- Dokter enyatakan obat SGLT2 inhibitor menurunkan gula darah dan berat badan .
- Obat ini bekerja di tubulus proksimal ginjal dengan menghambat penyerapan kembali glukosa agar terbuang melalui urine.
- Pembuangan glukosa lewat urine tersebut menyebabkan tubuh kehilangan sekitar 100-300 kalori setiap harinya.
Suara.com - Obat diabetes golongan Sodium-Glucose Cotransporter-2 (SGLT2) inhibitor diketahui tidak hanya membantu mengontrol kadar gula darah, tetapi juga dapat menurunkan berat badan.
Efek tersebut terjadi karena obat ini membuat sebagian glukosa yang seharusnya diserap kembali oleh tubuh justru dikeluarkan melalui urine alias air seni.
Subspesialis Endokrin, Metabolik, dan Diabetes, Dr. dr. Indra Wijaya, M.Kes., Sp.PD, Subsp. EMD(K), FINASIM, FACP, AIFO-K, menjelaskan bahwa SGLT2 inhibitor bekerja pada bagian ginjal yang disebut tubulus proksimal.
Obat ini menghambat proses penyerapan kembali glukosa sehingga gula yang telah disaring oleh ginjal dapat dibuang bersama urine.
"Golongan tablet ini, SGLT2 inhibitor-nya, ada di dua tempat ini. Kenapa dia masuk ke populasi yang untuk kontrol ginjal dan jantung, tapi juga masuk ke pasien yang kelebihan berat badan atau obesitas, karena dia bisa menurunkan juga berat badan. Nah, mekanismenya dia satu golongan yang bekerja di tubulus proksimal ginjal," ujar dr. Indra dalam sesi wawancara bersama Daewoong di Jakarta Utara, Senin (2/11/2026).
![Subspesialis Endokrin, Metabolik, dan Diabetes, Dr. dr. Indra Wijaya, M.Kes., Sp.PD, Subsp. EMD(K), FINASIM, FACP, AIFO-K. [ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/11/04/57690-subspesialis-endokrin-metabolik-dan-diabetes-dr-dr-indra-wijaya-mkes.jpg)
Sebagai catatan, ginjal bertugas menyaring darah dan mengatur zat-zat yang masih dibutuhkan tubuh, termasuk glukosa atau gula darah.
Dalam kondisi normal, glukosa yang disaring ginjal akan diserap kembali ke dalam darah. Proses ini berlangsung di tubulus proksimal dengan bantuan protein pengangkut yang disebut SGLT2.
Menurut tinjauan ilmiah yang dipublikasikan NCBI Bookshelf, protein SGLT2 berperan dalam menyerap kembali sebagian besar glukosa yang disaring ginjal. Dengan demikian, tubuh tidak langsung kehilangan glukosa yang masih bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Namun, kondisi ini berbeda saat seseorang mengonsumsi obat SGLT2 inhibitor. Obat ini menghambat kerja protein pengangkut SGLT2 sehingga proses penyerapan kembali glukosa berkurang. Akibatnya, lebih banyak gula tertinggal di saluran ginjal dan kemudian dikeluarkan melalui urine.
Dr. Indra menjelaskan, proses tersebut menjadi salah satu cara obat ini membantu mengendalikan kadar gula darah pada pasien diabetes.
"Jadi ginjal itu nyaring, tapi gulanya akan dimasukin lagi ke dalam tubuh kita. Nah, untuk pasien diabetes kan ketinggian gulanya, ya kita buang saja," jelasnya.
"Caranya, kita blok reseptor dia untuk masukin lagi ke darah, ya dibuang lewat urin. Nah, maka itu pasien-pasien diabetes yang meminum obat ini, SGLT2 inhibitor, pasti di urinnya ada gula," lanjut dr. Indra.
Ketika sebagian glukosa dikeluarkan melalui urine, tubuh juga kehilangan sebagian energi yang terkandung di dalamnya. Kondisi ini menciptakan defisit energi yang dapat berkontribusi terhadap penurunan berat badan.
Menurut dr. Indra, glukosa yang terbuang melalui urine akibat konsumsi obat diabetes golongan SGLT2 inhibitor dapat membuat tubuh kehilangan sekitar 100 hingga 300 kalori per hari.
"Obat tersebut, ya gulanya bagus, tapi gulanya kebuang tuh kalorinya, bisa kebuang tuh cukup besar ya. Bisa sampai rata-rata 100 sampai 300 kalori per hari," kata dr. Indra.
Efek penurunan berat badan ini dinilai dapat menjadi keuntungan tambahan bagi pasien diabetes yang juga mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Sebab, pengendalian berat badan merupakan salah satu bagian penting dalam pengelolaan diabetes tipe 2.
Namun, dokter yang berpraktik di Tzu Chi Hospital itu mengingatkan bahwa pasien diabetes yang mengalami penurunan berat badan akibat konsumsi SGLT2 inhibitor perlu mendapatkan penyesuaian asupan nutrisi agar berat badannya tidak terus berkurang.
"Nah, cara menyikapinya adalah meng-replace kalau yang disebut kebuang, dengan asupan, tapi dengan asupan yang rendah gula. Contohnya, naikkan proteinnya, tambah susu yang rendah gula," pungkas dr. Indra.