- Indonesia menduduki peringkat kelima dunia dengan 20,4 juta penyandang diabetes dewasa pada tahun 2024.
- Penyandang diabetes harus menerapkan prinsip pengaturan makan 5J serta menjaga nutrisi dan aktivitas fisik seimbang.
- Kalbe menghadirkan inisiatif Diabetes Total Solution di Jakarta untuk mendukung edukasi, nutrisi, dan deteksi dini diabetes.
Suara.com - Diabetes kerap membuat seseorang merasa harus membatasi banyak jenis makanan. Padahal, menjalani pola makan sehat bagi penyandang diabetes atau diabetesi bukan berarti harus menghilangkan makanan favorit dari menu sehari-hari. Kuncinya terletak pada pengaturan jumlah, jenis, hingga jadwal makan agar kadar gula darah tetap terkontrol.
Pentingnya pengaturan nutrisi ini semakin relevan mengingat jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan IDF Diabetes Atlas 2025, sekitar 20,4 juta orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes pada 2024.
Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia berdasarkan jumlah penyandang diabetes dewasa. Bahkan, diperkirakan 73,2 persen kasus belum terdiagnosis.
Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr. Laurencia Ardi, M.Gizi, AIFO-K, menjelaskan bahwa peningkatan kasus diabetes tidak terlepas dari perubahan gaya hidup dan kebiasaan tidak sehat yang berlangsung dalam jangka panjang.
"Angka kejadian diabetes meningkat dari tahun ke tahun karena perubahan lifestyle. Pola hidup tidak sehat yang dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu panjang itulah yang berakibat diabetes," jelas dr. Laurencia dalam Media Discussion Diabetes Total Solution (DTS) Kalbe di Jakarta, 3 November 2026.

Menurutnya, pengelolaan diabetes tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Ada lima pilar yang harus dijalankan secara bersamaan, yakni edukasi, pengaturan nutrisi, aktivitas fisik, terapi pengobatan, dan kontrol gula darah.
Dari kelima pilar tersebut, pengaturan makanan menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan setiap hari. Dr. Laurencia menjelaskan, penyandang diabetes dapat menerapkan prinsip 5J, yaitu jumlah, jenis, jadwal, jurus masak, dan jujur dalam mengatur konsumsi makanan.
Artinya, diabetesi perlu memperhatikan porsi makanan sesuai kebutuhan kalori, memilih jenis makanan dengan gizi seimbang, serta menjaga jadwal makan secara teratur. Cara pengolahan makanan dan kedisiplinan menjalankan pola makan juga tidak kalah penting.
Asupan nutrisi pun harus tetap lengkap, mencakup makronutrien seperti protein, karbohidrat, dan lemak, serta mikronutrien berupa vitamin dan mineral. Makanan tidak harus dihilangkan sepenuhnya, tetapi porsinya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.
"Prinsip pengaturan makan pada diabetes bukan berfokus pada larangan yang ketat, melainkan pengaturan pola makan yang tepat dan seimbang. Menu yang dikonsumsi penyandang diabetes pada dasarnya bisa sama dengan menu keluarga, selama jumlah dan komposisinya diperhatikan," terangnya.
Selain nutrisi, aktivitas fisik juga perlu dilakukan secara konsisten. Penyandang diabetes dianjurkan berolahraga 3–5 kali dalam seminggu dengan total durasi minimal 150 menit. Aktivitas tersebut sebaiknya tidak hanya dilakukan saat akhir pekan, tetapi dibagi secara rutin sepanjang minggu.
Terapi pengobatan sesuai resep dokter dan pemeriksaan gula darah berkala juga harus tetap dijalankan. Dr. Laurencia mengingatkan agar penyandang diabetes tidak menghentikan obat atas keputusan sendiri karena khawatir terhadap kesehatan ginjal.
Pengobatan yang tepat justru diperlukan untuk membantu mengendalikan gula darah dan mencegah komplikasi. Upaya edukasi dan pengelolaan diabetes tersebut turut diperkuat Kalbe melalui ekosistem Diabetes Total Solution (DTS).
Head of Corporate External Communication PT Kalbe Farma Tbk, Hari Nugroho, mengatakan inisiatif ini mengintegrasikan edukasi, deteksi dini, nutrisi, terapi, hingga inovasi kesehatan personal.
"Kalbe percaya bahwa pencegahan diabetes perlu dilakukan sedini mungkin. Upaya tersebut tidak hanya melalui edukasi dan deteksi dini, tetapi juga didukung pemenuhan nutrisi yang tepat serta pemanfaatan inovasi kesehatan yang membantu masyarakat memahami risiko kesehatannya secara lebih personal," ujar Hari.