- Mitra Keluarga Kemayoran menghadirkan teknologi neuromodulasi melalui pusat layanan NeuroPrime untuk menangani gangguan saraf yang sulit diobati.
- Prosedur Deep Brain Stimulation diterapkan untuk membantu pasien Parkinson mengendalikan gejala, mengurangi tremor, serta memperbaiki kelancaran gerakan.
- Terapi Vagus Nerve Stimulation diberikan kepada penderita epilepsi kebal obat guna menurunkan frekuensi dan tingkat keparahan kejang.
Suara.com - Penyakit Parkinson dan epilepsi merupakan gangguan saraf yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Selama ini, pengobatan menggunakan obat-obatan menjadi salah satu penanganan utama.
Namun, tidak semua pasien mendapatkan hasil optimal meskipun telah menjalani terapi dalam jangka panjang. Kabar baiknya, perkembangan teknologi medis kini menghadirkan pilihan penanganan lain bagi pasien dengan kondisi tertentu.
Salah satunya melalui teknologi neuromodulasi, yakni metode terapi yang menggunakan impuls listrik untuk memodulasi aktivitas sistem saraf yang mengalami gangguan.
Teknologi tersebut kini tersedia di Indonesia melalui NeuroPrime (Parkinson, Movement Disorder and Epilepsy Center) di Mitra Keluarga Kemayoran.
Dua prosedur yang ditawarkan adalah Deep Brain Stimulation (DBS) untuk pasien Parkinson tertentu dan Vagus Nerve Stimulation (VNS) bagi penderita epilepsi kebal obat.
Kehadiran teknologi ini menjadi perhatian di tengah meningkatnya beban penyakit saraf. Studi BMJ berbasis Global Burden of Disease 2021 memproyeksikan jumlah penderita Parkinson di Indonesia meningkat sekitar 184 persen pada periode 2021 hingga 2050.
Sementara itu, sekitar satu dari tiga orang dengan epilepsi masih mengalami kejang meskipun telah mendapatkan pengobatan yang optimal.
dr. Kevin Gunawan, Sp.BS, F.NF, F.BSA, Dokter Spesialis Bedah Saraf Fungsional Mitra Keluarga Kemayoran, mengatakan masih banyak pasien yang belum mengetahui adanya pilihan penanganan selain konsumsi obat.
“Banyak pasien datang setelah bertahun-tahun mengalami tremor yang semakin berat, tubuh kaku, sulit berjalan, atau epilepsi yang kejangnya tetap berulang meskipun sudah mengonsumsi berbagai macam obat. Padahal, bagi pasien yang memenuhi kriteria, terdapat teknologi neuromodulasi yang dapat memberikan harapan baru untuk mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup,” ujar dr. Kevin.
Mengenal Teknologi DBS untuk Mengendalikan Gejala Parkinson
Parkinson sering kali identik dengan tangan yang bergetar. Padahal, penyakit saraf progresif ini juga dapat menyebabkan kekakuan otot, gerakan melambat, gangguan keseimbangan hingga kesulitan melakukan aktivitas sederhana, seperti berjalan, makan, dan menulis.
Pada sebagian pasien, efektivitas obat juga dapat berubah seiring perkembangan penyakit. Gejala bisa kembali muncul sebelum jadwal konsumsi obat berikutnya atau disertai gerakan tubuh yang tidak terkendali.
Dalam kondisi tertentu, Deep Brain Stimulation (DBS) dapat menjadi alternatif terapi. Prosedur ini dilakukan dengan menanamkan elektroda berukuran kecil pada area tertentu di otak yang berperan mengatur gerakan.
Elektroda tersebut kemudian dihubungkan dengan alat stimulator yang ditanam di bawah kulit dada. Perangkat ini mengirimkan impuls listrik terkontrol untuk membantu mengatur aktivitas saraf yang terganggu.
Menurut dr. Kevin, DBS bukan tindakan untuk menyembuhkan Parkinson ataupun menggantikan fungsi otak. Namun, teknologi tersebut dapat membantu mengendalikan gejala, mengurangi tremor, memperbaiki kelancaran gerakan, serta memungkinkan penyesuaian kebutuhan obat berdasarkan evaluasi dokter.
“DBS bukan mengganti fungsi otak maupun menyembuhkan penyakit Parkinson, tetapi membantu mengendalikan gejala sehingga pasien dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih baik,” jelasnya.
VNS, Pilihan bagi Pasien Epilepsi yang Sulit Dikendalikan
Teknologi berikutnya adalah Vagus Nerve Stimulation (VNS), yang ditujukan bagi pasien epilepsi kebal obat atau kondisi ketika kejang masih berulang meskipun telah mendapatkan terapi obat anti bangkitan secara optimal.
Berbeda dengan DBS yang menggunakan elektroda pada area tertentu di otak, VNS bekerja dengan memberikan stimulasi listrik ringan melalui saraf vagus di leher.
Prosedurnya dilakukan dengan menanamkan perangkat kecil di bawah kulit dada, kemudian menghubungkannya dengan saraf vagus. Stimulasi tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan frekuensi maupun tingkat keparahan kejang.
dr. Kevin menjelaskan, VNS dapat dipertimbangkan bagi pasien yang fokus kejangnya berada dekat area vital otak sehingga sulit diangkat melalui operasi. Teknologi ini juga dapat menjadi pilihan ketika pasien memiliki beberapa fokus kejang atau masih mengalami kejang setelah menjalani operasi epilepsi.
“VNS menjadi pilihan bagi pasien epilepsi tertentu, terutama pada kondisi kasus epilepsi kebal obat, yang fokus kejangnya tidak memungkinkan diangkat karena fokus kejangnya dekat dengan bagian vital otak, atau terdapat fokus kejang yang banyak,” ungkapnya.
Meski demikian, DBS maupun VNS bukan prosedur yang dapat diberikan kepada semua pasien. Pemeriksaan menyeluruh dan evaluasi multidisiplin tetap diperlukan untuk menentukan tindakan paling sesuai.
Melalui NeuroPrime Mitra Keluarga Kemayoran, layanan bedah saraf fungsional juga mencakup penanganan tremor esensial, distonia, trigeminal neuralgia, hingga hemifacial spasm.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasien dengan gangguan saraf yang belum terkontrol melalui pengobatan memiliki pilihan terapi lanjutan di dalam negeri. Dengan diagnosis dan evaluasi yang tepat, teknologi medis modern diharapkan dapat membantu pasien menjalani kehidupan yang lebih baik.