"Meski Anies juga berangkat dari latar yang sama, tetapi hasil survei dari kalangan kritis kampus ini memperlihatkan realitas yang berbeda. Begitu pula Prabowo Subianto yang bisa dipahami oleh sebab pengalamannya belum begitu teruji sebagai kepala daerah," ujarnya.
Kendati demikian, kondisi ini masih sangat dinamis dan selisihnya juga diperkirakan tak berbeda jauh dengan survei-survei lainnya.
"Tetapi, hal menarik adalah indikator yang disajikan oleh LPI berbeda dengan riset mengenai preferensi dukungan dari lembaga survei lainnya," tutur Kusnanto.
Selain itu, Dewan Pakar The Habibie Center Indria Samego melihat elektabilitas para capres masih dinamis dan belum ada kepastian. Hanya saja Indria berharap siapa pun yang terpilih harus melanjutkan pembangunan era Jokowi dan melakukan perbaikan sehingga tidak perlu melakukan dikotomi antara diksi keberlanjutan dan perbaikan.
"Siapa pun terpilih, secara demokratis bisa diterima dan secara politis tidak ada pihak yang terlalu dirugikan. Yang terpenting, di dalamnya harus ada kelanjutan dan perbaikan," pungkas Indria.
Untuk diketahui, survei terbaru Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) menunjukkan bakal calon presiden (capres) Ganjar Pranowo menjadi capres ideal versi milenial kampus.
Ganjar mengungguli dua pesaingnya, yakni Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan bakal capres Anies Baswedan.
"Dari semua indikator yang diukur, Ganjar unggul dengan angka 36,18 persen, Prabowo Subianto mendapat nilai 33,75 persen, dan Anis Baswedan mendapat nilai 30,07 persen," ujar Direktur LPI Boni Hargens.
Baca Juga: Pamer Paha Mulus, Intip 10 Pemotretan Terbaru Nathalie Holscher Usai Lepas Hijab