Pantas Berobat Makin Mahal, Tenyata Inflasi Medis Indonesia Tembus 19,4 Persen Lampaui Global

Husna Rahmayunita, Dini Afrianti Efendi

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:28 WIB
Pantas Berobat Makin Mahal, Tenyata Inflasi Medis Indonesia Tembus 19,4 Persen Lampaui Global
Inflasi medis Indonesia mencapai 19,4 persen pada 2025 berdasarkan data Willis Towers Watson.
baca 10 detik
  • Dampak lonjakan inflasi medis Indonesia picu biaya berobat makin mahal.

  • Penyebab inflasi medis Indonesia terkait pengadaan teknologi alat kesehatan impor.

  • Ketahui aturan polis asuransi saat hadapi fenomena inflasi medis Indonesia.

Suara.com - Inflasi medis Indonesia mencapai 19,4 persen pada 2025 berdasarkan data Willis Towers Watson (WTW), jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi medis global.

Kepala Divisi Accident Health Insurance Asuransi Sinar Mas, Rudy Widjaja mengatakan kenaikan ini berpotensi terus menekan biaya pengobatan masyarakat, terlebih industri asuransi memperkirakan inflasi medis pada 2027 masih berada di kisaran 17–18 persen.

"Kalau kita lihat memang sedikit ini garis biru adalah gross-nya, hijau itu adalah net-nya. Dan yang bawah ini adalah inflasi ekonomi," kata Rudy saat peluncuran koneksi digital antara PT Asuransi Sinar Mas dan Primaya Hospital Group di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Rudy menyebut, angka inflasi medis Indonesia pada 2025 juga tercatat sebesar 17,9 persen berdasarkan Mercer Marsh Benefits (MMB).

Memasuki 2026, inflasi medis Indonesia diperkirakan masih tinggi. Rudy menyebut angkanya mencapai 15,1 persen berdasarkan WTW dan 17,8 persen berdasarkan MMB.

"Di 2026 ada penurunan sedikit, tapi tetap lebih tinggi dibandingkan global," ujarnya.

Inflasi medis Indonesia mencapai 19,4 persen pada 2025 berdasarkan data Willis Towers Watson.
Inflasi medis Indonesia mencapai 19,4 persen pada 2025 berdasarkan data Willis Towers Watson.

Rudy juga menilai belum ada tanda-tanda penurunan signifikan pada 2027. Ia memperkirakan inflasi medis masih bertahan di kisaran 17–18 persen, yang dapat mendorong pertumbuhan total biaya pelayanan kesehatan secara nasional atau National Health Account.

"Minimal sama mungkin di sekitar 17–18 persen. Jadi ini menyebabkan biaya kalau dari Kementerian Kesehatan itu dia sebutnya National Health Account. Jadi jumlah pengobatan atau biaya medis secara nasional itu akan bertumbuh," kata Rudy.

Sementara itu, Direktur PT Asuransi Sinar Mas Dumasi Marisinia M. Samosir mengatakan kenaikan pembiayaan kesehatan mulai terasa pada 2021 hingga 2022 dan meningkat tajam pada periode berikutnya.

baca juga
Direktur PT Asuransi Sinar Mas Dumasi Marisinia M. Samosir. [Suara.com/Dini Afrianti]
Direktur PT Asuransi Sinar Mas Dumasi Marisinia M. Samosir. [Suara.com/Dini Afrianti]

"Kalau kita lihat, pembiayaan kesehatan itu mulai meningkat di 2021–2022. Kemudian 2023–2024 itu luar biasa sampai di luar nalar," ujar Dumasi.

Menurut Dumasi, tingginya biaya pengobatan juga berkaitan dengan perkembangan teknik medis dan kebutuhan mendatangkan peralatan berteknologi tinggi.

Proses pengadaan alat kesehatan dari luar negeri membutuhkan prosedur panjang dan biaya besar, yang pada akhirnya dapat memengaruhi biaya pelayanan.

"Untuk mendatangkan alat ke sini itu prosedurnya panjang dan biayanya banyak, jadi akhirnya itu juga masuk ke dalam biaya," katanya.

Ia mencontohkan penggunaan teknologi operasi robotik seperti da Vinci sebagai salah satu perkembangan pengobatan yang membutuhkan biaya tinggi.

"Semakin banyak teknik-teknik pengobatan baru yang mahal," ujar Dumasi.

