- IHSG ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.409,6 pada perdagangan Jumat (7/8/2026) akibat aliran dana asing.
- Cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$145,3 miliar pada Juli 2026 akibat pembayaran utang dan intervensi Rupiah.
- Analis memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju level 6.500 pada perdagangan awal pekan depan.
Suara.com - Setelah sukses mencatatkan kinerja gemilang pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk perdagangan Senin (10/8/2026) besok menjadi sorotan utama di kalangan investor, baik ritel maupun institusi di berbagai kota besar di Tanah Air.
Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), IHSG berhasil melesat dan ditutup menguat di level 6.409,6. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 1,04 persen dalam sehari, sebuah lompatan yang cukup signifikan di tengah dinamika ekonomi global.
Penguatan indeks ini secara langsung ditopang oleh aliran dana segar dari investor asing yang membanjiri bursa domestik dengan total nilai beli bersih atau net buy mencapai Rp1,24 triliun.
Secara sektoral, sektor infrastruktur tampil sebagai penopang utama dengan membukukan penguatan terbesar yakni 2,17 persen, berbanding terbalik dengan sektor barang konsumen non-primer yang menjadi satu-satunya zona merah dengan pelemahan 0,69 persen.
Untuk membaca ke mana arah IHSG pada Senin besok, investor perlu mencermati serangkaian sentimen makroekonomi yang menyertai pergerakan pasar.
Dari sisi nilai tukar, mata uang Rupiah berhasil ditutup menguat 0,15 persen, membawanya bertengger pada level Rp17.897 per dolar Amerika Serikat di pasar spot. Penguatan ini memberikan napas lega bagi emiten-emiten yang memiliki eksposur utang dalam denominasi dolar.
Meski demikian, terdapat sentimen domestik lain yang patut diperhatikan, yakni posisi cadangan devisa Indonesia. Data terbaru dari Bank Indonesia menunjukkan adanya penurunan cadangan devisa menjadi US$145,3 miliar pada periode Juli 2026, sedikit menyusut dari posisi US$145,6 miliar pada bulan sebelumnya.
Penurunan ini dinilai masih dalam batas wajar karena utamanya dialokasikan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing guna meredam tekanan dan pelemahan Rupiah lebih lanjut.
Di sektor riil, daya beli dan pergerakan aset properti memberikan sinyal positif. Harga properti residensial di Indonesia dilaporkan tumbuh sebesar 0,69 persen secara year-on-year (YoY) pada kuartal II-2026.
Angka ini sedikit membaik jika dikomparasikan dengan pertumbuhan 0,62 persen YoY pada kuartal pertama. Kenaikan moderat ini mengindikasikan adanya pemulihan permintaan yang lebih kuat di sejumlah kota besar, yang bisa menjadi katalis positif bagi emiten-emiten di sektor properti dan perbankan penyalur KPR.
Beranjak pada analisis teknikal, indikator pergerakan indeks menunjukkan peluang penguatan lanjutan yang cukup terbuka. Secara mingguan, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) IHSG telah berhasil membentuk pola Golden Cross, yang diperkuat dengan posisi histogram MACD yang kini berada di area positif.
Pola ini secara umum dibaca oleh para trader sebagai sinyal kuat untuk tren naik (bullish). Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat indikator Stochastic RSI saat ini telah berada di area jenuh beli atau overbought, yang rentan memicu aksi ambil untung (profit taking) dalam jangka pendek.
"IHSG mendekati level MA20 weekly di sekitar level 6.488. Sehingga jika IHSG dapat menembus level MA20 tersebut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.500 pada pekan depan," tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan terbarunya.
Pandangan optimis serupa juga datang dari MNC Sekuritas. Tim riset mereka memperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dengan target pergerakan di rentang 6.440 hingga 6.544 pada awal pekan ini.
Meskipun tren utamanya adalah menguat, MNC Sekuritas mengingatkan investor untuk mencermati potensi pembalikan arah jangka pendek yang bisa membawa indeks turun ke rentang support 6.371 hingga 6.390.
Untuk memaksimalkan peluang trading pada Senin (10/8/2026), MNC Sekuritas memberikan rekomendasi teknikal pada sejumlah saham pilihan, yakni BULL, BUMI, MLPL, dan SRTG.
Disclaimer: Artikel ini disajikan semata-mata untuk tujuan penyampaian informasi jurnalistik dan edukasi keuangan bagi masyarakat. Seluruh data pergerakan indeks, nilai tukar, dan analisis proyeksi pasar merujuk pada informasi yang berlaku pada saat penulisan dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika pasar modal. Isi pemberitaan ini bukan merupakan saran, rekomendasi mutlak, atau ajakan untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Keputusan investasi di pasar saham menjadi tanggung jawab penuh masing-masing investor.