- Unicharm Indonesia dan Dinas Kesehatan Karawang memberikan edukasi menstruasi inklusif di SLB B Tunas Harapan pada 12 Agustus 2026.
- Kegiatan bagi siswi tunarungu tersebut menggunakan alat bantu visual, media bergambar, dan penerjemah bahasa isyarat untuk menyampaikan materi kebersihan diri.
- Pemerintah menyatakan anak berkebutuhan khusus berhak mendapat edukasi kesehatan reproduksi dan manajemen kebersihan menstruasi yang layak secara setara.
Suara.com - Menstruasi merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang perempuan. Namun, memahami perubahan tubuh, menjaga kebersihan saat menstruasi, hingga memilih pembalut yang sesuai kebutuhan membutuhkan informasi yang benar dan mudah dipahami.
Akses terhadap informasi tersebut juga penting bagi remaja perempuan penyandang disabilitas. Mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan edukasi kesehatan reproduksi, termasuk pemahaman tentang menstruasi dan cara menjaga kebersihan diri.
Sayangnya, keterbatasan akses informasi masih menjadi tantangan bagi sebagian remaja penyandang disabilitas. Materi edukasi yang tidak disesuaikan dengan kebutuhan mereka dapat membuat informasi kesehatan sulit dipahami.
Karena itu, edukasi kesehatan reproduksi perlu disampaikan dengan metode yang inklusif agar setiap remaja perempuan dapat mengenali tubuhnya, memahami kebutuhan kebersihannya, dan merawat diri secara mandiri.
Edukasi Menstruasi Perlu Disampaikan dengan Cara yang Mudah Dipahami
Salah satu upaya menghadirkan edukasi yang lebih inklusif dilakukan melalui kegiatan bertajuk Love Your Possibilities: We Can! di SLB B Tunas Harapan, Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (12/8/2026).
Kegiatan yang diikuti puluhan siswi tunarungu dan guru pendamping tersebut diselenggarakan oleh Unicharm Indonesia bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang.
Agar materi lebih mudah dipahami, edukasi dikemas secara interaktif dengan menggunakan alat bantu visual dan media bergambar, serta didukung penerjemahan bahasa isyarat oleh guru pendamping.
Materi yang diberikan mencakup cara menjaga kebersihan diri selama menstruasi, memilih pembalut sesuai kebutuhan, serta memahami mitos dan fakta seputar menstruasi.
Pemilihan pembalut yang sesuai juga menjadi salah satu topik pembelajaran. Pemahaman mengenai kebutuhan menstruasi dapat membantu remaja memilih produk yang nyaman dan sesuai dengan kondisi masing-masing.
Mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan dr. Hardi Hermawan, MKM, mengapresiasi kolaborasi tersebut.
Menurutnya, anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak, termasuk edukasi kesehatan reproduksi, manajemen kebersihan menstruasi, dan perawatan kebersihan diri.
“Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak mutlak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk edukasi kesehatan reproduksi, manajemen kebersihan menstruasi, dan perawatan kebersihan diri,” ujar Hardi.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta penting untuk memperluas jangkauan informasi kesehatan dasar bagi kelompok yang membutuhkan pendekatan khusus.
Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan Penyandang Disabilitas
Edukasi kesehatan reproduksi merupakan bagian dari pemenuhan hak dasar remaja. Informasi yang tepat membantu mereka memahami perubahan tubuh, menjaga kebersihan, serta mengambil keputusan yang berkaitan dengan kesehatan dirinya.
Bagi remaja penyandang disabilitas, akses terhadap informasi tersebut perlu disertai metode komunikasi yang sesuai. Penggunaan media visual, bahasa yang mudah dipahami, dan bahasa isyarat dapat membantu memastikan materi tidak hanya disampaikan, tetapi juga dipahami oleh peserta.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 yang diterbitkan pada Desember 2024 menunjukkan masih adanya tantangan dalam akses pendidikan bagi penyandang disabilitas. Kondisi ini turut menjadi pengingat pentingnya memperluas akses informasi, termasuk mengenai kesehatan reproduksi.
Di Indonesia, hak penyandang disabilitas juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, termasuk hak terkait kesehatan dan perlindungan bagi perempuan penyandang disabilitas.
Dengan akses edukasi yang lebih setara, remaja perempuan penyandang disabilitas diharapkan dapat memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan dan kebersihan diri, tanpa terkendala cara penyampaian informasi.

Peran Edukasi dan Inovasi Produk Menstruasi
Presiden Direktur Unicharm Indonesia Yasutaka Nishioka mengatakan, edukasi kesehatan yang inklusif menjadi salah satu upaya perusahaan untuk berkontribusi kepada masyarakat.
“Visi ini kami wujudkan salah satunya melalui penyelenggaraan kegiatan edukasi kesehatan yang inklusif. Ke depannya, Unicharm akan terus menghadirkan inovasi produk unggulan dan inisiatif keberlanjutan demi memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta lingkungan, sejalan dengan slogan perusahaan kami, Ethical Living for SDGs,” ujar Yasutaka.
Selain kegiatan edukasi, Unicharm juga mengembangkan inovasi produk menstruasi melalui merek Charm. Salah satunya teknologi pori serap yang dirancang untuk membantu menyerap darah menstruasi yang menggumpal atau lebih kental.
Berdasarkan riset internal Unicharm pada 2025, lebih dari 30 persen perempuan Indonesia memiliki kekhawatiran terhadap gumpalan darah menstruasi yang dapat menyebabkan kebocoran, terutama saat tidur pada malam hari.
Teknologi pori serap tersebut tersedia pada varian pembalut malam Charm Safe Night.
Meski inovasi produk dapat menjadi salah satu aspek dalam pengelolaan menstruasi, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi tetap penting. Edukasi yang mudah diakses dan sesuai kebutuhan membantu remaja perempuan, termasuk penyandang disabilitas, memahami menstruasi serta menjaga kebersihan diri dengan lebih baik.