Berhembus wacana untuk membentuk duet Ganjar-Anies pada Pilpres 2024. Isu tersebut muncul merespons hasil survei yang menempatkan Prabowo Subianto unggul dari dua nama, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.
Hasil survei terbaru Litbang Kompas menempatkan Ketum Gerindra itu di posisi teratas.
Apabila di head to head Prabowo Subianto dengan Ganjar Pranowo juga masih unggul Menteri Pertahanan dengan 52,9 persen, berbanding 47,1 persen untuk Gubernur Jateng itu. Head to head Prabowo dengan Anies demikian, masing-masing 65,2 persen berbanding 34,8 persen.
Ketua DPP PDIP Said Abdullah mengatakan, berdasarkan elektabilitas posisi Ganjar masih di bawah Prabowo. Karena itu, pihaknya tidak ingin jemawa meskipun unggul dari Anies Baswedan.
"Walaupun unggul dengan Mas Anies, kami tidak merasa jemawa. Apalagi jika Ganjar harus head to head dengan Pak Prabowo masih kalah tipis. Tentu ini akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi pemenangan buat Ganjar Pranowo," ujarnya dikutip dari Suara.com, Senin (21/8/2023).
Dia mengungkapkan, posisi Anies Baswedan tidak patut diremehkan. Ganjar dan Anies sama-sama figur kompeten yang satu almamater Universitas Gajah Mada (UGM).
"Apalagi jika keduanya bisa bergabung menjadi satu kekuatan, tentu akan makin bagus buat masa depan kepemimpinan nasional kita ke depan, sama-sama masih muda, cerdas, dan enerjik," kata Said.
Dia juga menyoroti elektabilitas Ganjar Pranowo yang terus naik. Menurutnya, ini merupakan hasil kerja semua pihak.
"Tugas kami semua, termasuk PPP, Perindo dan Hanura solid bergerak semakin menaikkan elektabilitas Ganjar Pranowo. Kami akan terus bekerja keras mengambil hati rakyat, mengajak kompetisi sehat dengan beradu rekam jejak, dan gagasan, bukan hanya gimmick," ujar Said.
Baca Juga: 6 Manfaat Konsumsi Tahu Bagi Kesehatan: Menu Simpel, Sehat dan Penuh Gizi
Pengamat politik Ujang Komaruddin mengatakan, tentu ini sebuah sikap yang bertolak belakang dengan sebelumnya yang kerap menyerang Anies Baswedan. PDIP terkini malah memunculkan wacana penggabungan Ganjar Pranowo dengan Anies.
Dia melihat wacana tersebut muncul karena ada satu lawan cukup berat, yakni Prabowo Subianto.
"Jadi kalau wacana itu dimunculkan bisa jadi saat ini kan kemarin kemarin kan tarung tuh saling serang antara kubu Ganjar dan kubu Anies begitu. Sekarang saling serangnya PDIP menyerang Prabowo karena dianggap mungkin Prabowo yang paling kuat yang selalu menjadi saingan Ganjar. Maka harus katakanlah oleh PDIP harus diserang kan begitu," kata Ujang.
Isu duet Ganjar-Anies merupakan kekhawatiran akan posisi Prabowo Subianto yang semakin kuat.
"Jadi saya melihatnya dalam konteks itu kalau ya isunya sekarang kan Prabowo yang kuat ya Prabowo yang harus dilawan maka isu dimunculkan' Anies katakan lah ditarik sebagai cawapres Ganjar," kata Ujang.
Namun, Ujang menilai duet keduanya sulit direalisasikan. Meski begitu, bukan tidak mungkin tersebut.
"Terkait Ganjar-Anies ya mungkin dalam politik tidak ada yang tidak mungkin. Kawan dan lawan itu kan batasnya kecil. Tapi kalau kita lihat kemungkinannya maka kemungkinannya kecil," kata Ujang.
Sementara itu, menilik partai yang mengusung kedua tokoh akan sangat sulit. Ganjar diusung PDIP, sedangkan Anies didukung NasDem yang diibaratkan air dan minyak.
"Oleh karena itu saya melihatnya pasangan tersebut kalau soal cocok ya cocok cocok saja. Tapi kalau soal PDIP nya mau atau tidak ya belum tentu gitu karena PDIP itu kan bicarnya bicara Megawati. Megawatinya mau atau tidak karena kita tahu juga NasDem dengan PDIP tidak ketemu," tutur Ujang.
Melihat faktor partai ini tampaknya keduanya akan sangat susah untuk diduetkan menjadi satu.
"Dalam konteks konsturksi politik agak sulit agak berat untuk menyatukan ini karena bagai minyak dan air itu. Itu yang agak sulit karena lalu juga harga diri NasDem, PKS dan Demokrat juga hancur lebur kalau seandainya Anies nya turun derajat jadi cawapres. Maka itu kekalahan sebelum perang kira-kira begitu," kata Ujang
Seandainya terealisasikan, duet Ganjar-Anies belum tentu menang. "Jadi saya melihat kalau soal cocok duetnya cocok tapi kalau soal bisa terjadi atau tidak kemungkinan terjadinya kecil karena dua kelompok itu bagaikan minyak dan air," imbuhnya.