Pegiat media sosial Denny Siregar menyinggung perihal Partai Demokrat yang tetap 'ngotot' ingin calon wakil presiden (cawapres) bagi calon presiden (capres) Koalisi Perubahan untuk Persatuan, Anies Baswedan dari partainya sedangkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak mengingkan hal itu.
Adapun saat ini, ada tiga partai politik (parpol) yang tergabung untuk mengusung Anies Baswedan sebagai capres di Pilpres 2024 mendatang. Tiga parpol itu ialah Partai NasDem, Partai Demokrat, dan PKS.
Hal ini ditanggapi Denny Siregar dalam tayangan YouTube 2045 TV. Dalam tayangan tersebut, Denny Siregar mengatakan bahwa Demokrat tetap ngotot ingin cawapres Anies dari Demokrat dan jika tidak, maka adanya pernyataan bahwa Demokrat akan keluar koalisi.
Denny Siregar pun mengungkapkan bahwa koalisi pengusung Anies Baswedan kemungkinan bubar dan imbasnya yakni pada Anies Baswedan gagal jadi capres, apalagi presiden.
"Di sinilah titik masalahnya. Demokrat tetap keras kepala bahwa calon wakil presiden Anies Baswedan haruslah dari Demokrat. Kalau NasDem tetap ingin berkoalisi dengan mereka. Kalau enggak, Demokrat akan keluar dari koalisi dan koalisi perubahan itu sudah pasti bubar, dan Anies gak mungkin dicalonkan jadi presiden," tutur Denny Siregar dikutip Suara Liberte dari tayangan YouTube 2045 TV, Jumat (9/6).
Lebih lanjut, Denny Siregar mengatakan bahwa Demokrat juga memang tidak main-main. Bahkan, Denny Siregar menyebut kalau Demokrat sudah 'main mata' dengan PDIP.
"Demokrat juga nggak main-main. Mereka sudah main mata dengan PDI Perjuangan (PDIP). Buat Demokrat kali ini AHY harus menjabat, entah itu jadi calon wakil presiden dari Anies Baswedan atau jadi menteri di Ganjar Pranowo," ungkap Denny Siregar.
"Dan PDI Perjuangan juga ikut godain NasDem dengan menempatkan AHY sebagai calon wakil presiden mereka. Ini nih yang bikin NasDem ketar-ketir," ungkap Denny Siregar.
Selain itu, Denny Siregar juga mengungkapkan kalau PKS turut bersikeras agar AHY tidak jadi cawapres Anies. PKS pun, kata Denny Siregar sudah siap-siap sekoci penyelamat.
"PKS yang juga bersikeras supaya AHY nggak jadi calon wakil presidennya Anies, sudah siap-siap sekoci penyelamat," ucap Denny Siregar.
Lebih lanjut, Denny Siregar mengatakan kalau PKS sudah berkomunikasi dengan Partai Gerindra untuk ikut gerbong menuju Pilpres 2024.
"Mereka juga sudah komunikasi dengan Gerindra, supaya PKS bisa ikut gerbong di sana dan Gerindra pastilah menyambut baik karena mereka juga butuh gerbong suara supaya Prabowo nanti bisa menang," ujar Denny Siregar.
Denny Siregar menegaskan bahwa ada persoalan jika PKS merapat ke Partai Gerindra. Hal tersebut yakni terkait kontrak politik antara Gerindra dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang diketuai Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
"Tetapi masalahnya, Gerindra sudah terikat kontrak politik dengan PKB dimana di dalam kontrak itu, kabarnya nih ada klausul bahwa yang menentukan calon wakil presidennya Prabowo adalah Muhaimin Iskandar atau biasa dipanggil Cak Imin, Ketua Umum PKB," tegas Denny Siregar.
Menurut Denny Siregar, PKB ini pintar. Merekalah yang pertama bertemu dan mengikatkan diri dengan Gerindra untuk mencalonkan Prabowo sebagai calon presiden.
"Dengan adanya PKB, maka gabungan dua partai saja sudah cukup untuk mencalonkan seorang presiden. Kalau PKB out saja, maka mimpi Gerindra untuk mencalonkan Prabowo jadi presiden hanya mimpi-mimpi saja," ujar Denny Siregar.
Karena kontrak politik itulah, Denny Siregar menilai bahwa PKB memiliki kekuatan untuk 'menyandera' Gerindra. Hal ini lantaran Ketua PKB Cak Imin yang juga digadang-gadang bakal jadi cawapres.
"Tapi dengan ikatan itu, PKB akhirnya punya kekuatan untuk menyandera Gerindra. Sekarang posisi calon wakil presiden pemilihannya juga ada di Cak Imin dimana dia juga pengen dong jadi calon wakil presiden, masa cuma usang-usung mulu," imbuh Denny Siregar.