- Ekonomi sirkular dimulai dari rumah tangga, warga didorong memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah agar sampah yang masih bisa diolah tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir.
- Edukasi dan fasilitas pengolahan sampah diperkuat, program mencakup edukasi kepada warga di empat RT dan pelatihan bagi 50 anak serta anggota Karang Taruna.
- Program dievaluasi hingga September 2027. Monitoring dilakukan untuk melihat perkembangan kegiatan dan partisipasi masyarakat.
Suara.com - Penerapan ekonomi sirkular dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah. Sampah organik yang selama ini dibuang bersama limbah lainnya berpotensi diolah menjadi kompos sehingga memiliki manfaat kembali bagi lingkungan.
Ekonomi Sirkular tersebut dilakukan melalui program pengelolaan sampah berbasis masyarakat di RW 06, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Program ini melibatkan warga di RT 02, RT 03, RT 06, dan RT 11 melalui edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik.
Selain memberikan edukasi kepada warga, program ini juga menyasar anak-anak dan anggota Karang Taruna. Sebanyak 50 peserta menjadi target dalam kegiatan pelatihan pengelolaan sampah tersebut.
Untuk mendukung kegiatan di tingkat lingkungan, sejumlah sarana pengolahan sampah turut disediakan. Fasilitas tersebut meliputi tujuh unit komposter berkapasitas 200 liter, 11 tempat sampah berwarna biru berkapasitas 60 liter, serta lima tempat sampah berkapasitas 120 liter.

Tersedia pula satu unit mesin pengayak kompos rotary dengan kapasitas pengolahan 100 hingga 150 kilogram per jam.
Melalui fasilitas dan edukasi tersebut, sampah organik diharapkan dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dapat dipilah sesuai jenisnya. Pemilahan sejak dari rumah juga diharapkan mengurangi jumlah sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir.
Direktur Utama BRI Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo atau Satyo, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan.
"Kamis berharap kehadiran BRI Finance dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Kami percaya, langkah sederhana yang dilakukan bersama dapat membawa dampak positif dan berkelanjutan," ujar Satyo di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Satyo menambahkan, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk dukungan sarana yang memadai bagi petugas dan masyarakat.
"Kami memahami bahwa pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk dukungan sarana yang memadai bagi petugas dan masyarakat. Karena itu, bantuan ini diharapkan dapat mendukung proses pengelolaan sampah sekaligus mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah," lanjutnya.
Program tersebut akan dipantau dan dievaluasi hingga September 2027. Hasil evaluasi nantinya menjadi bahan pertimbangan untuk memperluas pelaksanaan program ke RT lainnya.