Tidur Tak Berkualitas Bisa Bikin Lelah dan Picu Masalah Kesehatan, Ini Penjelasan Dokter

Vania Rossa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:30 WIB
Tidur Tak Berkualitas Bisa Bikin Lelah dan Picu Masalah Kesehatan, Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi tidur (pexels/Andrea Piacquadio)
baca 10 detik
  • Dokter Manfaluthy Hakim menjelaskan pentingnya kualitas tidur dalam acara Mayapada Neuro Connect 2026 di Jakarta pada 24 Oktober 2026.
  • Kebiasaan mendengkur dan kurang tidur dapat memicu gangguan kesehatan serius seperti hipertensi, rasa lelah, dan brain fog.
  • Masyarakat diimbau menjaga durasi tidur ideal enam hingga delapan jam dan menghindari kebiasaan tidur larut malam.

Suara.com - Tidur yang cukup belum tentu menjamin tubuh mendapatkan istirahat berkualitas. Jika masih sering merasa lelah, mengantuk, atau sulit berkonsentrasi meski sudah tidur, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena bisa berkaitan dengan gangguan tidur.

Dokter Spesialis Neurologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Manfaluthy Hakim, Sp.N-Sub.Sp., menjelaskan bahwa tidur merupakan proses aktif otak yang berperan penting dalam pemulihan tubuh, pengolahan memori, dan regenerasi.

Karena itu, tidur tidak sekadar diukur dari berapa lama seseorang memejamkan mata, tetapi juga dari kualitas istirahat yang diperoleh.

“Tidur yang paling ideal adalah durasinya sekitar minimal 6 jam sampai 8 jam. Terus yang kedua, begitu bangun tidur, kita merasa segar,” jelas dr. Manfaluthy dalam diskusi kesehatan pada Mayapada Neuro Connect 2026 di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Mayapada Neuro Connect 2026 merupakan kegiatan ilmiah yang diselenggarakan Mayapada Hospital Jakarta Selatan pada 24–25 Oktober 2026. Acara ini menghadirkan simposium dan workshop untuk membahas perkembangan penanganan penyakit saraf dan otak, termasuk gangguan tidur serta kolaborasi multidisiplin.

Tidur Bukan Sekadar Memulihkan Energi

Menurut dr. Manfaluthy, tidur memiliki sejumlah tahapan yang masing-masing menjalankan fungsi berbeda. Salah satunya adalah fase tidur dalam atau deep sleep, yang berperan dalam konsolidasi memori dan proses pemulihan tubuh.

Pada fase ini, otak menjalankan proses penting yang mendukung fungsi kognitif dan kesehatan secara keseluruhan.

Oleh karena itu, gangguan tidur yang terjadi berulang kali dapat mengganggu proses pemulihan tersebut. Seseorang bisa merasa tidak segar ketika bangun, mudah lelah sepanjang hari, hingga mengalami brain fog atau kesulitan berpikir dan berkonsentrasi.

baca juga

Kualitas tidur juga dipengaruhi kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah penggunaan gawai menjelang tidur yang membuat seseorang terbiasa tidur larut malam.

“Masalahnya sekarang ini di masyarakat, mau tidur, buka HP. Dengan nonton segala macam, sampai tengah malam,” ujarnya.

Kebiasaan tersebut dapat menggeser waktu tidur dan mengurangi durasi istirahat. Jika berlangsung terus-menerus, tubuh berisiko mengalami kekurangan tidur.

Waspadai Kebiasaan Mendengkur saat Tidur

Selain kebiasaan tidur larut malam, dr. Manfaluthy mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap mendengkur sebagai gangguan yang hanya mengusik orang lain.

Mendengkur dapat menjadi salah satu tanda obstructive sleep apnea (OSA), yaitu gangguan ketika saluran napas bagian atas menyempit atau menutup berulang kali selama tidur. Akibatnya, pernapasan terganggu dan kadar oksigen dalam darah dapat menurun.

Meski demikian, tidak semua orang yang mendengkur mengalami sleep apnea. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Menurut dr. Manfaluthy, gangguan pernapasan saat tidur dapat mengganggu kualitas tidur dan memengaruhi kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

“Dalam jangka waktu panjang, bagaimana kekurangan oksigen atau sleep apnea saat tidur, itu satu merasa brain fog. Terus yang kedua mudah lelah,” jelasnya.

Gangguan tidur seperti sleep apnea juga diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi dan masalah metabolik. Karena itu, mendengkur keras yang disertai henti napas, sering terbangun, atau rasa kantuk berlebihan pada siang hari sebaiknya tidak diabaikan.

Gangguan Tidur Berkaitan dengan Risiko Hipertensi

Dr. Manfaluthy juga menyoroti hubungan antara gangguan tidur dan hipertensi. Tidur yang terganggu, khususnya akibat sleep apnea, dapat memengaruhi pengaturan tekanan darah dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.

Hipertensi sendiri merupakan salah satu faktor risiko utama stroke. Tekanan darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke akibat penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah di otak.

Artinya, menjaga kualitas tidur menjadi salah satu bagian penting dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh. Namun, gangguan tidur bukan satu-satunya penyebab hipertensi atau stroke karena kedua kondisi tersebut juga dipengaruhi berbagai faktor lain.

Jika mengalami gangguan tidur yang menetap, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.

