggara perlu memperbanyak penelitian berbasis data lokal.

Selama ini, banyak bukti ilmiah mengenai operasi robotik berasal dari negara-negara Barat. Padahal, kondisi sistem kesehatan, sumber daya, biaya, karakteristik pasien, hingga kebutuhan masyarakat di Asia Tenggara bisa berbeda.

Karena itu, kolaborasi antarnegara di kawasan menjadi penting.

Prof Kenneth bersama kolega dari sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam, telah terlibat dalam upaya membahas standar pelatihan dan kompetensi operasi robotik.

Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat membantu negara-negara di kawasan berbagi pengalaman, menyusun standar, sekaligus menghasilkan penelitian yang lebih relevan dengan kebutuhan regional.

Masa Depan Operasi Robotik Bukan Hanya Tentang Robot

Pada akhirnya, teknologi robotik mungkin akan terus berkembang. Robot akan semakin presisi, sistem semakin pintar, dan AI semakin banyak digunakan.

Namun, menurut Prof Kenneth, perkembangan tersebut tetap membutuhkan manusia yang memiliki kompetensi untuk menggunakannya.

"Kita membutuhkan standar pelatihan yang lebih tinggi. Pemikiran tradisional mengenai operasi terlalu berfokus pada keterampilan teknis, padahal ada banyak aspek lain yang juga penting," tuturnya.

Mulai dari kemampuan bekerja dalam tim, komunikasi, menghadapi keadaan darurat, penilaian kompetensi, hingga kemampuan mempertahankan keterampilan.

Karena itu, ketika pasien mendengar istilah operasi robotik, yang sebenarnya perlu dilihat bukan hanya seberapa canggih robot yang digunakan.

Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: siapa yang mengoperasikannya, bagaimana ia dilatih, dan bagaimana rumah sakit memastikan ia benar-benar kompeten?

Sebab, pada akhirnya, robot tetaplah alat. Di balik teknologi tersebut, keputusan penting dalam ruang operasi masih berada di tangan manusia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

10 Nakes Kena Sanksi Usai Bully Pasien BPJS di Threads, Karier Hancur Seketika

10 Nakes Kena Sanksi Usai Bully Pasien BPJS di Threads, Karier Hancur Seketika

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 13:05 WIB

Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien

Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:23 WIB

Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?

Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:45 WIB

Terkini

Bukan Cuma Soal Teknologi Canggih, Ini yang Harus Disiapkan Dokter Sebelum Operasi Robotik

Bukan Cuma Soal Teknologi Canggih, Ini yang Harus Disiapkan Dokter Sebelum Operasi Robotik

Health | Senin, 10 Agustus 2026 | 17:09 WIB

Pameran Senang Riang Lagu Anak Lokananta Ditutup dengan Musikalisasi Puisi

Pameran Senang Riang Lagu Anak Lokananta Ditutup dengan Musikalisasi Puisi

Jawa Tengah | Senin, 10 Agustus 2026 | 17:05 WIB

Nasib Berbeda Jay Idzes dan Elkan Baggott Jelang Bela Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Nasib Berbeda Jay Idzes dan Elkan Baggott Jelang Bela Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Senin, 10 Agustus 2026 | 17:05 WIB

Portofolio Makin Aman, BRI MI Hadirkan Reksa Dana ETF Emas dengan Jaminan LBMA

Portofolio Makin Aman, BRI MI Hadirkan Reksa Dana ETF Emas dengan Jaminan LBMA

Bri | Senin, 10 Agustus 2026 | 17:01 WIB

Kemarau, tapi Air Muara Musi Diprediksi Naik 3,7 Meter Sore Ini

Kemarau, tapi Air Muara Musi Diprediksi Naik 3,7 Meter Sore Ini

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Review Serial Our Sticky Love: Kisah Asmara Unik Mantan Petinju dan Jaksa

Review Serial Our Sticky Love: Kisah Asmara Unik Mantan Petinju dan Jaksa

Your Say | Senin, 10 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Skin Tint Skintific Kandungan Aktifnya Apa? Ini Klaim dan Review Pembeli

Skin Tint Skintific Kandungan Aktifnya Apa? Ini Klaim dan Review Pembeli

Lifestyle | Senin, 10 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Hadiri Kirab Merah Putih FMP ke-11, Adityawarman Adil: Perkuat Cinta Tanah Air

Hadiri Kirab Merah Putih FMP ke-11, Adityawarman Adil: Perkuat Cinta Tanah Air

Bogor | Senin, 10 Agustus 2026 | 16:57 WIB

Hari Pramuka ke-65, Gubernur Sulsel dan Mentan RI Lepas Ribuan Peserta Jalan Sehat di Bone

Hari Pramuka ke-65, Gubernur Sulsel dan Mentan RI Lepas Ribuan Peserta Jalan Sehat di Bone

Sulsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 16:54 WIB

Syahrini Kembali ke Dunia Musik, Rilis Lagu 'Kau yang Utama'

Syahrini Kembali ke Dunia Musik, Rilis Lagu 'Kau yang Utama'

Your Say | Senin, 10 Agustus 2026 | 16:51 WIB

×