Suara.com - Dalam rangka mendukung efisiensi pembangkit listrik secara berkelanjutan, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Ir. Bambang Arip Dwiyantoro, ST, MSc.Eng, IPM, AEng, mengembangkan inovasi teknologi energi surya terintegrasi (integrated solar cell).
Ia memperkenalkan berbagai inovasi berbasis energi surya yang dirancang dengan menyesuaikan iklim Indonesia.
"Pengembangan energi terbarukan tidak sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi juga menjadi investasi bagi masa depan bangsa," kata Bambang dalam orasi ilmiah berjudul Optimalisasi Teknologi Panel Surya dan Solar Chimney untuk Mendukung Kemandirian Energi, Selasa (4/8).
Di antara inovasi yang dikembangkannya, ia memperkenalkan Solar Chimney Power Plant (SCPP), sebuah pembangkit listrik yang memanfaatkan panas matahari untuk menghasilkan aliran udara alami untuk menggerakkan turbin.
"Layaknya cerobong alami, sistem tersebut mengubah energi panas menjadi energi listrik tanpa menghasilkan emisi selama proses pembangkitan," jelasnya.
Dengan berbekal eksperimen dan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD), dirinya memaksimalkan desain absorber dan geometri cerobong untuk menghasilkan performa sistem yang meningkat secara signifikan.
Melalui hasil penelitiannya, Bambang menemukan bahwa konstruksi tersebut berhasil mendongkrak daya listrik lebih dari 750 persen dibandingkan model standar.
Dari capaian tersebut telah terbukti bahwa peningkatan efisiensi pembangkit listrik tidak serta merta bergantung pada ukuran sistem, tetapi juga diwujudkan melalui inovasi rekayasa desain yang efektif.
"Pendekatan ini membuka peluang penerapan pembangkit listrik tenaga surya yang sederhana, ekonomis, dan sesuai dengan kondisi wilayah Indonesia," paparnya.
Untuk meningkatkan kinerja dari inovasinya, Bambang melengkapinya dengan merancang sistem pendingin pasif panel surya berbasis serta kelapa sawit dan ampas tebu.
Ia menilai dengan memanfaatkan limbah biomassa tersebut dapat menjaga suhu panel tetap terkendali tanpa membutuhkan energi listrik tambahan. Tak hanya itu, pemanfaatan ini turut mendorong nilai tambah dari limbah pertanian melalui konsep ekonomi sirkular.
Selain SCPP, Bambang juga menunjukkan inovasinya terkait teknologi solar tracking pada pembangkit listrik tenaga surya terapung dan sistem PLTS hibrida berbasis Energy Management System (EMS).
Peluncuran inovasi Bambang ini dijadikan satu kesatuan dengan nama Integrated Sustainable Solar Energy System. Untuk konsep itu sendiri merupakan sistem yang mengintegrasikan efisiensi panel surya, penyimpanan energi, hingga pengelolaan distribusi daya secara berkelanjutan.
Guru Besar Bidang Energi Terbarukan tersebut menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan teknologi Solar Chimney melalui integrasi thermal energy storage, kecerdasan buatan (AI), serta desain berskala besar untuk mendukung efisiensi konversi energi.
"Dengan adanya inovasi ini, saya berharap bisa membantu dalam mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia," ungkapnya.
Demikian, adanya inovasi tersebut turut berkontribusi dalam memanfaatkan energi surya dan sumber daya lokal serta menjadi wujud nyata peran ITS dalam menciptakan teknologi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.