Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat, Rachland Nashidik keheranan melihat alasan akan manuver cawe-cawe yang akan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dirinya merasa janggal dengan pengakuan dari kepala negara tersebut yang mengatakan bahwa bangsa ini sedang terancam riak-riak berbahaya jelang Pilpres 2024.
Menurutnya, hal ini justru bertentangan dengan apa yang ditimbulkan oleh niatan cawe-cawe dari Jokowi. Masyarakat dibuat resah karena mendengar hal tersebut.
Rachland mengingatkan, hal seperti ini dapat berakibat pada ketidakstabilan nasional bahkan berujung kerusuhan. Ia mengingatkan presiden akan peristiwa kejatuhan dari Soeharto.
"Nyuwun pangapunten, Bapak Presiden. Mara bahaya itu bentrok massa rakyat seperti di tahun 1998 yang berujung kejatuhan Soeharto," cuitnya dalam akun twitter pribadinya @rachlannashidik, dikutip Suara Liberte, Kamis (8/6/2023).
Politikus ini mengingatkan, Jokowi justru menciptakan riak-riak itu sendiri dengan mencoba untuk ikut campur dalam pesta demokrasi.
"Justru pergantian kekuasaan secara paksa dan berdarah itu yang mau kita hindari, yaitu dengan Pemilu yang bebas dan jurdil, tanpa cawe cawe sampeyan," ungkapnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menegaskan dirinya tetap berniat untuk cawe-cawe, hal ini karena ia tak bisa diam melihat ada riak-riak berbahaya bagi Indonesia.
"Masa (ada) riak-riak yang membahayakan bagi bangsa terus saya suruh diam. Enggak lah," ucapnya dalam sela-sela Rapat Keria Nasional (Rakernas) ke-III PDI Perjuangan (PDIP) di Sekolah Partai DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (6/6/2023).
Baca Juga: Dua Kali Mangkir, KPK Tegaskan Bisa Jemput Paksa Hakim Agung Prim Haryadi Terkait Kasus Suap di MA