Indotnesia - Massa dari berbagai kalangan berkumpul di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (6/9/2022). Mereka melakukan demonstrasi untuk menolak kenaikan harga BBM.
Melansir Suara.com, Presiden Partai Buruh Said Iqbal mengatakan sekitar 3.000-5.000 orang menuntut pembentukan panitia khusus BBM untuk mengupayakan penurunan harga BBM.
Aksi demo menolak kenaikan BBM digelar di 34 provinsi. Di Jakarta, massa dipusatkan di DPR RI.
“Aksi ini diorganisir Partai Buruh dan organisasi serikat buruh, petani, nelayan, guru honorer, PRT, buruh migran, miskin kota, dan organisasi perempuan di 34 provinsi,” ucapnya.
Dunia telah menyaksikan banyak aksi demo, yang bahkan membuat jutaan orang turun ke jalan untuk protes. Berikut 5 aksi demo terbesar sepanjang sejarah, seperti dilansir dari Live Science:
1. Demo Petani di India
Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia, nggak heran ada banyak orang yang melakukan unjuk rasa. Pada awal Desember 2021, puluhan ribu petani India memprotes rencana perubahan undang-undang terkait hasil tani.
Pada akhirnya, aksi demo tersebut melibatkan sekitar 250 juta orang yang turun. Mereka tidak hanya dari kalangan petani, namun juga pekerja lainnya yang mendukung petani.
2. George Floyd dan Black Lives Matter
Di tengah pandemi Covid-19, kematian seorang warga bernama George Floyd oleh polisi membuat jutaan orang di Amerika Serikat melakukan aksi protes.
Dalam 48 jam setelah kematiannya pada 25 Mei 2020, ribuan orang memenuhi jalan-jalan di berbagai wilayah di AS. Mereka berbaring di jalan dan meneriakkan “I can’t breathe”.
Kalimat “I can’t breathe” atau “Saya tidak bisa bernapas” adalah kata-kata terakhir Floyd saat memohon kepada polisi untuk berhenti menginjak lehernya.
Dari situ, munculah gerakan Black Lives Matter yang menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia, dengan mengangkat isu rasisme.
3. Women’s March
Ketika Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS pada 2017, muncul aksi protes. Mereka mengkritik sikap Trump terhadap perempuan dan politik.
Dalam kampanye presiden pada 2016, suami Melania Trump itu disebut misoginis dan menjatuhkan kesetaraan bagi orang non-kulit putih atau orang kulit berwarna, imigran, dan komunitas LGBTQ+.
Ratusan ribu perempuan turun ke jalan-jalan ibu kota, diikuti dengan jutaan orang lainnya di AS dan beberapa negara di dunia.
4. Demo Menentang Invasi ke Irak
Pada 15 Februari 2003, jutaan orang melakukan unjuk rasa di lebih dari 600 kota. Mereka menentang rencana Presiden AS George W Bush untuk menyerang Irak.
Di Roma, Italia, sebanyak 3 juta orang ambil bagian dalam aksi demo itu. Sekitar 750.000 berkumpul di London, Inggris, untuk menentang invasi AS ke Irak.
Ada lebih dari 1,5 juta orang unjuk rasa di Madrid, dan 100.000 orang di New York melakukan demp di dekat markas besar PBB. Meski aksi protes berlangsung damai, ternyata AS tetap menyerang Irak mulai 20 Maret 2003.
5. Unjuk Rasa Tiananmen
Pada 1989, seorang pria berdiri sendirian di depan tank di Lapangan Tiananmen, China. Aksinya itu merupakan tindakan terakhir dari aksi demo yang membawa sekitar satu juta orang ke jalan untuk menuntut lebih banyak kebebasan.
Mahasiswa memimpin unjuk rasa ada pertengahan April 1989 itu, setelah kematian Hu Yaobang, seorang mantan pejabat tinggi yang disingkirkan setelah menyerukan reformasi.
Titik utama unjuk rasa berada di Lapangan Tiananmen hingga pada akhir Mei 1989, pemerintah memberlakukan darurat militer. Aksi protes terus menyebar ke sekitar 400 kota.