- Dokter Manfaluthy Hakim menjelaskan pentingnya kualitas tidur dalam acara Mayapada Neuro Connect 2026 di Jakarta pada 24 Oktober 2026.
- Kebiasaan mendengkur dan kurang tidur dapat memicu gangguan kesehatan serius seperti hipertensi, rasa lelah, dan brain fog.
- Masyarakat diimbau menjaga durasi tidur ideal enam hingga delapan jam dan menghindari kebiasaan tidur larut malam.
Suara.com - Tidur yang cukup belum tentu menjamin tubuh mendapatkan istirahat berkualitas. Jika masih sering merasa lelah, mengantuk, atau sulit berkonsentrasi meski sudah tidur, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena bisa berkaitan dengan gangguan tidur.
Dokter Spesialis Neurologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Manfaluthy Hakim, Sp.N-Sub.Sp., menjelaskan bahwa tidur merupakan proses aktif otak yang berperan penting dalam pemulihan tubuh, pengolahan memori, dan regenerasi.
Karena itu, tidur tidak sekadar diukur dari berapa lama seseorang memejamkan mata, tetapi juga dari kualitas istirahat yang diperoleh.
“Tidur yang paling ideal adalah durasinya sekitar minimal 6 jam sampai 8 jam. Terus yang kedua, begitu bangun tidur, kita merasa segar,” jelas dr. Manfaluthy dalam diskusi kesehatan pada Mayapada Neuro Connect 2026 di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Mayapada Neuro Connect 2026 merupakan kegiatan ilmiah yang diselenggarakan Mayapada Hospital Jakarta Selatan pada 24–25 Oktober 2026. Acara ini menghadirkan simposium dan workshop untuk membahas perkembangan penanganan penyakit saraf dan otak, termasuk gangguan tidur serta kolaborasi multidisiplin.
Tidur Bukan Sekadar Memulihkan Energi
Menurut dr. Manfaluthy, tidur memiliki sejumlah tahapan yang masing-masing menjalankan fungsi berbeda. Salah satunya adalah fase tidur dalam atau deep sleep, yang berperan dalam konsolidasi memori dan proses pemulihan tubuh.
Pada fase ini, otak menjalankan proses penting yang mendukung fungsi kognitif dan kesehatan secara keseluruhan.
Oleh karena itu, gangguan tidur yang terjadi berulang kali dapat mengganggu proses pemulihan tersebut. Seseorang bisa merasa tidak segar ketika bangun, mudah lelah sepanjang hari, hingga mengalami brain fog atau kesulitan berpikir dan berkonsentrasi.
Kualitas tidur juga dipengaruhi kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah penggunaan gawai menjelang tidur yang membuat seseorang terbiasa tidur larut malam.
“Masalahnya sekarang ini di masyarakat, mau tidur, buka HP. Dengan nonton segala macam, sampai tengah malam,” ujarnya.
Kebiasaan tersebut dapat menggeser waktu tidur dan mengurangi durasi istirahat. Jika berlangsung terus-menerus, tubuh berisiko mengalami kekurangan tidur.
Waspadai Kebiasaan Mendengkur saat Tidur
Selain kebiasaan tidur larut malam, dr. Manfaluthy mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap mendengkur sebagai gangguan yang hanya mengusik orang lain.
Mendengkur dapat menjadi salah satu tanda obstructive sleep apnea (OSA), yaitu gangguan ketika saluran napas bagian atas menyempit atau menutup berulang kali selama tidur. Akibatnya, pernapasan terganggu dan kadar oksigen dalam darah dapat menurun.
Meski demikian, tidak semua orang yang mendengkur mengalami sleep apnea. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Menurut dr. Manfaluthy, gangguan pernapasan saat tidur dapat mengganggu kualitas tidur dan memengaruhi kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
“Dalam jangka waktu panjang, bagaimana kekurangan oksigen atau sleep apnea saat tidur, itu satu merasa brain fog. Terus yang kedua mudah lelah,” jelasnya.
Gangguan tidur seperti sleep apnea juga diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi dan masalah metabolik. Karena itu, mendengkur keras yang disertai henti napas, sering terbangun, atau rasa kantuk berlebihan pada siang hari sebaiknya tidak diabaikan.
Gangguan Tidur Berkaitan dengan Risiko Hipertensi
Dr. Manfaluthy juga menyoroti hubungan antara gangguan tidur dan hipertensi. Tidur yang terganggu, khususnya akibat sleep apnea, dapat memengaruhi pengaturan tekanan darah dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Hipertensi sendiri merupakan salah satu faktor risiko utama stroke. Tekanan darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke akibat penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah di otak.
Artinya, menjaga kualitas tidur menjadi salah satu bagian penting dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh. Namun, gangguan tidur bukan satu-satunya penyebab hipertensi atau stroke karena kedua kondisi tersebut juga dipengaruhi berbagai faktor lain.
Jika mengalami gangguan tidur yang menetap, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
Jangan Mengandalkan Tidur Balas Dendam saat Akhir Pekan
Kebiasaan mengurangi waktu tidur pada hari kerja lalu menggantinya dengan tidur lebih lama saat akhir pekan juga menjadi perhatian.
Dr. Manfaluthy menjelaskan bahwa tidur lebih lama pada akhir pekan tidak sepenuhnya menggantikan proses pemulihan tubuh yang terganggu akibat begadang pada malam sebelumnya.
“Kalau hari berikutnya tidurnya tiga-empat jam, berarti pas weekend, jadi mulai pada satu malam sampai Minggu siang tidur. Balas dendam itu hanya berpengaruh terhadap psikologis. Supaya menghilangkan secara fisik rasa lelahnya, tetapi tidak menggantikan proses yang terlewati saat begadang,” ujarnya.
Karena itu, menjaga jadwal tidur yang konsisten lebih dianjurkan daripada terus-menerus mengurangi waktu tidur dan mencoba menggantinya pada akhir pekan.
Bagi pekerja dengan sistem sif malam, pengaturan waktu tidur dan lingkungan istirahat juga perlu diperhatikan. Ruangan yang gelap, tenang, dan nyaman dapat membantu mendukung tidur setelah bekerja pada malam hari.
Dr. Manfaluthy menambahkan, penanganan gangguan tidur terkadang membutuhkan kolaborasi beberapa dokter spesialis, mulai dari neurologi, jantung, penyakit dalam, THT, hingga kesehatan jiwa, sesuai dengan kondisi pasien.
Dengan mengenali tanda gangguan tidur sejak dini dan memperbaiki kebiasaan istirahat, masyarakat dapat mengambil langkah untuk menjaga kualitas tidur sekaligus mendukung kesehatan otak dan tubuh dalam jangka panjang.