Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu menyoroti kemungkinan Partai Gerindra yang menerima Menteri BUMN Erick Thohir menjadi cawapres Ketum Prabowo Subianto memicu gelombang diskusi baru tentang masa depan koalisi.
Keputusan itu dianggap bisa berdampak besar pada PKB, dan mereka sekarang sedang mempertimbangkan pilihan alternatif untuk koalisi mereka.
Hal tersebut ditanggapi Said Didu melalui akun Twitter pribadi miliknya. Dalam cuitannya, Said Didu mengatakan bahwa semuanya masih bergerak sesuai dengan keadaan.
"Semua masih bergerak secara dinamis," ucap Said Didu dikutip Suara Liberte dari akun Twitter pribadi miliknya @msaid_didu, Rabu (7/6).
Sementara itu, diketahui bahwa PKB saat ini bermitra dengan Partai Gerindra dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya dengan mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2024.
Hingga kini, Cak Imin masih dijagokan partainya untuk maju Pilpres 2024.
Usai mendukung Prabowo, PKB pun hendak menduetkan Menteri Pertahanan itu dengan Cak Imin. Cak Imin hakulyakin dirinya berpeluang besar jadi cawapres Prabowo.
Sedangkan terkait sikap Gerindra memasukkan Erick Thohir dalam radar cawapres Ketum Prabowo Subianto, politisi PKB Umar Hasibuan turut merespons.
"Tentunya pernyataan Gerindra itu tidak bijaksana dan menyakiti karena selama ini Gus Imin (Ketum PKB Muhaimin Iskandar) dan PKB terus mengonsolidasikan jaringan untuk Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya," ucap Umar Hasibuan dikutip dari JPNN.
"Bukan sekali ini saja Prabowo terkesan membuat langkah sendiri ketika Gus Imin dan PKB masih menjunjung tinggi kesepakatan Gerindra - PKB," sambungnya.
Bila memang Gerindra menunjukkan langkah meninggalkan kesepakatan, Umar Hasibuan berpendapat PKB tentunya juga punya alternatif koalisi lainnya. Misalnya, dengan merapat ke PDIP atau, bahkan membentuk koalisi baru Golkar - PKB - Demokrat. Mengingat kedekatan hubungan Gus Imin dengan SBY.