- Oseltamivir adalah obat antivirus untuk influenza yang bekerja menghambat penyebaran virus dalam tubuh pasien.
- Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying oseltamivir akibat peningkatan kasus influenza di Indonesia.
- Pemerintah mendistribusikan oseltamivir ke 196 rumah sakit agar ketersediaannya tetap terjaga bagi pasien berisiko tinggi.
Suara.com - Banyak orang bertanya-tanya Oseltamivir obat apa? Mengapa stok obat ini habis di berbagai daerah?
Tak sedikit orang yang berbondong-bondong membeli obat ini di tengah peningkatan kasus Influenza tipe A yang merebak di Indonesia.
Penggunaan oseltamivir menjadi perhatian setelah meningkatnya aktivitas influenza di Indonesia dan muncul kekhawatiran masyarakat mengenai ketersediaan obat antivirus tersebut.
Oseltamivir Obat Apa?
![Dokter memberikan informask vaksin influenza Flubio kepada pasien di Klinik Pratama Dermaga Raya, Jakarta, Rabu (7/1/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/07/14366-vaksin-superflu-vaksin-influenza-vaksin-flubio-ilustrasi-vaksin-superflu.jpg)
Oseltamivir merupakan obat antivirus dari kelompok neuraminidase inhibitor yang bekerja terhadap influenza A dan influenza B.
Obat ini menghambat protein neuraminidase yang dibutuhkan virus influenza untuk melepaskan diri dari sel yang telah terinfeksi dan menyebar ke sel lain.
Karena mekanisme tersebut, oseltamivir digunakan untuk membantu mengatasi influenza dan dalam kondisi tertentu dapat digunakan sebagai obat pencegahan setelah seseorang terpapar influenza.
Manfaat antivirus umumnya paling besar apabila pengobatan dimulai sedini mungkin, terutama dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul.
Oseltamivir terutama menjadi perhatian bagi pasien yang mengalami influenza berat, menjalani perawatan di rumah sakit, atau memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Kelompok berisiko mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan kondisi medis tertentu atau sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Meski demikian, tidak semua orang yang mengalami flu membutuhkan obat antivirus.
Banyak kasus influenza dapat pulih dengan perawatan suportif, sehingga keputusan menggunakan oseltamivir sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi pasien dan pertimbangan dokter.
Panic Buying Oseltamivir
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying atau membeli oseltamivir secara berlebihan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus influenza.
Pemerintah menegaskan obat tersebut tidak diperuntukkan bagi penggunaan massal tanpa penilaian medis.
“Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis. Obat ini hanya boleh diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama untuk pasien influenza berat yang dirawat di rumah sakit,” tegas Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Kemenkes menyebut peningkatan aktivitas influenza pada Agustus-September merupakan pola musiman yang juga terjadi di sejumlah negara Asia Tenggara.
Berdasarkan pemantauan hingga pekan ke-38 tahun 2026, virus yang dominan di Indonesia adalah influenza A(H1N1)pdm09.
Pemerintah juga meluruskan istilah “super flu” yang beredar di masyarakat. Kemenkes menjelaskan istilah tersebut bukan nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes.
Sementara itu, kasus influenza A(H3N2) subclade K yang kerap dikaitkan dengan istilah tersebut justru tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk menjaga ketersediaan obat bagi pasien yang membutuhkan, Kemenkes telah mendistribusikan oseltamivir ke 196 rumah sakit dan mengupayakan tambahan pasokan melalui produksi dalam negeri serta jalur impor khusus.
Pemerintah juga menekankan bahwa distribusi obat dilakukan berdasarkan kebutuhan medis, bukan kepanikan pembelian.
“Yang perlu dilakukan masyarakat bukanlah membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat,” imbau Lucia.
Masyarakat tetap dianjurkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika sakit atau berada di keramaian, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.