- Layanan navigasi pasien mendampingi penderita kanker paru mengatasi hambatan rujukan serta pengobatan secara tepat waktu.
- Keberadaan navigator pasien terbukti memangkas waktu dari temuan awal rontgen hingga dimulainya pengobatan hampir dua puluh hari.
- Indonesia memerlukan kolaborasi lintas sektor agar integrasi layanan navigasi pasien masuk ke dalam sistem kesehatan nasional.
Menurutnya, koordinasi yang lebih baik juga dapat mendukung penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan membantu mengendalikan beban pembiayaan kesehatan.
Perlu Masuk dalam Sistem Kesehatan
Sejumlah negara telah mengintegrasikan navigasi pasien dalam layanan kanker. Di Inggris, NHS menempatkan Clinical Nurse Specialist sebagai salah satu titik kontak pasien sejak diagnosis hingga tindak lanjut.
Sementara di Amerika Serikat, rumah sakit kanker terakreditasi melalui Commission on Cancer diwajibkan memiliki mekanisme untuk mengidentifikasi hambatan pasien dan memastikan kesinambungan layanan.
Di Indonesia, penguatan ekosistem navigasi pasien dinilai perlu menjadi bagian dari upaya membangun layanan kanker yang lebih terintegrasi.
Implementasinya membutuhkan kolaborasi pemerintah, BPJS Kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, organisasi pasien, akademisi, dan sektor swasta.
“Layanan navigasi pasien tidak bisa berdiri sendiri. Kita membutuhkan komitmen jangka panjang, standar layanan yang jelas, dan dukungan kebijakan agar layanan ini menjadi bagian dari sistem kesehatan, bukan hanya inisiatif sesaat,” kata Esra.