- UNICEF melaporkan dua dari lima balita di Indonesia belum mendapatkan keragaman pangan sesuai rekomendasi.
- Survei Status Gizi Indonesia 2024 mencatat prevalensi stunting nasional mengalami penurunan menjadi sebesar 19,8 persen.
- Anak membutuhkan berbagai zat gizi yang diperoleh dari sumber pangan berbeda, bukan hanya mengandalkan satu jenis makanan.
Suara.com - Pemenuhan gizi anak Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya terlihat dari keragaman pangan yang dikonsumsi balita. UNICEF melaporkan, dua dari lima balita di Indonesia belum mendapatkan keragaman pangan sesuai rekomendasi.
Padahal, kecukupan dan variasi asupan nutrisi sejak dini menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Kebutuhan gizi yang terpenuhi membantu anak mendapatkan zat gizi yang diperlukan sesuai tahapan usianya.
Persoalan tersebut juga tercermin dari angka stunting nasional. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting di Indonesia sebesar 19,8 persen, turun dari 21,5 persen pada 2023.
Meski menunjukkan penurunan, angka tersebut masih menjadi perhatian. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 18,8 persen pada 2025 dan 14,2 persen pada 2029.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemenuhan gizi anak adalah keragaman makanan. Anak membutuhkan berbagai zat gizi yang diperoleh dari sumber pangan berbeda, bukan hanya mengandalkan satu jenis makanan.
Orang tua perlu memperhatikan komposisi makanan sehari-hari, termasuk sumber protein, sayuran, buah-buahan, serta makanan sumber energi. Susu juga dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang, sesuai kebutuhan dan usia anak.
Tantangan pemenuhan gizi juga berkaitan dengan kebiasaan konsumsi masyarakat. Data konsumsi susu nasional pada 2025 tercatat sebesar 2,3 kilogram per kapita per tahun. Sementara itu, hanya 9,4 persen penduduk berusia lima tahun ke atas yang mengonsumsi susu lebih dari sekali sehari.
Selain memperhatikan asupan makanan, orang tua perlu memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala. Posyandu menjadi salah satu fasilitas kesehatan berbasis masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk memantau berat badan, tinggi badan, serta perkembangan anak.
Melalui pemantauan rutin, orang tua dapat mengetahui apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai tahapan usianya. Jika ditemukan masalah, keluarga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memperoleh arahan lebih lanjut.
Edukasi gizi juga diperlukan agar orang tua memahami kebutuhan nutrisi anak dan mampu menyesuaikan menu makanan dengan kondisi keluarga. Pemenuhan gizi tidak hanya bergantung pada satu jenis produk, tetapi pada pola makan yang beragam dan seimbang serta kebiasaan memantau tumbuh kembang.

Senior General Manager Brand Consumer Marketing Nutritionals, Women & Children VMS, and Children OTC PT Tempo Scan Pacific Tbk, Endang Wijaya, mengatakan pemenuhan nutrisi merupakan hak setiap anak untuk mendukung tumbuh kembang dan mengoptimalkan potensinya.
“Kami percaya nutrisi bukan sekadar pilihan, melainkan hak setiap anak untuk mendukung tumbuh kembang dan mengoptimalkan potensinya. Karenanya, vidoran Xmart menghadirkan program Dunia S.M.A.R.T vidoran STAR Moment Roadshow bersama Indomaret Peduli Berbagi sebagai wujud nyata kami untuk mendukung nutrisi anak Indonesia demi terwujudnya Generasi Emas,” ujarnya.
Program tersebut memberikan paket nutrisi kepada lebih dari 2.250 balita di sejumlah wilayah Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Kegiatan yang bekerja sama dengan Indomaret Peduli Berbagi itu juga menghadirkan edukasi gizi bersama ahli nutrisi serta pemeriksaan tumbuh kembang anak.