Perubahan fisik dan fungsi jalan tersebut mulai terlihat signifikan, terutama setelah dilakukan revitalisasi pascakrisis ekonomi dunia pada 1930.
Setelah lebih dari 200 tahun, Jalur Pantura jadi jalan alternatif bagi sejumlah kendaraan besar seperti truk muatan dan bus untuk melintasi Jawa.
Geliat aktivitas perekonomian pun terus berkembang hingga sekitar tahun 2000-an Jalur Pantura jadi jalan primadona penduduk Jawa, khususnya ketika musik mudik Lebaran.
Sayangnya, sejak tok Cikopo-Palimanan (Cipali) mulai beroperasi pada Juni 2015, volume kendaraan yang melintas di Jalur Pantura mulai berkurang karena banyak yang beralih menggunakan tol.
Bagi sejumlah orang, tol dinilai lebih cepat sampai ke tempat tujuan meskipun harus mengeluarkan uang untuk melewatinya.