Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah resmi melantik Budi Arie Setiadi untuk menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika. Namun masyarakat bukannya bahagia justru malah merasa kecewa.
Sejumlah elemen masyarakat menyuarakan hal ini dalam media sosial, rupanya karena mereka menilai jabatan tersebut tidak cocok dengan rekam jejak yang dimiliki oleh Budi Arie. Salah satunya adalah Noval Assegaf.
Penggiat media sosial ini mengatakan bahwa lagi-lagi presiden mengangkat seseorang bukan berdasarkan kompetisinya, tetapi malah karena bagi-bagi politik.
"Bagaimana negara ini bisa maju jika Menteri diangkat bukan karena mempunyai keahlian pada bidangnya tapi karena bagi-bagi," tegasnya, Senin (17/7).
Tak sedikit netizen yang merespons unggahan ini dengan hal yang sama, mereka masih menunggu jabatan pemerintahan terisi oleh sosok yang ahli dalam hal terkait.
"Jika suatu jabatan diserahkan bukan pada ahlinya, tunggulah, dah cape nunggunya," ungkit dari @AdGigih.
"Makin rusak negara kalau diurus teamses maupun petugas partai tanpa jelas rekam jejak kemampuannya," balas dari @ibach77
Usut punya usut, Budi Arie sendiri memiliki rekam jejak yang mumpuni, sebelumnya ia adalah Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT).
Rupanya ia juga lulusan dari pendidikan sarjana di Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI). Dia pernah menjadi redaktur pelaksana Majalah Suara Mahasiswa UI pada 1993-1994. Dia juga aktif mengelola mingguan Media Indonesia pada 1994-1996.
Budi Arie juga pernah menjadi ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FISIP UI tahun 1994 dan Presidium Senat Mahasiswa UI tahun 1994/1995.