- Kemampuan masyarakat dalam menjaga kesehatan secara mandiri atau self-care semakin mendapat perhatian di kawasan Asia Pasifik.
- Ketua APSMI Rachmadi Joesoef menyatakan bahwa edukasi yang tepat membantu masyarakat membuat keputusan kesehatan yang bertanggung jawab serta menghemat waktu dan biaya.
- Kepala BPOM Taruna Ikrar menekankan perlunya regulasi dan pengawasan ketat terhadap keamanan produk serta ketersediaan informasi obat yang akurat bagi masyarakat.
Suara.com - Kemampuan masyarakat dalam menjaga kesehatan secara mandiri atau self-care semakin mendapat perhatian di kawasan Asia Pasifik. Namun, upaya ini tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat mengenali gejala penyakit dan memilih pengobatan. Literasi kesehatan, akses terhadap informasi yang benar, serta jaminan keamanan produk juga menjadi bagian penting.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Asia Pacific Self-Medication Industry (APSMI) Summit 2026 yang digelar di Bali pada Oktober 2026. Mengusung tema “Self-Care in Healthcare: Scaling Partnership for Better Health Outcomes”, pertemuan ini mempertemukan regulator, tenaga kesehatan, akademisi, pemimpin kesehatan masyarakat, dan pelaku industri dari berbagai negara.
Ketua APSMI sekaligus CEO PT Konimex, Rachmadi Joesoef, mengatakan keputusan terkait kesehatan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, masyarakat perlu dibekali pengetahuan dan informasi yang tepat agar dapat mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Perawatan mandiri adalah sesuatu yang menyentuh kita semua setiap hari. Orang-orang membuat keputusan tentang kesehatan mereka, dan sudah menjadi tanggung jawab bersama kita untuk membantu mereka membuat keputusan tersebut dengan baik, dengan pengetahuan yang tepat, informasi yang benar, serta akses ke pilihan yang aman dan tepat,” ujar Rachmadi.
Menurut dia, pengembangan self-care tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, regulator, tenaga kesehatan, akademisi, industri, komunitas, dan media perlu bekerja sama agar masyarakat memiliki akses terhadap informasi dan pilihan perawatan yang aman.
Rachmadi menyebut, sejak Bangkok Joint Initiative pada 2024, telah muncul lebih dari 150 inisiatif self-care di berbagai negara Asia Pasifik. Upaya tersebut mencakup peningkatan literasi kesehatan, penguatan layanan kefarmasian, edukasi bagi petugas ritel, informasi kesehatan digital, hingga pendekatan regulasi.
Dia juga mengutip riset Global Self-Care Federation yang memperkirakan praktik self-care menghasilkan penghematan sekitar 144 miliar dolar AS bagi sistem kesehatan global setiap tahun. Praktik tersebut juga disebut dapat menghemat 2,2 miliar jam waktu dokter dan 13 miliar jam waktu perjalanan serta waktu tunggu individu.
BPOM Tekankan Keamanan dan Informasi Obat
Dalam pertemuan tersebut, Kepala BPOM Taruna Ikrar menekankan pentingnya regulasi yang mampu mendukung pengembangan self-care tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kualitas produk.
Menurut Taruna, masyarakat perlu memiliki pemahaman yang cukup mengenai kondisi kesehatan dan penggunaan obat. Meski demikian, peran dokter dan apoteker tetap dibutuhkan, terutama untuk memastikan penggunaan produk kesehatan sesuai dengan standar.
Dia juga menyoroti pentingnya ketersediaan informasi obat yang akurat dan mudah diakses, termasuk melalui kanal digital. Informasi pada kemasan, label, petunjuk penggunaan, serta status izin edar perlu menjadi perhatian agar masyarakat tidak keliru ketika memilih dan menggunakan produk.
Taruna menegaskan, tanggung jawab dalam pengembangan self-care harus dibagi antara masyarakat, industri, fasilitas pelayanan kesehatan, dan regulator. Industri bertanggung jawab memastikan produk yang beredar aman, bermutu, dan dapat diakses masyarakat, sementara regulator perlu memastikan pengawasan serta standar kualitas tetap terjaga.
Kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah juga dinilai penting untuk mendorong inovasi produk maupun regulasi. Dengan dukungan tersebut, pengembangan self-care diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan sekaligus mendukung penggunaan sumber daya kesehatan yang lebih efisien.
Lebih dari 140 Inisiatif di Asia Pasifik
Sepanjang 2026, tercatat 81 inisiatif self-care di 10 negara Asia Pasifik yang melibatkan 17 organisasi. Programnya beragam, mulai dari edukasi kesehatan, pemanfaatan teknologi digital, kerja sama pemerintah dan swasta, hingga penguatan regulasi.
Jika digabungkan dengan inisiatif yang dilaporkan pada 2025, jumlahnya mencapai lebih dari 140 program. Seluruhnya sejalan dengan agenda Bangkok Joint Initiative yang disepakati pada 2024.
Co-Chair Self-CARER sekaligus Direktur Office of International Regulatory Affairs, Pharmaceutical Safety Bureau, Kementerian Kesehatan Jepang, Takayuki Okubo, mengatakan kolaborasi antarnegara diperlukan agar berbagai diskusi dan pertukaran pengalaman bisa menghasilkan perubahan nyata.
“Platform Self-CARER menyatukan regulator, pakar kesehatan, dan industri self-medication di Asia Pasifik. Tiga hari pertemuan ini menunjukkan pentingnya kerja sama regional melalui pertukaran pengalaman, tantangan, dan praktik terbaik di bidang regulasi,” kata Okubo.
Pentingnya self-care bagi masyarakat juga disoroti Manjulaa Narasimhan, ilmuwan sekaligus pemimpin bidang Self-Care di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut dia, pilihan perawatan mandiri yang berbasis bukti dapat melengkapi layanan kesehatan di fasilitas medis.
Pilihan tersebut juga dinilai membantu meningkatkan literasi kesehatan, memperluas akses, dan mengurangi kesenjangan layanan kesehatan di berbagai kelompok masyarakat.
Dengan demikian, self-care bukan berarti masyarakat harus menangani seluruh masalah kesehatannya sendiri. Ketersediaan informasi yang benar, produk yang aman, serta akses terhadap tenaga kesehatan tetap menjadi bagian penting agar perawatan mandiri dilakukan secara tepat.