Loyalis Anies Baswedan, Andi Sinulingga, mengomentari perihal bocornya perihal tim ranger medsos yang disebut-sebut dimiliki oleh Menteri BUMN Erick Thohir.
Beredar di media sosial percakapakan di acara Bocor Alus Politik di kanal YouTube Tempo yang membahas soal tim media sosial Erick Thohir yang membuat tim media sosial untuk Erick Thohir.
Salah satu akun yang mengunggah percakapan tersebut yaitu @BosPurwa. Di dalam potongan video yang ditampilkan, perempuan berambut sebahu mengatakan bahwa di Kementerian BUMN ada grup media sosial yang diberi nama ranger medsos.
Adapun isi grup tersebut yaitu karyawan-karyawan Kementerian BUMN dan perusahaan BUMN yang kebanyakan berasal dari kalangan milenial atau Gen Z.
“Di Kementerian BUMN itu mereka membentuk grup yang namanya ranger medsos tugasnya isinya dulu ini isinya adalah karyawan-karyawan BUMN dan karyawan-karyawan Kementerian BUMN yang milenial,” ujar Jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana.
Adapun tugasnya yaitu untuk memberikan komentar positif di media sosial Erick Thohir serta membentuk opini bahwa Kementerian BUMN di tangan Erick berjaya.
“Tugasnya adalah memberikan komentar positif dan like di medsos-medsosnya Erick Thohir dan juga membentuk opini bahwa Kementerian BUMN ketika dipimpin oleh Erick Thohir ini lymayan berjayalah gitu,” sambungnya.
Namun, hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan dari Erick Thohir maupun pihaknya terkait hal ini.
Menanggapi hal tersebut, Andi menyindir Erick yang membuat serdadu opini untuk dirinya sendiri namun menggunakan uang rakyat.
“Enak sekali ya, bikin serdadu opini untuk diri sendiri, tapi biayanya pakai uang rakyat, Culas,” ujar Andi, dikutip Suara Liberte dari akun Twitter @AndiSinulingga pada Senin (10/7/2023).
Sementara itu, dalam sebuah talk show pada Jumat (31/12/2023) Erick menilai media sosial sebagai alat untuk mengontrol atau menjaga keseimbangan di antara lembaga-lembaga dan masyarakat.
Ia tak memungkiri saat dirinya masih menjabat sebagai Presiden Intermilan pada 2014 silam ada pujian ketika timnya menang dan ada makian ketika timnya kalah.
“Saya setuju ini bagian dari check and balance, ya sama ketika punya klub bola ya nasibnya sama, menang dipuji puji, begitu kalah di maki maki. Dan perasaan itu kalau di bola seperti kalah enggak bisa tidur, seri kenapa gak bisa menang, menang senyum-senyum sendiri jadi sama di Medos itu,” ujar Erick, dikutip dari medcom.id.