Jangan Mengandalkan Tidur Balas Dendam saat Akhir Pekan

Kebiasaan mengurangi waktu tidur pada hari kerja lalu menggantinya dengan tidur lebih lama saat akhir pekan juga menjadi perhatian.

Dr. Manfaluthy menjelaskan bahwa tidur lebih lama pada akhir pekan tidak sepenuhnya menggantikan proses pemulihan tubuh yang terganggu akibat begadang pada malam sebelumnya.

“Kalau hari berikutnya tidurnya tiga-empat jam, berarti pas weekend, jadi mulai pada satu malam sampai Minggu siang tidur. Balas dendam itu hanya berpengaruh terhadap psikologis. Supaya menghilangkan secara fisik rasa lelahnya, tetapi tidak menggantikan proses yang terlewati saat begadang,” ujarnya.

Karena itu, menjaga jadwal tidur yang konsisten lebih dianjurkan daripada terus-menerus mengurangi waktu tidur dan mencoba menggantinya pada akhir pekan.

Bagi pekerja dengan sistem sif malam, pengaturan waktu tidur dan lingkungan istirahat juga perlu diperhatikan. Ruangan yang gelap, tenang, dan nyaman dapat membantu mendukung tidur setelah bekerja pada malam hari.

Dr. Manfaluthy menambahkan, penanganan gangguan tidur terkadang membutuhkan kolaborasi beberapa dokter spesialis, mulai dari neurologi, jantung, penyakit dalam, THT, hingga kesehatan jiwa, sesuai dengan kondisi pasien.

Dengan mengenali tanda gangguan tidur sejak dini dan memperbaiki kebiasaan istirahat, masyarakat dapat mengambil langkah untuk menjaga kualitas tidur sekaligus mendukung kesehatan otak dan tubuh dalam jangka panjang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Penyebab Mimpi Tindihan Tidak Bisa Bergerak Menurut Medis dan Primbon, Ini Cara Mengatasinya

Penyebab Mimpi Tindihan Tidak Bisa Bergerak Menurut Medis dan Primbon, Ini Cara Mengatasinya

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:05 WIB

5 Kebiasaan Tidur yang Bisa Bikin Wajah Awet Muda di Usia 50-an

5 Kebiasaan Tidur yang Bisa Bikin Wajah Awet Muda di Usia 50-an

Lifestyle | Selasa, 13 Oktober 2026 | 20:55 WIB

6 Aturan Posisi Tempat Tidur untuk Menjaga Kualitas Tidur Menurut Feng Shui

6 Aturan Posisi Tempat Tidur untuk Menjaga Kualitas Tidur Menurut Feng Shui

Lifestyle | Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:25 WIB

Terkini

Drakor The Substitute Tayang 23 November, Ungkap Sisi Gelap Dunia Sekolah

Drakor The Substitute Tayang 23 November, Ungkap Sisi Gelap Dunia Sekolah

Your Say | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:30 WIB

Singapura Niat Pakai Energi Nuklir untuk Listrik Setelah Indonesia Mau Sunat Kiriman Gas

Singapura Niat Pakai Energi Nuklir untuk Listrik Setelah Indonesia Mau Sunat Kiriman Gas

News | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:29 WIB

Hampir 4 Bulan Tak Hujan, Palembang Akhirnya Diguyur Hujan di Tengah Kepungan Asap Karhutla

Hampir 4 Bulan Tak Hujan, Palembang Akhirnya Diguyur Hujan di Tengah Kepungan Asap Karhutla

Sumsel | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:26 WIB

419 Hunian Tetap Semeru di Lumajang Kosong, Pemkab Verifikasi untuk Penataan

419 Hunian Tetap Semeru di Lumajang Kosong, Pemkab Verifikasi untuk Penataan

Jatim | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:23 WIB

Kendal Tornado FC Gagal Gusur Deltras, Manajemen Tetap Gas Target Liga 1

Kendal Tornado FC Gagal Gusur Deltras, Manajemen Tetap Gas Target Liga 1

Jawa Tengah | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:17 WIB

Kakanwil Imigrasi Sumut Hadiri Pelantikan DPP Horas Bangso Batak, Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Kakanwil Imigrasi Sumut Hadiri Pelantikan DPP Horas Bangso Batak, Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Sumut | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:14 WIB

Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi RI Tetap Solid, Negara Masih Sangat Kuat

Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi RI Tetap Solid, Negara Masih Sangat Kuat

Bisnis | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:12 WIB

Kenapa Halloween Dirayakan Setiap Tanggal 31 Oktober? Ini Sejarahnya

Kenapa Halloween Dirayakan Setiap Tanggal 31 Oktober? Ini Sejarahnya

Lifestyle | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:10 WIB

Tegur Terduga Pencuri Motor di Palembang, Polisi Ditembak hingga Peluru Nyaris Kena Kepala

Tegur Terduga Pencuri Motor di Palembang, Polisi Ditembak hingga Peluru Nyaris Kena Kepala

Sumsel | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:09 WIB

Pecatan TNI Gadaikan 13 Mobil Rental di Dairi untuk Berjudi, Modus Kampanye Pilkades

Pecatan TNI Gadaikan 13 Mobil Rental di Dairi untuk Berjudi, Modus Kampanye Pilkades

Sumut | Minggu, 25 Oktober 2026 | 15:08 WIB

×