Di tengah kenaikan biaya tersebut, Dumasi menegaskan bahwa perusahaan asuransi meninjau kebutuhan medis dan ketentuan polis dalam memproses klaim.

Kepemilikan kartu asuransi tidak otomatis membuat seluruh tindakan medis ditanggung, karena perlindungan tetap bergantung pada manfaat dan pengecualian yang tercantum dalam polis.

"Prinsipnya medical necessary. Punya kartu asuransi bukan berarti semuanya ditanggung," pungkas Dumasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Biaya Kesehatan RI Diproyeksi Makin Mahal di 2026, Inflasi Tembus 17,8%

Biaya Kesehatan RI Diproyeksi Makin Mahal di 2026, Inflasi Tembus 17,8%

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 07:50 WIB

Warga Terdampak Kabut Asap Bisa Berobat Murah, Pemerintah Turun Tangan tapi Itu di Singapura

Warga Terdampak Kabut Asap Bisa Berobat Murah, Pemerintah Turun Tangan tapi Itu di Singapura

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 16:32 WIB

Gubernur Kaltim MCU ke Singapura saat Karhutla Parah, Bolehkah Kepala Daerah Berobat ke Luar Negeri?

Gubernur Kaltim MCU ke Singapura saat Karhutla Parah, Bolehkah Kepala Daerah Berobat ke Luar Negeri?

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:42 WIB

20 Ribu Perempuan Alami Kelainan Payudara, Hanya 6.000 Berobat: Deteksi Dini Penting!

20 Ribu Perempuan Alami Kelainan Payudara, Hanya 6.000 Berobat: Deteksi Dini Penting!

Health | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 19:31 WIB

Biaya Berobat Makin Mahal, 12,8 Juta Orang RI Terancam Jatuh Miskin

Biaya Berobat Makin Mahal, 12,8 Juta Orang RI Terancam Jatuh Miskin

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:34 WIB

Terkini

Bukan Sekadar SUV, Hyundai Tawarkan Pengalaman Kepemilikan CRETA yang Bebas Khawatir

Bukan Sekadar SUV, Hyundai Tawarkan Pengalaman Kepemilikan CRETA yang Bebas Khawatir

Malang | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:43 WIB

Calo Pertalite Berkeliaran di SPBU saat Bali Krisis BBM

Calo Pertalite Berkeliaran di SPBU saat Bali Krisis BBM

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:43 WIB

Listrik Sering Padam, DPR Semprot PLN: Direksi Berganti, Persoalan Jangan Berulang

Listrik Sering Padam, DPR Semprot PLN: Direksi Berganti, Persoalan Jangan Berulang

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:43 WIB

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK di Rumah Dinas, Begini Reaksi Sang Wakil Bupati

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK di Rumah Dinas, Begini Reaksi Sang Wakil Bupati

Surakarta | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:43 WIB

Lebih dari Sekadar Memiliki SUV, Hyundai Hadirkan Pengalaman Kepemilikan CRETA yang Worry Free

Lebih dari Sekadar Memiliki SUV, Hyundai Hadirkan Pengalaman Kepemilikan CRETA yang Worry Free

Jabar | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:42 WIB

Berapa Gaji Gubernur Bali Wayan Koster? Viral Diamuk Pegawai SPBU yang Burnout

Berapa Gaji Gubernur Bali Wayan Koster? Viral Diamuk Pegawai SPBU yang Burnout

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:41 WIB

Prabowo Panggil Seluruh Menteri hingga Kepala Badan ke Istana Bogor Malam Ini

Prabowo Panggil Seluruh Menteri hingga Kepala Badan ke Istana Bogor Malam Ini

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:41 WIB

BYD Beri Sinyal Datangkan Atto 2 di Indonesia Dalam Waktu Dekat

BYD Beri Sinyal Datangkan Atto 2 di Indonesia Dalam Waktu Dekat

Otomotif | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:39 WIB

Hyundai Hadirkan Pengalaman Kepemilikan CRETA yang Worry Free, Lebih dari Sekadar Memiliki SUV

Hyundai Hadirkan Pengalaman Kepemilikan CRETA yang Worry Free, Lebih dari Sekadar Memiliki SUV

Jatim | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:38 WIB

Asap Karhutla Ganggu Jarak Pandang, BNPB Coba Cara Baru Pakai Dry Ice

Asap Karhutla Ganggu Jarak Pandang, BNPB Coba Cara Baru Pakai Dry Ice

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:36 WIB

×