BMKG Yogyakarta Sebut Peningkatan Kegempaan Akibat Sesar Opak Masih Normal

Suara Joglo

Selasa, 15 Agustus 2023 | 15:11 WIB
BMKG Yogyakarta Sebut Peningkatan Kegempaan Akibat Sesar Opak Masih Normal
Ilustrasi gempa bumi (Suara.com)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyatakan peningkatan intensitas kegempaan akibat aktivitas Sesar Opak atau patahan yang membentang di tengah Daerah Istimewa Yogyakarta masih dalam kategori normal.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Sleman Setyo Aji Prayudi mengatakan pihaknya terus memonitor aktivitas gempa bumi di DIY, termasuk yang bersumber dari Sesar Opak selama 24 jam melalui sembilan sensor.

"Kenapa saya bilang dalam kategori normal, karena DIY-Jateng dan selatan DIY memang zona aktif gempa, artinya gempa bisa terjadi kapan saja," kata dia.

Aji mengakui berdasarkan hasil analisis rekaman gempa yang tertangkap sensor milik BMKG menunjukkan bahwa intensitas gempa bumi yang bersumber dari Sesar Opak mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir.

"Kalau kita lihat dari data seismisitas, data kegempaan beberapa tahun ke belakang (2022, 2021, 2020 dan seterusnya), kita lihat lima tahun terakhir kurvanya cenderung meningkat," kata dia.

Kegempaan tersebut rata-rata memiliki kekuatan dengan kategori kecil di bawah magnitudo 5.0, sehingga hanya bisa terbaca alat pendeteksi gempa alias tidak bisa dirasakan manusia.

Pemicu peningkatan kegempaan tersebut, kata dia, antara lain akibat rilis akumulasi energi Sesar Opak yang hingga kini masih aktif.

Meskipun rata-rata magnitudonya kecil, dia menyebut kejadian itu sebagai indikasi bahwa daerah-daerah itu merupakan daerah gempa.

Berdasarkan data hasil monitoring Stasiun Geofisika Kelas I Sleman selama lima tahun terakhir, tercatat 136 kejadian gempa bumi di DIY pada 2018, kemudian meningkat menjadi 144 kejadian pada 2019, 160 kejadian pada 2020, 282 kejadian pada 2021, dan 902 kejadian pada 2022.

baca juga

Kegempaan tersebut bersumber dari aktivitas Sesar Opak dan sebagian dari subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Semakin meningkat intensitas gempa bumi di daerah lintasan Sesar Opak, kata Aji, justru lebih baik, karena mengurangi potensi munculnya gempa berkekuatan besar.

"Secara teoretis dengan banyaknya gempa yang terjadi itu kan ada rilis energi yang dikeluarkan ketimbang energi yang terakumulasi justru ketika terjadi gempa, gempanya besar. Jadi, dengan adanya gempa-gempa kecil pada dasarnya membantu mengurangi gempa besar," kata dia.

Meski waktu kejadian gempa tidak dapat diprediksi, Aji mengakui Sesar Opak memiliki potensi memicu gempa dengan magnitudo hingga 6,5 atau gempa merusak seperti yang pernah terjadi pada 2006.

Ia meminta berbagai informasi terkait aktivitas gempa di kawasan Sesar Opak tersebut tidak membuat masyarakat panik, sebaliknya perlu direspons dengan peningkatan kewaspadaan, kemampuan mitigasi, serta membuat bangunan dengan konstruksi tahan gempa.

"Poinnya adalah masyarakat di DIY atau masyarakat di sekitar Sesar Opak lebih waspada, dalam artian paham konsep mitigasi gempa bumi, paham konsep evakuasi mandiri, sehingga diharapkan kalau pun terjadi dampaknya tidak terlalu signifikan," ucap dia.

Staf Stasiun Geofisika Kelas I Sleman Ayu K. Ekarsti menambahkan selain pemantauan melalui sensor, BMKG juga menyelidiki bagaimana aktivitas Sesar Opak melalui riset dengan sejumlah perguruan tinggi menggunakan studi tomografi, kajian seismisitas, pengamatan GPS, dan sejumlah metode lain.

Berdasarkan penelitian yang terus dilakukan BMKG, kata dia, hingga kini belum bisa dinyatakan adanya patahan baru di sekitar Sesar Opak yang membentang di sebagian Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Gunungkidul, dan sebagian wilayah Kota Yogyakarta. "BMKG sampai saat ini belum bisa memberikan statemen adanya patahan baru," kata dia.

Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut mulai tampak adanya gejala peningkatan aktivitas kegempaan akibat Sesar Opak.

Menurut dia, mitigasi bencana besar dari Sesar Opak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus terus dilakukan, sebab sesar yang memiliki magnitudo tertarget M 6,6 dan sumber gempa subduksi lempeng atau megathrust dengan magnitudo tertarget M 8,7 di selatan Jawa ini masih terus aktif.

"Jadi, tidak boleh berhenti upaya mitigasi dan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir, karena ancaman tsunami juga menghantui selain gempa bumi," kata Dwikorita melalui siaran resmi BMKG.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Gempa Bumi M 5,8 Guncang NTT, Terasa di Mataram Hingga Denpasar

Gempa Bumi M 5,8 Guncang NTT, Terasa di Mataram Hingga Denpasar

Bali | Selasa, 15 Agustus 2023 | 13:31 WIB

Detik-detik Gempa Bumi Buat Jemaat Teriakan 'Allahu Akbar' di Gereja Yogyakarta

Detik-detik Gempa Bumi Buat Jemaat Teriakan 'Allahu Akbar' di Gereja Yogyakarta

Joglo | Rabu, 26 Juli 2023 | 13:08 WIB

Gempa Bumi Terjadi di Barat Daya Pacitan, Guncangan Terasa hingga ke Jogja

Gempa Bumi Terjadi di Barat Daya Pacitan, Guncangan Terasa hingga ke Jogja

Joglo | Minggu, 23 Juli 2023 | 20:10 WIB

Terkini

Tak Masuk Skuat Oxford, Marselino Ferdinan Berada di Sevilla, Gabung Klub Apa?

Tak Masuk Skuat Oxford, Marselino Ferdinan Berada di Sevilla, Gabung Klub Apa?

Bola | Senin, 10 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Gagal Total di Piala AFF 2026, John Herdman Bidik FIFA ASEAN Cup 2026

Gagal Total di Piala AFF 2026, John Herdman Bidik FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Senin, 10 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Beli Barang Murah di Online Shop: Solusi Hemat atau Malah Bikin Boncos?

Beli Barang Murah di Online Shop: Solusi Hemat atau Malah Bikin Boncos?

Your Say | Senin, 10 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Buntut Promosi Vape Libatkan Anak, YouTuber Bigmo Diperiksa Polda Metro Jaya Siang Ini

Buntut Promosi Vape Libatkan Anak, YouTuber Bigmo Diperiksa Polda Metro Jaya Siang Ini

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:58 WIB

Peneliti ITS kembangkan Solar Chimney, Apa Itu dan Apa Keunggulannya?

Peneliti ITS kembangkan Solar Chimney, Apa Itu dan Apa Keunggulannya?

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:55 WIB

Perubahan Iklim Tak Hanya Soal Teknologi, Mengapan Pengaruh Sosial Juga Berperan Penting?

Perubahan Iklim Tak Hanya Soal Teknologi, Mengapan Pengaruh Sosial Juga Berperan Penting?

Lifestyle | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:55 WIB

Dari Hutan hingga Laut, Masyarakat Adat Knasaimos Petakan Wilayah Kelola: Mengapa Ini Penting?

Dari Hutan hingga Laut, Masyarakat Adat Knasaimos Petakan Wilayah Kelola: Mengapa Ini Penting?

Lifestyle | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:55 WIB

Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus di Sekolah, Penuh Harapan untuk Indonesia Maju

Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus di Sekolah, Penuh Harapan untuk Indonesia Maju

Lifestyle | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:53 WIB

Horor Subuh di Mesuji! Saat Eks Suami Gelap Mata Lepaskan Tembakan ke Mantan Istri

Horor Subuh di Mesuji! Saat Eks Suami Gelap Mata Lepaskan Tembakan ke Mantan Istri

Lampung | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:51 WIB

Parkir Ngepruk di Solo: Mengapa Masalah Parkir Liar Tak Akan Hilang Hanya dengan Dibina

Parkir Ngepruk di Solo: Mengapa Masalah Parkir Liar Tak Akan Hilang Hanya dengan Dibina

Your Say | Senin, 10 Agustus 2026 | 11:51 WIB

×